MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 21. MASA LALU


__ADS_3

Beruntung Laluna bisa bertahan, meskipun masih sakit, Laluna mencoba mencari makanan di luar rumah. Bibi Chen yang dulu pernah menjadi tetangga Laluna menegurnya.


"Luna? Benarkah itu kamu?"


Pakaian Laluna yang kotor, belum lagi pakaian yang terdapat noda merah membuat hati Bibi Chen miris. Dengan segera ia mendekati Laluna.


"Ada apa denganmu? Ayo masuk ke rumah Bibi, biar Bibi yang merawatmu."


Badan yang letih dan lemas membuat Laluna mengikuti langkah Bibi Chen. Dengan telaten ia merawat Laluna selama beberapa hari hingga sembuh.


"Bibi, sebaiknya aku pergi, ada sesuatu hal yang ingin aku selesaikan terlebih dahulu."


"Lalu kemana kamu akan pulang?"


"Untuk sementara waktu biarkan aku tinggal di rumah ibu yang lama."


"Tapi, rumah itu terlalu usang, Bibi takut jika kamu tinggal di sana, bangunannya tidak cukup kuat."


Kecemasan terlihat di kedua mata tuanya. Laluna memegang tangan Bibi Chen.


"Aku yakin, jika aku akan lebih merasa aman jika tinggal di sana."


Bibi Chen memeluk Laluna. "Jika itu keinginanmu, lakukanlah! Akan tetapi jika kamu butuh bantuan Bibi, datanglah kemari."


Laluna mengangguk, setelahnya ia benar-benar pergi. Sejak Laluna memutuskan untuk kembali ke desa. Ia hanya bisa meratapi nasibnya, karena ternyata melupakan masa lalu itu teramat sulit. Seperti menghapus tinta hitam di atas air.


Apalagi bayangan kekejaman sang ayah yang telah melakukan kekerasan terhadap ibunya, tidak pernah bisa terhapus oleh waktu. Terlebih saat ini ia berada di tempat yang sama dengan beberapa tahun silam.


"Jangan lakukan itu, Ayah!" teriak Laluna kecil.

__ADS_1


Namun, balok kayu itu lebih dulu mengenai leher Ibu Luna hingga terjatuh ke lantai. Mulutnya penuh dengan cairan berwarna merah yang sangat pekat. Begitu pula dengan hidung dan telinga miliknya.


Laluna kecil segera berlari ke arah ibunya yang sudah meregang nyawa beberapa detik yang lalu. Tangisnya pecah manakala ia melihat kekejaman ayahnya secara langsung.


"Ke-kenapa Ayah melakukan semua ini?"


Bibir kecil itu bergetar. Air matanya mengalir menganak sungai. Belum sempat ia memeluk ibunya untuk terakhir kali, tangan kecilnya ditarik oleh Tuan Han agar mengikutinya.


"Ayah, aku ingin bersama ibu," ucapnya sambil terisak.


Kedua matanya masih menoleh ke arah belakang. Kaki-kaki kecilnya terus dipaksa untuk tetap berjalan meninggalkan jasad ibunya. Tenaga kecilnya tidak sanggup melebihi kekuatan ayahnya, sehingga ia hanya bisa pasrah.


Saat belum sampai di mobil, Tuan Han meminta anak buahnya untuk membereskan tempat itu, agar terlihat jika istrinya meninggal dengan cara bunuh diri. Kejam, itulah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kejamnya sikap sang ayah.


Laluna kecil masih tampak lemah, kedua mata kecilnya bengkak. Sepersekian detik berikutnya datanglah seorang wanita yang memeluk ayahnya. Laluna hanya tertegun melihat pemandangan itu.


Tuan Han mengangguk setuju. Wanita itu tersenyum pada Laluna kecil lalu datang menghampiri. Ia berjongkok di hadapan Laluna dan mengusap lembut kepalanya. Hal yang tidak bisa Laluna kecil terima adalah ketika dia mengaku sebagai ibu sambung untuknya.


"Hai, anak manis, kenalkan aku ibu sambung untukmu. Mulai sekarang panggil aku ibu, ya."


