MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 36. LUCU DAN MENGGEMASKAN


__ADS_3

Merasa jika sikap Laluna sedikit berubah sepulang dari restoran membuat Sean memikirkan sesuatu. Dengan kedua mata tetap fokus ke depan, Sean mengajak Laluna mengobrol.


"Kamu kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan bahkan membuatmu melamun?"


"Aku seperti baru saja bertemu dengan seseorang, Sean."


"Siapa?"


"Lelaki tadi yang aku tabrak di resto, aku seolah mengenalnya. Akan tetapi aku lupa siapa dia? Kayak pernah ngeliat di mana gitu."


"Memangnya siapa sih?"


"Lupa? Kalau aku bilang lupa ya lupa. Makanya aku masih memikirkan dia."


"Astaga, sebegitu pentingnya kah dia?"


"He he he ... enggak juga kok."


"Kalau nggak penting mana mungkin dipikirin terus."


"Serius, cuma penasaran aja kok, suer!"


Laluna mengarahkan kedua tangannya seolah mengatakan "peace", ia juga meminta maaf atas ucapannya yang keceplosan barusan.


"Maaf, jangan marah ya," ucap Laluna memohon.


"Hm."


Sikap dingin dari Sean membuat Laluna segera mengalihkan perhatiannya keluar. Keheningan yang tercipta membuat Laluna merasa aneh. Ia pun mengutarakan keinginan kecilnya.


"Sean ...."


"Hm, ada apa?"


"Besok-besok, boleh nggak kalau aku berangkat kerja sendirian pakai motor?"


Seketika Sean menoleh.


"Emangnya kenapa kok tiba-tiba mau bilang berangkat sendirian?"


"Apa kamu sudah tidak suka kita berangkat bareng?"


"Lagipula kita 'kan satu apartemen. Bukankah lebih hemat kalau kita berangkat bersama?"


Laluna memainkan jari telunjuknya yang mengarah satu sama lain.


"Ya, aku kangen aja pengen naik motor kayak dulu."

__ADS_1


"Aku tahu kalau jalan berdua lebih hemat, tetapi ada kalanya pengen merasakan nostalgia kayak jaman dulu sebelum ketemu kamu."


"Ya, kalau kangen karena ingin naik motor, ya naik motor aja, tetapi kalau untuk berangkat ke kantor sendirian, aku nggak bakal kasih ijin. Untuk seterusnya sebaiknya kita tetap berangkat bareng."


Laluna tampak menunduk.


"Lagi pula motor kamu juga nggak ada, apa kamu lupa."


Seketika ingatan masa lalu membuat Laluna semakin murung. Melihat hal itu Sean buru-buru menghiburnya.


"Bagimana kalau kita beli motor dulu."


Seketika Laluna menggeleng.


"Nggak usah, buat apa boros. Berangkat bareng ya sudah berangkat bareng aja!"


Dari nada ucapan Laluna terlihat jika ia kesal.


"Ya, sudah kalau begitu, nggak jadi aja deh!" ucap Laluna final.


Laluna sejenak kehilangan mood untuk nostalgia bareng motor lamanya. Ia bahkan lupa jika dulu saat melarikan diri, motor dan rumahnya sudah terjual buat bayar hutang.


"Huft, rasanya sangat berat jika harus mengenang kembali masa itu," ucapnya di dalam hati.


Ia pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Di sisi lain, Sean justru sedang menyiapkan kejutan untuk Laluna.


"Kalau bukan karena kamu ingin naik motor, aku bahkan lupa jika ada sesuatu yang aku persiapkan untukmu," ucap Sean sambil mencuri pandang ke arah Laluna.


Sementara itu Laluna merasa sudah terlalu banyak merepotkan Sean, seharusnya ia segera meninggalkan apartemen Sean. Bagaimana pun mereka bukan sepasang suami istri. Tentu akan menjadi bahan omongan orang luar.


"Dari hal ini aku seharusnya belajar, Sean. Jika seharusnya kita tidak bersama. Ada banyak perbedaan di antara kita. Kalau kamu pengen A maka dengan mudah membelinya, sementara aku?"


Malam harinya.


Sepulang perjalanan dari kantor tadi, Sean dan Laluna sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka tidak terlihat seperti biasanya. Sean sibuk dengan urusan pekerjaan, sedangkan Laluna sibuk dengan urusan perut di dapur minimalis milik Sean.


