
Ketikan nama Laluna dijelekan oleh Angel, seketika amarah Sean tidak terbendung lagi ia dengan segera menampar pipi Angel hingga membuatnya kesakitan.
"Turun segera dari mobilku atau aku lempar!"
"Sean ... aku sakit!" rintih Angel
Sean sama sekali tidak memperdulikan kesakitan Angel dan tetap memintanya untuk turun.
"Turun!" ucap Sean penuh amarah.
Terpaksa Angel keluar dari mobil Sean. Belum sempat Angel menyentuh pintu mobil untuk berpamitan, ternyata Sean segera menginjak gas mobilnya dan melaju kencang meninggalkan tempat Angel berdiri. Untung saja Angel tidak terseret badan mobil.
Sementara itu, Chryst sedang bersama Tuan John. Menemani beliau untuk minum teh di waktu sore yang cukup cerah. Chryst mencoba ramah terhadapnya.
"Bagaimana keadaan Papa?"
"Seperti yang kamu lihat, Papa baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu. Oh, ya Pa, tadi aku sempat melihat Sean bersama Angel."
"Angel calon istri kamu?"
Chryst mengangguk perlahan, wajahnya terlihat sendu.
"Bukankah menurut Papa, Laluna adalah calon istri yang baik untuk Sean, tetapi Sean malah selingkuh dengan calon istriku."
"Apa kamu bilang? Sean bersama Angel? Bukankah dia tahu jika kamu calon suaminya, kenapa masih mendekati Angel? Kurang apa Laluna itu?"
Terlihat sekali jika Tuan John merasa kesal dengan sikap Sean kali ini. Padahal sebelumnya Sean terlihat sama seperti dulu. Namun, sejak dia kecelakaan mungkin saja sudah berubah dan Tuan John sudah tidak terlalu mengenalnya lagi.
"Tenanglah, kalau untuk Sean, biar Papa yang menghukum dia!"
"Jangan, Pa. Sean masih belum pulih, lagi pula saat ini ia terlalu sibuk."
"Kamu jangan khawatir, biarkan dia belajar tentang apa arti sebuah keluarga. Mana ada keluarga yang menikung anggota keluarganya sendiri."
"Terima kasih, Pa."
"Hm."
Belum sempat Chryst pergi dari hadapan Tuan John, ternyata Sean baru saja pulang. Dengan senyuman yang hangat, ia langsung menyapa ayahnya.
"Selamat sore, Pa. Wah, sepertinya kalian sedang minum teh bersama. Bolehkah aku ikut bergabung."
Tuan John sama sekali tidak bergeming atas ucapan putranya tersebut. Padahal biasanya ia ramah. Tatapan tidak bersahabat ia dapatkan dari papanya.
Tuan John segera menghujani Sean dengan berjuta pertanyaan. Hingga sampailah pada sebuah moment yang membuat Sean marah.
__ADS_1
"Katakan padaku, kamu lebih memilih Laluna atau Angel?"
Kesalah pahaman antara Sean dan Laluna berlanjut. Laluna memutuskan semua akses untuk Sean.
"Jika kamu bisa melakukan begitu, maka aku pun bisa memutuskan hubungan denganmu!"
Laluna memblokir nomor ponsel Sean. Semua akses untuk Sean benar-benar ditutup olehnya. Bahkan Jordy dan Tya tidak boleh membocorkan kemana Laluna pergi.
"Kamu benar-benar serius pengen meninggalkan Mr. Arogant-mu itu? Kamu nggak menyesal, gitu?"
Laluna menoleh ke arah Tia sekaligus menggeleng.
"Aku tidak menyesal, daripada aku semakin diduakan aku lebih memilih untuk pergi dan tidak menyakiti yang lainnya. Sudah cukup aku menderita saat ini."
Padahal Sean sedang terjebak akan rencana Angel dan Chryst. Sean masih merasakan jika pipinya terasa panas akibat tamparan dari ayahnya. Tidak pernah ayah angkatnya melakukan hal seperti ini dan baru pertama kali.
Namun, Sean tidak tinggal diam ia pun mencoba untuk menghubungi Laluna.
"Sial, kenapa tidak bisa?" umpatnya kesal sambil memandangi ponselnya.
Sean mencoba kembali untuk menghubungi namun justru panggilannya tidak tersambung. Ia lantas menyuruh Jo untuk mencoba menghubungi Laluna, anehnya nomor Jo justru tersambung.
"Apakah Lun-Lun benar-benar marah? Tetapi ia tidak pernah seperti ini?"
