
"Maaf ...." hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Angel.
Selebihnya ia benar-benar tidak tahu langkah apa yang harus diambil oleh setelah Ibunya ditangkap polisi.
Angel masih mengamati kamar yang sudah lebih dari sepuluh tahun ini ia gunakan.
Selama ini Angel terbiasa hidup mewah dan selalu bergantung pada Nyonya Han. Kini ketika ia harus berjuang sendirian, maka langkah kakinya pun terasa berat.
"Berat, semuanya memang terasa sangat berat, akan tetapi aku merasa jika saat ini aku telah mengerti tentang apa yang disebut dengan perjuangan."
"Laluna telah banyak mendapatkan rintangan selama hidupnya, aku berharap Papa akan lebih adil lagi pada Laluna. Setidaknya setelah aku pergi Papa tidak akan semena-mena lagi padanya."
Tuan Han tersenyum mendapati permintaan dari putrinya itu. Tuan Han memandang lembut ke arah Angel.
"Tidak aku sangka, putriku sekarang sudah jauh lebih dewasa."
Dulu Tuan Han berharap masih ada hal lain yang bisa ia dapatkan ketika melimpahkan semua masalah kepada mendiang ibu Laluna.
Namun, ternyata pemikirannya salah. Ia begitu terkejut ketika seorang putri yang tidak bersalah sama sekali justru menjadi korban untuk keegoisannya.
"Apakah kamu tahu jika sesuatu hal yang ingin kita dapatkan, memang harus dilakukan dengan penuh perjuangan?"
"Semua memang tidak instan tetapi akan jauh terasa lebih manis ketika didapatkan dengan tangannya sendiri."
Angel mengangguk setuju. Mungkin inilah saatnya untuk ia benar-benar berjuang sendirian.
Tuan Han mendekati putrinya.
"Maafkan Papa karena telah membuatmu pergi. Aku tahu ini bukanlah hal mudah, tetapi aku sadar jika semua keputusan yang akan kamu ambil setelah ini, semoga bisa membuatmu menjadi pribadi lebih bijak dan dewasa."
"Aamiin."
Angel sekali lagi mengangguk dan membenarkan perkataan ayahnya. Tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Tuan Han.
"Makasih banyak, Pa. Aku pamit."
Sebelum benar-benar pergi, Angel memeluk ayahnya untuk terakhir kali. Akhirnya Tuan Han mengantarkan putrinya ke bandara.
Ia melepas kepergian putri kesayangan dengan sebuah pengharapan. Setelah ini ia berniat untuk menemui Laluna untuk meminta maaf.
"Hallo, bisa bicara dengan Laluna?"
"Maaf, ini siapa, ya? Luna masih belum kembali dari perusahaan Geneva. Mungkin saat ini ia masih makan siang. Kebetulan ponselnya tertinggal di dalam mobil."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Sampaikan salam dari Papanya, Han Fengyu."
"Iya, Tuan. Nanti pasti akan saya sampaikan."
__ADS_1
...Geneva Group Company...
Saat ini Sean dan Laluna memang sedang makan siang. Mereka masih membahas langkah selanjutnya untuk masalah Nyonya Han dan juga saudara tiri Sean, Chryst.
"Aku akan membiarkan proses hukum tetap berjalan. Sebenarnya aku tidak tega melihat Angel bersedih, tetapi setidaknya ia akan mendapatkan efek jera."
Sean memegang tangan Laluna.
"Apapun keputusanmu, aku tetap berada di sini untuk mendukung langkahmu."
"Terima kasih."
Sejak tadi Laluna merasa aneh pada ingatannya sendiri.
"Tunggu sebentar, sepertinya aku melupakan sesuatu, tetapi apa, ya?"
"Mana aku tahu, aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu cari."
Laluna yang kebingungan segera mengeluarkan semua barang dari dalam tasnya. Ternyata tidak ada apapun di sana.
Sean membiarkan Laluna kebingungan, lalu mengambil ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi Jo. Ketika melihat hal itu Laluna baru teringat jika sejak tadi ia tidak memegang ponsel.
"Duh, sepertinya aku lupa membawa ponsel? Eh, tapi ... tadi di mobil Jordy aku masih maen ponsel. Astagaaa ....!" pekiknya kesal.
Laluna mengacak-acak rambutnya.