Terlihat jika Sean sedang menelpon seseorang, Laluna yang baru saja mengantar teh segera meninggalkan dia karena tidak mau menganggunya.


Sebelumnya, Sean sudah menelpon Jo dan meminta untuk mempersiapkan rumah Laluna yang telah lama ditinggal. Tanpa sepengetahuan Laluna, Sean sudah membeli semua properti milik Laluna dari rentenir itu.


Sebuah layar di hadapannya menampilkan kondisi rumah Laluna saat ini. Senyumnya tersungging sempurna kala itu.


"Aku sudah tidak sabar untuk mengajakmu kesini. Akan tetapi urusan bisnis sepertinya akan membuatmu lebih lama untuk menunggu. Sabar ya, Sayang."


Meskipun sudah lama, ia tetap mempertahankan rumah itu dengan segala isinya. Tidak ada yang boleh berbeda dengan saat terakhir kali ia meninggalkannya. Sehingga setiap moment Laluna akan tetap tersimpan baik di sana.


"Kangen, aku begitu kangen tinggal sendirian. Akan tetapi jika aku tinggal sendiri aku tidak mungkin bisa merasa seperti ini," gumam Laluna.

__ADS_1


Laluna menatap Sean dari kejauhan. Dari segi manapun Sean memang terlihat tampan meskipun hanya memakai pakaian biasa. Tanpa ia sadari Laluna semakin mencintai Sean.


"Kalau kamu sedang kerja, kamu semakin tampan, Sayang."


Laluna tampak senyam-senyum sendiri. Jo yang hendak menemui Sean mengurungkan niatnya ketika melihat Laluna memandang bosnya dengan penuh rasa cinta.


"Eh, bukankah itu Nona Muda, ehem, sepertinya bunga-bunga cinta lagi tumbuh subur di sini, duh jadi kangen sama Si Eneng, deh. Ah, syalala ...."


Sean yang merasa sudah menelepon Jo tetapi tidak kunjung datang membuatnya hampir marah. Ia pun menoleh ke arah pintu dan dilihatnya Jo berdiri tegak di ambang pintu.


"Jo, ke--"


Sean yang hendak berteriak membaca kode yang diberikan oleh Jo dan menoleh ke arah Laluna.


"Lun, lun ... sejak kapan dia berdiri di sana?" gumam Sean.


"Sepertinya mengerjai Luna bakalan lebih asyik."


Ketika Sean mendekatinya saja, Laluna belum juga tersadar hingga tangannya sendiri teriris pisau yang ia gunakan untuk memotong sayuran.


"Awhh ... perih ...."


Dengan sigap Sean langsung menarik tangan Laluna yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang keluar dari bekas tangannya yang teriris pisau. Dihisapnya jemari tangan Laluna hingga saos merahnya itu habis tidak bersisa.


"Slurp ... argh!"


Sean benar-benar sangat manis saat itu. Awalnya Laluna yang terkesan dengan sikap Sean. Namun, seketika ketakutan ia menjadi karena Sean tiba-tiba berubah menjadi zombie ....


"Arghhh ...."


Bahkan Sean hendak mengejar Laluna dan menggigitnya. Tentu saja Laluna berlari kabur meninggalkan Sean. Melihat Jo yang berada di ambang pintu membuat Laluna berlari ke arahnya.


"Jo ... tolong ....."


Laluna benar-benar ketakutan, bayangannya mengatakan jika Sean berubah menjadi zombie seperti di film yang ia tonton semalam.


Bukannya menolong, Jo justru membantu menangkap Laluna demi Sean. Jo membalikkan badan Laluna ke arah Sean.


"Nona, kamu coba buka mata dulu!"


"Nggak mau, Sean sangat menakutkan!"


Jo menahan tawanya.


"Coba lihat, Bos hanya menakuti Nona Muda saja."


Laluna sudah sangat ketakutan karena itu ia menutup matanya dengan kedua tangannya. Tubuh Laluna sampai gemetar karena hal ini.

__ADS_1


Padahal Sean sengaja berubah demi menakut-nakuti kekasihnya itu. Akan tetapi ketika melihat Laluna ketakutan, Sean justru tertawa.


"Kamu memang lucu, Luna ...."


__ADS_2