MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 39. SIAPA DIA?


__ADS_3

Sesuai dengan prediksi dari Leo, Laluna bakal masak menu makanan kesukaannya. Hal itu terbukti ketika beberapa saat yang lalu saat Leo berkunjung ke apartemen Laluna dan Sean, secara tidak sengaja Leo melihat jika calon adik iparnya itu sedang belajar memasak.


"Tumben sibuk di dapur, kenapa nggak kerja lagi? Atau lagi senggang, nih?"


Laluna hanya meringis melihat calon kakak iparnya datang ke apartemen adik tirinya.


"Lo sendiri ngapain datang ke sini? Mau merusak mood gue ceritanya?"


Leo mendekati Laluna sambil membawakan sebuah keranjang buah-buahan yang masih segar untuknya. Secara tidak sengaja sorot mata miliknya mengarah kepada layar ponsel yang sengaja ditaruh di atas meja.


"Kamu lagi belajar memasak untuk dia, ya?"


Sontak Laluna menoleh, "Sorry banget, ya. Gue belajar semua ini demi kehormatan suami gue. Eh, salah-salah, maksudku adalah calon suamiku sendiri!"


"Ya masak buat suami barengan, bengek!"


"Gue heran, kenapa adik gue bisa suka sama model cewek bar-bar kayak elu!"


Leo mendudukkan dirinya di pantry. Sementara Laluna tetap sibuk pada menu makanan yang sudah setengah matang.


"Biarin, yang penting kita sama-sama suka, ketimbang elu nggak ada yang mau!"


Sontak Laluna menepuk mulutnya yang lancang karena telah mengumpat pada kakak iparnya itu. Seharusnya ia menjaga ucapannya karena masih belum resmi menjadi bagian dari Keluarga Alinskie.


Namun, ternyata keberanian Laluna cukup membuat Leo kagum dan sempat juga menaruh hati kepadanya. Bagaimanapun kapan hari mereka juga pernah dekat dan dari penuturan Laluna pula bisa merubah sudut pandangnya terhadap Sean.


"Ya sudah, aku tidak mau menganggu, sebaiknya aku segera pergi. Masih ada urusan juga!"


"Loh, nggak nunggu Sean pulang?"


Leo melambaikan tangannya. "Nggak usah, masih ada urusan lain soalnya. Dadah! Masak yang enak ya. Jangan bikin adikku alergi lagi!"


"Alergi? Memangnya Sean mempunyai alergi?" gumam Laluna.


"Kok, aku nggak tahu sih?"


Tiba-tiba teringat akan ucapan dari Leo, Laluna segera menghentikan kegiatan masaknya.


"Bukankah kapan hari Leo mengatakan jika Sean mempunyai alergi. Kira-kira, dia alergi apa ya?"


Laluna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu setelahnya ia mengurungkan niat untuk membuat hotpot.


"Jangan-jangan Sean ngedrop tempo hari karena dia habis makan hotpot bersamaku kapan hari? Ya, ampun bercak-bercak merah yang ada pada tangannya itu!"


Laluna menutup mulutnya karena terlalu terkejut.

__ADS_1


"Astaga, aku telah melukai calon suamiku sendiri, ya ampun Laluna, untung saja Sean masih selamat."


Sean yang merasa aneh karena Laluna tidak kunjung datang segera menyusulnya ke dapur. Melihatnya bengong semakin membuat Sean khawatir.


"Luna, kamu ngapain? Kok bengong? Nggak jadi masaknya? Atau kamu capek?"


Laluna justru memeluk Sean lalu meminta maaf untuk kebodohannya tempo hari. Ia benar-benar tidak tahu apa yang telah ia perbuat.


"Kenapa kamu tidak bisa jujur kalau kamu punya alergi, maafkan aku Sean," ucapnya sambil tergugu.


Sean bisa merasakan ketulusan hati Laluna, meskipun tidak melihat wajahnya. Dengan segera ia mengecup pucuk kepala Laluna lalu mengusap punggungnya.


"Tidak ada yang perlu disalahkan, bagaimanapun semua tanpa kamu ketahui dan aku juga lupa kok. Satu hal yang lebih penting dari itu semua adalah aku masih baik-baik saja sampai saat ini. Jadi kamu tidak usah khawatir akan hal itu, mengerti?"


Meskipun Sean sudah memaafkan, Laluna masih merasa tidak enak hati. Saat keduanya masih larut dalam perasaannya Leo menyusul ke dapur.


