
Keesokan paginya, perut Laluna terasa diaduk-aduk ketika mencium aroma bawang dari masakan yang dibuat salah satu asisten rumah tangganya di lantai satu. Entah mengapa indera penciumannya menjadi lebih tajam beberapa akhir ini.
Merasa jika perutnya bergejolak, membuat Laluna segera berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya. Benar saja sesaat kemudian tidak terasa Laluna muntah-muntah.
Bukan mengeluarkan makanan ataupun yang lainnya akan tetapi ia justru memuntahkan cairan yang kental berwarna kekuningan mirip dengan orang yang terkena asam lambung.
Dahulu Laluna pernah mengalami sakit yang sama dan ia mengira jika asam lambungnya kambuh.
Apalagi semalam ia baru mengkonsumsi makanan yang menurutnya sangat pedas. Mungkin karena itu perutnya sekarang terasa sakit dan terus menerus merasa sakit.
Sean yang belum pulih kesadarannya merasa terkejut saat tangannya meraba-raba di atas tempat tidur dan ternyata istrinya tidak berada di sana.
"Kemana Laluna pergi?"
Instingnya merasa jika ada sesuatu hal tidak beres. Dengan segera Sean membuka mata lalu mencari keberadaan Laluna dengan memanggilnya. "Sayang, kamu di mana?"
Samar-samar terdengar suara orang yang sedang muntah dan gemercik air dari kamar mandi.
"Mungkinkah ia berada di kamar mandi?"
Mendengar hal itu Sean bergegas menyibak selimut dan menyusul Laluna. Sesuai dugaan terlihat Laluna di dalam kamar mandi.
Saat ini salah satu tangan Laluna berpegangan pada bathub, sementara punggungnya membungkuk sambil terus muntah-muntah. Tentu saja Sean panik karena hal itu.
Lalu ia membantu Laluna dengan memijit tengkuk dan mengusap punggungnya agar lebih terasa nyaman.
"Bagaimana, apakah kondisinya sudah membaik?"
Jangankan untuk berbicara untuk bergerak pun rasanya sudah tidak bisa. Kepalanya terasa pusing, sedangkan terlihat kaki dan tangan Laluna bergetar. Sean yang begitu perhatian langsung menggendong ke Laluna dan membawanya kembali ke kamar.
Tangannya terulur untuk mengusap kening Laluna, dan bekas air muntahan yang masih tersisa di bibir Laluna dengan tisu.
"Kamu sakit? Kok diam? Ngomong dong, Sayang ...."
__ADS_1
Laluna tidak menjawab pertanyaan dari suaminya dan terus memegangi perut.
Dari sikap yang ditunjukkan oleh Laluna, Sean bisa menyimpulkan jika istrinya sedang mengalami sakit perut.
Lalu dengan sigap ia mendial nomor dokter Richard untuk memintanya datang ke rumah.
"Hallo ...." sapa dokter Richard dengan gaya santainya.
"Datang ke rumahku sekarang, istriku sedang sakit!"
"Astaga, si Mr. Arogant?" gumamnya.
"Aku beri waktu dua puluh menit, dari sekarang!"
"Oke!"
Meskipun mulutnya berkata iya, tetapi hatinya menjerit dan tidak terima.
"Harusnya aku tidak menerima panggilan telepon darinya," gumamnya.
Namun, seperti biasanya mulut dokter Richard yang terbiasa mengomel sepanjang perjalanan menuju kamar Sean dan Laluna. Sean tidak mempedulikan hal itu karena sudah terbiasa dokter Richard.
Sambil menunggu dokter Richard memeriksa istrinya, kini Sean berpangku tangan sambil menunggu hasil yang diberikan oleh temannya tersebut.
"Bagaimana, apa ada yang salah dengan istriku?"
Dokter Richard menghela nafasnya.
"Sepertinya kamu harus membawa istrimu ke dokter Obgyn. Karena hal ini bukanlah bidangku, tetapi aku mengetahui jika hal seperti ini lebih cocok kamu bawa ke dokter Obgyn."
Bukannya percaya, Sean justru berdecih karena ucapan sahabatnya barusan.
"Cihh, katanya dokter hebat. Hal seperti ini saja tidak bisa menyimpulkan!"
__ADS_1
"Hei, Tuan Sein Alinskie yang terhormat, perlu digaris bawahi jika setiap dokter itu memiliki bidang keahliannya masing-masing, dan hal seperti ini berkaitan dengan dokter kandungan."
"Jika kau ingin memastikan keadaan istrimu, sebaiknya kau bawa saja ke dokter yang aku rekomendasikan."
Merasa jika Sean sudah kambuh sikap arogantnya, maka dokter Richard berdiri dengan segera.
"Maaf waktuku terlalu penting jika hanya untuk mengurus hal-hal seperti ini, aku pamit," ucap dokter Richard sambil melenggang pergi.
"Berani kau melangkahkan kakimu, satu langkah saja! Maka kamu akan aku keluarkan dari Rumah Sakit milikku."
Tangan dokter Richard mengepal.
"Dasar orang kaya, bisanya cuma mengancam terus. Jika kau berani, lakukanlah! Maka dengan senang hati aku akan melamar pada Rumah Sakit yang lain."
Laluna yang sedang kesakitan merasa kesal karena suami dan sahabatnya itu bertengkar di hadapannya. Bukannya menyelesaikan masalah tetapi justru menambah beban pikirannya dan membuat perutnya semakin sakit.
"Cukup! Jika kalian ingin bertengkar, sebaiknya pergi dari ruangan ini!"
"Hadeh, nyonya besar marah!" gumam dokter Richard sambil mengambil langkah seribu.
"Sudah, cukup aku yang merasakan sakit! Jangan ditambah lagi dengan mendengar pertengkaran kalian!" ucap Laluna kesal.
Dengan segera Sean mendekati istrinya dan meminta maaf dengan segera.
"Sayang, maafkan aku!"
"Maleezz."
......................
Harusnya Sean tahu jika orang sedang hamil itu emosinya sedang labil. Maka dari ia seharusnya lebih sabar lagi, betul 'kan ibu-ibu?"
Hei, sambil nunggu Sean dan Laluna up, silakan mampir ke karya teman literasi Fany.
__ADS_1