
Sesuatu yang telah dipersiapkan beberapa hari yang lalu akhirnya sudah tiba. Hari ini bertepatan dengan hari jadian antara Laluna dan Sean yang ke empat.
Bukan tanpa sebuah alasan Sean melakukan semua ini demi Laluna. Baginya semua keinginan Laluna selama ia bisa memenuhinya maka gunung dan lautan pun akan dibelikan untuknya.
Cinta dan ketulusan hati memang susah dicari, akan tetapi harta dan kedudukan bisa diusahakan dengan penuh kerja keras. Bagaimanapun setiapa manusia selalu punya rasa dan obsesi yang berdampingan.
Selama kita bisa mengaturnya secara baik. Maka semua itu bukanlah hal yang sulit.
"Semua keinginan hatimu sudah terbaca di dalam kedalaman mata indahmu. Aku memang bukan seseorang yang sempurna, akan tetapi kesempurnaan diriku adalah ketika aku bisa hidup bersamaku."
Ingin rasanya kata-kata indah dan penuh puisi terucap untuk kekasih hatinya itu. Akan tetapi semuanya sirna ketika melihat Laluna tidak sabaran dan mengomel sepanjang jalan.
Tidak terasa sudah empat bulan mereka bersama. Sebuah hadiah spesial sudah dipersiapkan oleh Sean sebagai bukti nyata bahwa ia benar-benar mencintai Laluna.
"Kita mau kemana, sih? Pedes nih matanya ditutup mulu dari tadi. Kalau kelamaan ditutup nanti aku bisa mual tahu!"
Laluna memang marah karena menurutnya janji awal yang diberikan Sean hari ini adalah kencan spesial. Oleh karena itu ia berdandan habis-habisan, dan ternyata semua make up yang sudah dipersiapkan olehnya menjadi rusak akibat penutup mata tidak keren yang diberikan Sean sejak ia menginjakkan kakinya di atas mobil.
"Kalau tahu begini, nggak bakalan deh aku berdandan cantik. Toh ujung-ujungnya sama aja, pergi ke tempat yang nggak jelas. Mana pake penutup mata segala! Dasar kelakuan!" pekik Laluna kesal karena tidak kunjung sampai di tempat tujuan.
Namun, ocehan Laluna dari tadi sama sekali tidak dihiraukan oleh Sean. Ia tetap fokus pada jalan menuju bekas rumah Laluna yang telah terjual.
"Anggap ocehan calon istrimu adalah cara kamu belajar bersabar ketika nanti ia mengidam!'" batin Sean di dalam hati.
Bagaimanapun ocehan Laluna adalah sebuah obat mujarab bagi Sean di sela-sela kesibukannya bekerja.
"Tidak ada ocehan Laluna maka bisa dipastikan hidup Lo nggak asyik!" ucap Frans pada Sean beberapa waktu yang lalu.
Sean terkikik ketika mengingat ucapan dari sahabatnya tersebut.
"Ada benarnya juga ucapan dari Frans, nggak sia-sia aku menjadi sahabat karibnya. Setidaknya tuh papan selancar nggak ganggu hubungan gue sama Laluna lagi!"
Beberapa saat setelah ia kehilangan Laluna, saat mengetahui jika rumah itu justru terjual membuat Sean murka. Bagaimana pun tempat itu sangat banyak menyimpan kenangan masa lalu Laluna. Tanpa Laluna tahu, Sean mengerti jika rumah itu begitu berarti untuknya. Tidak berapa lama kemudian, ia membelinya demi dijadikan hadiah untuk Laluna.
Sean memang sengaja membuat Laluna jengkel dengan sikapnya.
"Sean, kamu dengar atau berlagak budek, sih? Nyebelin tahu!"
__ADS_1
"Udah ngomel dari tadi masa nggak lelah, sih. Aku bilang tidur ya tidur aja!" ucap Sean nggak kalah menyebalkan.
Sebenarnya Sean tidak tega melihat Laluna yang dari tadi mengomel, karena sejak ia masuk ke dalam mobil sampai saat ini, penutup matanya masih belum dibuka. Sean sengaja melalukan hal itu agar rencana kejutannya berhasil dengan sempurna.
Laluna menoleh kesal terhadap Sean, "Kamu tuh ya nggak pernah berubah! Selalu seenaknya sendiri! Males aku pokoknya aku marah sama kamu!"
"Mau marah atau enggak ya terserah, yang penting aku lagi mode kalem dan baik hati."
"Dih, nyebelin!"
Laluna yang dalam mode marah segera bersedekap tangan, ia membuang wajahnya ke arah jendela meski kedua matanya masih dalam keadaan tertutup.