Kedua mata kecil Laluna bergantian memandangi wanita yang akan menjadi ibu sambung untuknya. Ingin rasanya ia menolak kehadirannya, tetapi tatapan tajam dari ayahnya membuat Laluna bungkam. Di saat Laluna masih bengong, tiba-tiba tubuh kecilnya terangkat. Ternyata dia menggendong Laluna kecil.


"Ayo pulang sama Ibu, nanti beli mainan yang banyak agar kita bisa bermain bersama."


Hari itu seorang wanita datang dan mengaku sebagai istri sah ayahnya. Saat itu ia langsung menjadi Nyonya Han. Bukan hanya itu, penderitaan Laluna bertambah ketika ia datang bersama dengan seorang anak kecil yang usianya jauh lebih tua dibanding dirinya. Ialah Angel.


"Nah, itu adalah kakak kamu, jadi sekarang kamu tidak akan kesepian lagi. Ada Ayah, Ibu dan juga kakak perempuan kamu," ucapnya gemas sambil menciumi pipi Laluna.


Tangan Laluna hendak menepis tangan wanita itu, akan tetapi ia begitu takut jika tindakannya akan menyinggung perasaan ayahnya.Terlebih ia masih ingat bagaimana saat Tuan Han baru saja menghilangkan nyawa sang ibunya.

__ADS_1


"Akan aku simpan kesakitan ini. Sampai dimana aku suatu saat aku pasti akan membalasnya," ucap Laluna kecil di dalam hati.


Laluna kecil harus menjadi saksi bagaimana kerasnya sang Ayah kandung saat menyiksa ibu Laluna. Seringkali rasa sakit itu menyerang Laluna hingga membuatnya terjatuh di lantai.


Saat ini, Laluna memegang di tembok rumahnya, seolah sedang mulai membaca masa lalu yang harusnya ia lupakan, tetapi justru berputar kembali seperti kaset usang yang sengaja diputar agar semua kenangan buruk itu tidak pernah bisa dilupakan oleh Laluna.


"Sampai kapan aku bisa terlepas dari bayangan masa lalu yang kelam ini?"


Dulu ia bisa menjadi tegar saat semuanya telah terjadi. Namun, ternyata ada kalanya sisi lemahnya mendominasi. Terlebih saat ini Laluna hanya sendiri. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Mr. Arogant meskipun terkadang ia amat menyebalkan.


Ketika penolakan Tuan Han itu dilakukan secara berulang, hal itu membuat Laluna marah sedih dan juga kecewa bercampur menjadi satu.


"Kalau aku tidak bisa bahagia, maka aku pastikan kalian juga tidak akan bisa bahagia!" ucapnya geram.


"Bagaimana kalian bisa bahagia jika aku masih terluka, aku tahu harta telah menjadi patokan kebahagiaan untuk kalian, tetapi jika harta itu habis apakah kebahagiaan masih bisa kalian raih?"


Beberapa kali Laluna tampak memukul-mukul dadanya. Ia merasa sesak karena tidak bisa melanjutkan pertahanan hidup yang telah ia lakukan sejak beberapa tahun akhir ini. Air mata Laluna luruh.


"Aku tidak menyangka jika kasih sayang kalian hanya diukur berdasarkan harta dan kasta. Aku yakin jika karma itu ada dan semoga jika saat itu tiba aku masih bisa melihat bagaimana tangan Tuhan menghukum kalian."


Hari itu Laluna benar-benar meluapkan semua isi hatinya yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun. Bagaimana pun Laluna manusia biasa, yang terkadang mempunyai sisi rapuh.


Selepas meratapi nasibnya, Laluna bergegas kembali ke rumah lama. Meskipun air matanya belum mengering, ia tetap melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalan desa.


Setelah sampai, ia menutup rapat rumah itu, menangis dibalik kegelapan malam dan tidak ada seorangpun yang tahu betapa rapuhnya Laluna saat itu.


Tidak ada yang bisa diajak berbagi saat ini, bahkan tetangganya pun tidak pernah menganggap dirinya ada. Meskipun selama beberapa hari ini ia sudah tinggal di pemukiman tersebut. Ia juga begitu malu jika harus kembali merepotkan Bibi Chen. Maka dari itu Laluna lebih memilih untuk tetap bertahan meski sakit.


"Biarlah aku menyimpan kesakitanku sendiri ...." ucapnya lemah.

__ADS_1


__ADS_2