"Ponselku pasti terjatuh saat di mobilnya. Huft, semoga tidak hilang."
Sean mencibir, "Segitunya perhatian sama ponsel, gimana coba kalau aku yang hilang."
Sontak tangan Laluna membekap mulut Sean lalu menggeleng.
"Kamu tidak boleh hilang atau pergi. Aku tanpamu hanyalah bagaikan debu yang tidak berguna!"
Terkejut dengan ucapan Laluna, mata Sean membola. Akan tetapi setidaknya Sean tahu jika Laluna benar-benar mencintainya.
Setelah itu Laluna kembali terdiam. Laluna menunduk, merasa tidak nyaman karena tiba-tiba teringat masa lalunya. Salah satu tangannya mengusap sudut matanya yang berair.
"Kamu kenapa?"
"Mungkin memang seharusnya aku tidak pernah tinggal di kota. Sehingga semua masalah rumit ini tidak akan pernah menyapa aku."
"Sudahlah, aku paling tidak suka dengan sifatmu yang pantang menyerah. Kemana Lalunaku yang bar-bar itu, aku rindu ...."
"Dasar Mr. Arogant bengek! Bisa-bisanya memanggilku bad-bar, tetapi tidak mengapa lah, yang penting itu lebih baik daripada sebutan pelakor, amit-amit jabang bayi!" ucapnya sambil membelai perutnya.
Sean yang melihat hal itu menjadi terhibur. Memang sejujurnya tingkah Laluna selalu unik dan bisa membuatnya tersenyum. Akan tetapi terkadang Sean justru mendapatkan ide brilian darinya.
__ADS_1
Sikap apa adanya dan selalu bersemangat dari Laluna membuat hidup Sean yang semula hambar menjadi lebih berwarna.
"Ya udah, kita pulang yuk! Jam makan siang sudah habis."
"Ayo!"
Laluna yang kurang fokus pada langkahnya tidak sengaja menabrak salah satu pengunjung resto.
"Maaf!" cicit Laluna.
Bukannya menjawab, lelaki itu justru memandang tajam ke arah Laluna. Sean yang melihat situasi kurang kondusif segera bergerak mendekati Laluna dan memegang pinggangnya.
"Jaga pandanganmu!" ucap Sean pada lelaki itu.
Namun, pandangan meremehkan tertuju padanya.
"Cih, pasangan ababil!" gumam lelaki itu sambil melenggang pergi.
"Sudahlah jangan hiraukan dia, ayo segera pergi!"
Bukannya menuruti Sean, mata Laluna justru mengajaknya untuk kembali menoleh.
"Kenapa sepertinya aku pernah melihat lelaki tadi?"
Beruntung Sean tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Laluna. Sehingga ia tetap melanjutkan langkahnya.
Sean yang tidak perduli segera masuk mobil dan kemudian diikuti oleh Laluna. Ternyata hal yang sama juga dirasakan oleh lelaki yang baru saja ditabrak oleh Laluna.
"Tunggu dulu, kenapa aku pernah bertemu dengannya?"
"Akan tetapi di mana, ya?"
"Akh, sudahlah lagipula aku baru saja kembali, aku sudah merindukan makanan favoritku di sini."
Laki-laki itu segera berlalu dan lebih meneruskan langkahnya untuk masuk ke dalam restaurant. Sementara itu Laluna terus saja terbayang wajah lelaki yang menabraknya tadi.
Lebih tepatnya bukan menabrak hanya saja Laluna enggan mengakui kesalahannya dan lebih suka menilai lelaki tadi.
"Luna sayang, aku harap kamu tidak terlalu memikirkan lelaki tadi."
"Loh, kok tahu kalau aku memikirkan lelaki tadi?"
"Coba kamu mengaca, di dalam wajah cantikmu terlukis jelas jika kamu sedang memikirkan lelaki lain. Siapa lagi kalau bukan lelaki yang baru saja kamu tabrak."
"Hei, bukan aku yang menabrak, tetapi dia!" ucap Laluna tidak terima.
Sementara itu Sean justru tersenyum geli karena lagi-lagi Laluna tidak mau disalahkan.
__ADS_1
"Emang gitu, cewek tidak pernah mau disalahkan, karena menurutnya ia adalah sosok yang maha benar. Keputusannya tidak bisa dibantah oleh siapapun."