Rasa dongkol di dalam hatinya tidak bisa terbayarkan hanya dengan ucapan manis dari Sean. Beruntung tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Sean telah sampai di tujuan.
Masih dengan menutup kedua mata Laluna, Sean menggandeng lengan Laluna untuk berjalan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, langkah kaki mereka terhenti. Sean dengan perlahan mencoba membuka penutup mata milik Laluna.
Kabur, adalah hal yang bisa dirasakan oleh Laluna. Bukanlah sebuah rasa kekaguman yang diimpikan oleh Sean. Ketika pandangan matanya mulai bisa melihat dengan jelas, hati Laluna bergetar hebat. Rasa harunya tidak terbendung lagi.
Sebuah tulisan yang berbunyi, "Selamat datang Laluna, welcome in your home." Mampu membuat buliran kristal bening menghiasi kedua pipi milik Laluna.
"Rumah ini sudah aku beli dari rentenir itu dan kini telah menjadi milikmu seutuhnya."
"Ja-jadi ...."
Ucapan Laluna masih terputus-putus.
"Jadi selamanya kita bisa tinggal di sini bersama."
Tangisan kebahagiaan luruh sudah. Laluna benar-benar tidak menyangka bisa datang ke tempat itu lagi. Baginya ini seperti sebuah mimpi saat bisa berada di tempat itu lagi. Sebagai ucapan syukur untuk semua yang telah diberikan oleh Sean padanya, Laluna berjanji akan menjaga cinta mereka abadi untuk selamanya.
"Bagiku, sudah cukup memilikimu seorang, jadi jangan pernah lagi mencoba pergi dariku. Satu bulan lagi acara pernikahan kita akan digelar, aku berharap kamu tidak menolak permintaan dariku ini."
Laluna tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mengangguk untuk hal itu. Memang sebuah cinta tidak harus selalu diucapkan, melainkan butuh sebuah pembuktian dan tidak bisa instan.
Beberapa hari setelahnya. Kedua muda-mudi itu kembali disibukkan dengan acara penobatan Leo sebagai Chief Executive Officer yang baru. Bagi Sean beban tanggung jawabnya sudah usai. Ia lebih memilih untuk mendirikan sebuah perusahaan dengan calon istrinya, Laluna.
"Apakah kamu tidak akan menyesal dengan menyerahkan semua ini padaku?" tanya Leo ragu-ragu.
__ADS_1
"Kenapa harus ragu. Selama sebulan ini kamu telah menunjukkan keseriusanmu dalam mengelola bagian keuangan perusahaan. Jadi tidak mungkin pilihanku salah."
Tuan John tersenyum ke arah Leo dan juga Sean. Ada sebuah rasa haru tidak dapat didefinisikan oleh kata-kata. Ia benar-benar bersyukur karena dulu telah mengadopsi Sean di tengah keputusannya.
"Meskipun saat ini aku harus pergi, aku sudah merasa tenang karena setidaknya dengan keputusanku itu bisa membuat putra kita lebih bertanggung jawab. Setidaknya masih ada Leo yang bisa menghandle perusahaan kita."
Sean memang hanyalah anak adopsi, tetapi ia adalah sesuatu yang sangat istimewa untuk Keluarga John. Maka dari itu Tuan John tidak pernah membedakan antara anak kandung dan anak tiri. Laluna juga turut bersyukur bisa menjadi bagian dari Keluarga Alinskie.
"Oh, ya. Bukankah hari ini kalian ada fitting baju pengantin? Kenapa tidak segera berangkat?"
"Kata Tante Lala, hari ini dia ada urusan, makanya pertemuannya ditunda."
"Ya, sudah kalau begitu. Aku permisi dulu, kalian teruslah berbincang-bincang."
"Terima kasih, Pa," seru ketiga orang anak muda di sana.
Ketiga muda-mudi itu sedang membahas proyek tentang peluncuran produk baru. Banyak ide yang diberikan oleh Laluna agar suasana tidak terlalu monoton setiap tahunnya.
"Seharusnya sejak dulu aku tidak membencimu, tahu begitu kamu aku rekrut saja sebagai bagian dari salah satu staff design."
Sean merangkul bahu Laluna, "Kalau sejak dulu Abang sudah kenal sama Laluna dengan baik, tentu saja tidak akan ada cerita di hari ini."
"Ha ha ha, betul juga."
"Sudah, sudah, biarkan aku membuatkan makanan buat kalian, bagaimana?"
"Boleh, memangnya mau makan apa?"
"Bagaimana kalau bikin hot pot saja?"
"Ha-ah?"
Sontak kedua kakak beradik itu saling menatap satu sama lain.
"Mam-pus Lu!" ejek Leo pada adiknya itu.
"Asem!"
__ADS_1