Sean menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ditatapnya langit-langit kamar malam itu. Biasanya jam segini ia bisa bersama Laluna meski hanya untuk memandang bintang-bintang di langit. Apapun yang mereka lakukan selalu berkesan. Apalagi kehangatan kasih sayang yang tulus darinya membuat karakter arogant darinya perlahan memudar.
"Ingin rasanya aku teriak memanggil namamu, Laluna, di mana kamu?"
"Jangan pergi, Laluna!" teriak Sean ketika terbangun dari mimpinya.
Ia mengusap gusar wajahnya. Sean benar-benar merutuki sikapnya yang membiarkan Angel datang siang tadi hingga membuat kesalahpahaman terjadi pada hubungan cinta antara ia dan Laluna.
Keesokan harinya.
Laluna sudah menunda kedatangannya untuk mengambil hadiah di dalam kejuaraan lomba desain tempo hari. Ia benar-benar tidak sempat. Beruntung pihak penyelenggara tetap menyimpan hadiah itu untuknya.
"Aku harus mengambilnya sekarang. Aku sangat membutuhkan uang itu saat ini."
"Selamat pagi, Luna," sapa Tia ramah.
"Pagi, menu sarapannya menggoda banget, boleh dicicipi nggak?"
"Tentu saja boleh, yuk ah."
Tidak berselang lama, Jordy ikut bergabung. Akhirnya ketiganya sarapan bersama. Di sela-sela acara sarapan Jordy dan Tia menanyakan apakah Laluna benar-benar ingin pergi atau tidak.
Ternyata keinginan Laluna sangat besar. Kedua pasangan itu saling memandang satu sama lain. Ada rasa tidak rela ketika harus melepaskan orang berbakat seperti Laluna.
__ADS_1
Kebersamaan mereka selama beberapa bulan membuat ketiganya sudah seperti keluarga.
"Apakah kemarin kamu benar-benar bisa menghubungi nomor Laluna?"
"Serius Pak Bos, suer, deh!"
"Ok, lalu apa yang kalian bicarakan?"
"Nggak ada, setelah tersambung aku hanya mengucapkan selamat malam saja."
"Astaga!"
Sean menepuk jidatnya.
"Ya, 'kan biar nggak ada kesalahpahaman di antara kami, Pak Bos."
"Asem! Kamu mengataiku!"
"Ora kih, jan suwer Pak Bos."
"Awas kon ngapusi, tak geprek!"
Seketika dua orang itu menggunakan bahasa planet untuk berkomunikasi. Untungnya bahasa itu hanya dimengerti keduanya. Bahkan salah satu karyawan yang hendak masuk hanya bisa melongo di depan karena tidak paham dengan percakapan mereka. Sejenak Jo mengetahui ada orang ketiga di sana dan menegurnya.
"Mau apa kamu, Rose?"
"Mau serahin berkas, Pak. Saya permisi!" ucapnya ketika melihat kedatangannya tidak tepat.
"Selama aku aku tidak bisa berkomunikasi dengan Laluna maka kamu aku tugaskan secara khusus untuk menjaganya jangan sampai ia mengetahui jika aku yang mengutusmu."
"Oke Pak Bos kalau soal itu dijamin beres!"
"Nih uang makannya, kalau kurang utang dulu!"
"Astoge, Bos kok pake ngutang!"
Selama perang dingin berlangsung Leo semakin mendekati Laluna. Hal itu membuat salah paham antara Sean dan Laluna tidak kunjung usai. Meskipun begitu, di dalam hati keduanya tidak pernah padam api cinta mereka.
"Sebagai seorang sahabat di saat ulang tahunku besok kamu harus hadir!"
"Oke, baiklah. Aku akan berusaha hadir demi persahabatan kita."
Tanpa sepengetahuan siapapun, saat ini Leo dan Laluna bersahabat. Leo pula yang menghalangi ketika Laluna benar-benar ingin pergi dari kota itu. Pada saat ulang tahun Leo, Laluna benar-benar hadir.
Gaun yang dipakai Laluna adalah sebuah gaun yang dipesan khusus oleh Leo untuk Laluna. Saat mengenakan gaun itu kecantikan Laluna terpancar. Banyak orang yang memuji kecantikan Laluna.
Kedua mata Sean bahkan tidak berkedip saat memandangnya. Namun, dari sudut ruangan ternyata Angel juga hadir ia sudah menyiapkan rencana khusus untuk membuat lalu nama lu di depan para tamu undangan.
__ADS_1
Angel secara sengaja menjatuhkan pelicin lantai di depan pintu masuk ke ruangan dansa. Kebetulan saat itu yang akan masuk adalah Laluna dan Leo. Saat menginjak lantai tersebut Laluna tergelincir dan pada saat itu Sean yang lebih dulu menggapai tubuh Laluna.
"Kau tidak apa-apa?"