"Ehem, yang mau nikah bisa nggak sih kalau nggak pamer kemesraan sedikit saja? Udah tau ada yang jomblo masih saja asyik-asyikkan kek gitu!"


Sean dan Laluna menoleh, "Iri bilang, Bos! Makanya cari pasangan sono! Masa mau jadi jomblo akut!"


"Sia-lan! Kakak sendiri didoakan jelek! Awas aja Lo!"


Keesokan harinya.


Ale kebetulan ada urusan di kantor, sehingga tanpa sengaja mobilnya melaju di belakang motor Laluna. Di sebuah perempatan lampu merah keduanya tidak sengaja berdampingan.


Pada saat yang bersamaan ternyata keduanya menatap satu sama lain lalu membuang muka setelahnya.


"Kok kayak kenal cewek itu, sih?"


"Ya, ampun ketemu lagi sama dia!"


"Eh, tapi alisnya kok mirip punya Ale?"


"Nggak mungkin, tuh anak bukannya kuliah di luar negeri. Harusnya dia tidak berada di sini!"


Sama halnya dengan Laluna, Ale juga berpikiran hal yang sama.


"Aku yakin jika aku sangat familiar dengan wanita itu? Siapa sih dia?"


Karena lampu sudah berubah menjadi warna hijau maka keduanya terpaksa melajukan kendaraannya menuju tujuan masing-masing.


"Semoga, nggak ketemu dia lagi!"


Ternyata tujuan keduanya adalah tempat yang sama, yaitu sebuah kampus ternama di Ibu Kota. Tampak sekali pada kesempatan kali ini, Laluna sebagai narasumber utama.

__ADS_1


Laluna dipilih karena di dalam usianya yang sangat muda bisa menjadi salah satu mahasiswa yang berpotensi dan berprestasi. Bahkan ia bisa kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan animasi terbaik di Asia.


Sementara itu, Ale memang mendapatkan undangan resmi sebagai salah satu wakil donatur kampus tersebut. Keduanya berjalan dari arah berbeda dan menuju satu tempat yang sama yaitu gedung aula.


Ale terlalu fokus dengan ponselnya sementara itu Laluna sedang terburu-buru karena lima belas menit lagi ia akan tampil. Dengan langkah setengah berlari ia menyusul ke sana.


Tanpa sengaja keduanya bertemu lagi karena sebuah kecelakaan kecil. Laluna membentur punggung Ale yang sontak saja membuat kening Laluna berdenyut.


"Aawww!"


Laluna mengusap keningnya lalu membetulkan poni miliknya. Ale masih sibuk mengamati mahasiswi di hadapannya saat ini.


"Ka-kamu!"


Sontak saja Laluna melongok ke atas.


"Anda mengenal saya?" tanya Laluna keheranan.


Ale menggeleng, akan tetapi ia masih memperhatikan Laluna secara seksama.


"Lain kali kalau jalan hati-hati dan pakai mata! Jangan pakai dengkul!"


"Ish, dasar lelaki arogant!" pekiknya kesal.


Setelah puas memberikan petuah pada Laluna ia melenggang pergi tanpa permisi. Sementara itu Laluna mempercepat langkahnya hingga tidak berapa lama kemudian ia sampai di gedung aula.


"Nah, itu Laluna. Ia sudah datang!" seru salah satu panitia pihak penyelenggara.


Tidak lupa ia melambaikan tangannya ke arah Laluna dan segera dibalas oleh lambaian tangan darinya.


"Aku sangat ingin tahu seperti apa mahasiswi itu sebenarnya hingga bisa sangat berprestasi seperti saat ini?" ucap Ale pada salah satu panitia yang menyambutnya.


"Beruntung sekali mahasiswi itu bisa bertemu langsung dengan Anda. Oh, iya itu dia orangnya sudah datang. Apakah Anda akan menemuinya secara langsung?"


"Tidak usah, biar saya duduk di kursi untuk melihat presentasinya saja."


"Baiklah, silakan duduk, Tuan!"


Tidak berapa lama kemudian Laluna mulai naik ke podium setelah MC memanggilnya untuk naik. Betapa terkejutnya ia ketika Ale mendengar nama dari mahasiswi tersebut.


"Silakan, waktu dan tempat kami persilakan untuk Nona Laluna."


Laluna memberikan senyuman terbaiknya kepada seluruh hadirin pagi itu, hingga setelahnya senyumnya memudar ketika melihat sosok laki-laki yang tadi bertabrakan dengan dirinya.


"Kenapa dia ada di sini?"

__ADS_1


__ADS_2