
Setelah beberapa minggu berjalan, akhirnya Laluna dan Sean menempati rumah baru mereka. Ada banyak hal yang sedang dipersiapkan oleh mereka.
Bahkan keduanya sedang terlihat merapikan kamar utama yang akan digunakan sebagai tempat tidur mereka. Tampak sekali juga Laluna sedang melihat ke sekelilingnya.
Saat Sean sedang menyusun beberapa pakaiannya, Laluna tiba-tiba saja berlari ke arahnya sambil memegang kedua tangan Sean secara bergantian.
"Bagaimana jika kamar kita dicat dengan warna merah muda?" tanya Laluna dengan wajah memohon.
"Merah muda? Bukankah kemarin ia meminta warna abu-abu?" tanya Sean di dalam hati.
Tentu saja Sean masa aneh dengan permintaan dari istrinya. Tidak mau melukai hati istrinya, Sean segera memegang tubuh Laluna dan mendekapnya.
"Bukankah sebelumnya kamu meminta jika kamar kita diwarnai abu-abu. Kenapa setelah jadi kamu meminta warna yang lain?" ucapnya dengan nada yang lembut.
Bukan hanya Sean yang merasa heran dengan sikap Laluna, tetapi ia sendiri juga bingung kenapa pilihan hatinya bisa berubah secepat itu.
"Apakah kamu merasa keberatan dengan permintaanku barusan?"
"Tidak, hanya saja jika kita harus mengecat ulang kamar kita, bukankah itu artinya kita malam ini harus tidur di tempat lain. Sudah pasti kamu sangat tidak menyukai bau cat yang baru saja dipoles ke dinding. Bukankah begitu Nyonya Sean Alinskie?"
"Benar sekali suamiku, ternyata hal sedetail itu kamu sangat perhatian."
__ADS_1
Sean sedikit heran dengan gaya bicara istrinya beberapa saat ini. Bukan hanya hal itu saja tetapi sikap dan segala hal yang berhubungan dirinya seolah menjadi orang lain.
Namun, Sean tetap menghadapinya segala tingkah laku sang istri dengan sabar dan telaten.
"Mungkin ini yang dinamakan dengan fase adaptasi setelah menikah. Bukan hanya hati yang berubah tetapi cara berpikir pun harus berubah. Setidaknya jika salah satunya merajuk maka yang satunya harus pandai menyembuhkan hatinya."
"Suamiku Sayang, jangan dengarkan perkataan dariku tadi, ya. Sepertinya aku suka dengan nuansa abu-abu kita."
"Hm."
Malam harinya seperti biasa, Laluna selalu bermanja-manja sebelum tidur. Sama seperti saat ini. Beberapa kali ia terlihat membuka menutup selimut miliknya. Sean tentu saja terganggu dengan ulah sang istri.
Di tambah lagi hari ini sangat melelahkan menurutnya. Ada banyak hal yang dikerjakan secara berdua hingga membuat Sean harus ekstra sabar karena beberapa kali harus memindahkan barang demi memenuhi permintaan dari Laluna.
"Maaf, Sayang. Aku lapar ...."
Sean yang masih belum tidur mencoba membuka setengah matanya yang sudah mengantuk.
"Mau makan apa?"
"Ayam geprek kremes."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita pesan go-send aja, ya?"
Laluna mengangguk cepat karena ucapan dari Sean begitu menyejukkan. Lalu ia mengambil ponsel milik suaminya dan menyerahkan pada Sean dengan tersenyum.
Terdengar helaan nafas dari Sean meski pada akhirnya tidak dipedulikan oleh istrinya. Hanya beberapa detik berikutnya kini makanan yang dipesan olehnya telah sampai di kediaman Sean dan Laluna.
Salah satu asisten rumah tangganya membawa makanan tersebut ke lantai dua. Langkah kaki Sean sedikit terhuyung hingga akhirnya Laluna yang mengambil makanan itu sendiri.
"Suamiku tersayang, karena kamu mengantuk berat, biarkan aku yang mengambil sendiri makananku, oke!"
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Laluna langsung menghabiskan jatah makananya itu. Bahkan yang tersisa di mulutnya tidak lupa dihabiskan dalam waktu yang sekejap.
"Hm, nikmat sekali makanannya, sebaiknya aku segera tidur," ucapnya dengan riang.
Salah satu asisten rumah tangganya hanya menggeleng ketika melihat hal tersebut. Ternyata ada banyak hal yang diperhatikan dengan sangat hati-hati olehnya.
"Tunggu sebentar, kenapa tingkah Nyonya sedikit mirip dengan orang mengidam, ya?"
......................
Kira-kira apa yang akan terjadi setelah ini, ya? kita tunggu update selanjutnya. Jangan lupa mampir ke sini kakak.
__ADS_1