MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 44. TIDAK BIASA


__ADS_3

Tidak biasanya perut Laluna sakit sampai seperti ini. Biasanya hanya kram sebentar dan sudah. Akan tetapi rasa sakitnya hari ini begitu lain. Apalagi ia baru saja mengalami lonjakan emosi karena bertemu dengan Ale.


"Mana datangnya tiba-tiba pula, untung udah selesai rapat," ucapnya sambil melihat ke arah jendela.


Sean menoleh, "Emang sakit banget? Kenapa dari tadi kamu terus megangin perut terus kaya gitu?"


Laluna masih menikmati rasa sakitnya, hingga Sean yang tidak tega mengusulkan sebuah ide.


"Kita ke Rumah Sakit aja, ya?"


Laluna hanya meliriknya sekilas tampak mengucap kata-kata. Terlihat sekali kecemasan di dalam bola mata Sean.


Apalagi saat melihat raut wajah Laluna semakin pucat, ingin rasanya ia menggantikan rasa sakit yang dialami Laluna. Tanpa ia sadari keringat dingin mengucur di kening Sean sama derasnya dengan yang terjadi pada Laluna.


Laluna melirik sekilas ke arah Sean yang justru ikut mengeluarkan keringat dingin. Kini keadaan berbalik justru Laluna yang khawatir terhadap keadaan Sean.


"Sayang, kamu nggak kenapa-napa, kok kamu jadi ikut-ikutan berkeringat dingin?" tanya Laluna panik.


Tentu saja Sean segera mengusap keringat di pelipisnya. Ia sendiri tidak menyadari jika ia juga ikut-ikutan seperti Laluna.


"Aku nggak kenapa-napa kok, Sayang."


Sean menyentuh dahi dan pelipisnya.


"Aku cuma terlalu khawatir pada keadaan kamu. Maka dari itu kita sebaiknya ke rumah sakit aja ya biar mudah dideteksi, lagi pula Michael pasti bertugas hari ini."


"Michael siapa lagi?" tanya Laluna dengan wajah penuh tanya.


"Michael itu adalah teman sewaktu aku kuliah di luar negeri, Sayang. Jadi dia itu kuliah kedokteran. Pasti dia tahu kamu sakit apa? Lagi pula aku nggak mau kamu diperiksa orang lain sembarangan."


"Nggak semua dokter itu mengerti soal kesuburan dan kandungan. Jadi nggak usah menyuruh aku untuk berobat ke sembarang dokter!"


Laluna tampak tegas kali ini. Apalagi ini berhubungan dengan kesehatan kesuburan. Melihat Laluna marah Sean segera meminta maaf sebelum ia mendapatkan masalah yang lebih besar lagi.


"Iya, maaf aku salah. Aku minta maaf."


Seketika Sean meringis ke arah Laluna. Sepanik apapun Laluna, otaknya tidak pernah bergeser. Sean pun jadi senyam-senyum sendiri karena hal memalukan itu.


"Kenapa jadi senyam-senyum sendiri, sih? Dasar nyebelin!" pekiknya kesal.

__ADS_1


"Ya, maaf aku terlalu panik hingga tidak berpikir sejauh itu."


"Dih, dasar, lelaki bisanya cuma menerka seenak jidat. Tau nggak sih kalau kita wanita bisa berpikir lebih jernih setiap saat."


"Iya, sayang. Maaf, ya. Aku sangat beruntung bisa memiliki calon istri secantik dan sepintar kamu."


Bagaimana pun Sean tetap berterima kasih kepada Laluna. Sebanyak apapun Sean bertindak tidak akan ada gunanya jika Laluna tidak berada di sisinya. Apalagi memiliki wanita seperti Laluna adalah sebuah keberuntungan.


"Jadi kita mau ke rumah sakit atau pulang?"


Laluna menoleh ke arah Sean, "Sebaiknya kita ke rumah saja, deh!"


"Baiklah, sesuai dengan keinginan Nyonya Sean Alinskie kita segera pulang!"


Dalam hati Sean, dia sangat berbunga-bunga karena bisa menghabiskan waktu bersama Laluna. Menikmati momen berdua tanpa gangguan Jo adalah sebuah keberuntungan dan juga sebuah moment yang paling ia tunggu.


Sementara itu Ale yang menunggu di lobby begitu kesal karena tidak menemukan Laluna ataupun Sean turun. Ingin rasanya ia menanyakan kepada resepsionis, tetapi egonya terlalu tinggi. Sehingga ia tetap menunggu di dalam mobil selama berjam-jam.


"Bukankah tadi mereka kelihatan keluar dari perusahaan. Kenapa tidak juga muncul?"


"Sial! Mungkinkah mereka sudah keluar dari perusahaan sejak tadi. Lalu untuk apa aku menunggu di sini!"


Rasanya ia tidak perlu memberikan laporan kepada ayahnya, karena ternyata beliau sudah mengutus orang dari perusahaan agar menemaninya rapat.


"Lalu untuk apa kalian menyuruh aku menghadiri rapat ini? Atau sengaja biar aku bisa melihat kemesraan antara Sean dan Laluna?"


"Lebih baik aku kembali ke apartemen, sekarang!"


Secara tidak sengaja ia melihat mobil yang dikendarai Sean memasuki apartemen yang sama dengan miliknya. Hanya saja letak area kamar mereka berbeda unit, itu artinya Sean tinggal di apartemen ini.


"Astaga bodoh sekali aku! Sampai tidak menyadari jika kami satu apartemen!"


Penasaran dengan letak kamar Sean maka ia memberanikan diri bertanya kepada bagian informasi.


"Selamat siang Pak? Ada yang bisa kami bantu?" sapa salah seorang resepsionis.


"Maaf, apakah Tuan Sean Alinskie juga tinggal di sini? Lalu ia berada di unit berapa?"


"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya cek dulu data-datanya!"

__ADS_1


"Baik, terima kasih."


Tidak membutuhkan waktu yang lama, petugas tersebut memberikan nomor tempat tinggal Sean kepada Ale. Ia tersenyum dengan merekah setelah mendapatkan apa yang diinginkan selama ini.


"Akhirnya aku bisa memiliki kesempatan lebih banyak untuk bersamamu!"


Ale benar-benar merasa bahagia karena hal ini. Sampai ia tidak sengaja menabrak Jo ketika ia keluar dari pintu lift.


"Tuan Ale?"


"Pak Jo, kenapa kau berada di sini? Apakah kau tinggal di apartemen ini juga?"


Melihat barang-barang di kedua tangannya Ale segera sadar jika Jo pasti datang untuk mengantarkan barang pesanan Sean dan Aluna. Secara ia adalah asisten yang sangat bisa diandalkan oleh Sean.


"Maaf, Tuan Ale saya buru-buru."


"Oh, silakan Pak Jo."


Seketika Jo menoleh ke arah Ale, tetapi sebelumnya ia berdehem terlebih dahulu.


"Maaf Tuan Ale, saya tidak terlalu tua. Jadi sebaiknya Anda memanggil saya dengan sebutan Jo saja tidak perlu embel-embel apapun!"


"Oh, begitu. Kalau begitu maafkan atas kesalahan saya. Terima kasih sudah diingatkan."


"Hm."


Setelah memberikan peringatan kepada Ale, Jo segera meluncur ke unit apartemen yang dihuni oleh Sean dan Alena.


Kebetulan saat ini, Sean sedang berada di kamar mandi, sedangkan Laluna masih tiduran. Jo yang tidak mendapat respon dari pemilik apartemen segera masuk dengan menggunakan kode yang biasa dipakai oleh Sean.


Benar saja saat ia masuk tidak ada orang, sehingga Jo langsung meletakkan barang-barang pesanan Sean dan Laluna di pantry. Mendengar bunyi gemericik dari kamar mandi, Jo baru menyadari jika Sean berada di dalam.


"Bos, pesanannya aku taruh di atas pantri. Maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini, saya pamit dulu."


"Ok, Jo. Terima kasih banyak, jangan lupa kunci pintu sebelum keluar."


"Baik, Bos, saya pamit."


Setelah berpamitan pada Sean, Jo bergegas kembali ke kantor. Banyak urusan yang harus ia selesaikan secepatnya. Apalagi saat ini Sean lebih fokus pada calon istrinya.

__ADS_1


__ADS_2