
Kini liburan telah usai, saatnya untuk kembali bekerja. Pekerjaan yang menumpuk membuat Sean menghabiskan waktunya lebih banyak di perusahaan daripada menghubungi istrinya tersebut.
Sementara itu Laluna juga sibuk dengan pekerjaan kantor milik Jordy dan Cici. Mereka sedang menangani proyek baru yang akan dirilis sebelum akhir tahun.
"Bagaimana, apakah kamu akan menjadi lebih sibuk setelah menikah? Bagaimana rasanya bersama setiap waktu?"
Kedua bola mata Laluna tampak letih setelah honeymoon. Sangat berbeda dengan keadaan Sean yang justru semakin terlihat sehat bugar.
"Hei, Buk. Kenapa mukanya manyun seperti itu?"
"Sepertinya karena aku lebih suka begadang daripada tidur. Apakah kau tidak melihat sorot mataku yang menghitam ini?"
Sontak saja Cici menoleh ke arah Laluna. Ia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan sahabatnya tadi hingga tidak menyadari jika wajah Laluna sudah berbeda.
"Aku kira Sean tidak akan seganas itu, rupanya ia justru melakukan hal di luar nalar seperti ini. Stamina Sean benar-benar patut diacungi jempol!" ucap Cici sambil mengacungkan kedua jempol ke arah Laluna.
"Dasar Cici geblek, gimana ceritanya kamu bisa memuji stamina Sean sementara tubuhku remuk redam seperti ini."
Bukannya meminta maaf, Cici justru semakin menertawakan tingkah lucu dari Laluna.
__ADS_1
"Harusnya kamu bangga bisa menaklukan gunung es seperti Sean. Ditambah lagi banyak hal yang sangat dicemburui banyak gadis ketika kamu berhasil mendapatkan Sean Alinskie."
Laluna menenggelamkan wajahnya ke atas meja. Ia merasa menyesal ketika mempunyai sahabat seperti Cici. Bukannya mendukungnya justru ia malah kebalikannya yaitu semakin mendukung Sean.
Jordy yang baru saja kembali dari luar menjadi bingung karena kedua wanita di hadapannya terlihat lain. Kekasihnya terus menerus tertawa sementara itu Laluna justru tiduran di atas meja.
"Hei, apakah yang sedang kamu lakukan? Apakah kamu tidak ingat bagaimana aku membayarmu?"
Mendengar omelan dari atasannya, Laluna hanya mengibaskan tangannya lalu melanjutkan tidurnya. Awalnya ia mengira jika berangkat bekerja akan membuat pikirannya lupa dengan rutinitasnya yang menyebalkan.
Ternyata teman-temannya justru membuat moodnya memburuk.
Sementara itu Sean tiba-tiba teringat wajah istrinya. Awalnya ia mengambil ponselnya di atas meja, tetapi justru ingatannya mengatakan jika ia harus menghentikan keinginan itu karena tadi pagi Sean telah berjanji pada Laluna untuk tidak menghunginya selama seharian ini.
"Harusnya aku tidak berjanji seperti itu."
Sean tampak merutuki sikapnya barusan. Tentu saja Laluna tidak bisa memaafkan dirinya jika nanti Sean melanggar ucapannya tadi.
"Bagaimana bisa aku melanggar janjiku kepadamu. Andai saja kamu tahu jika hal ini lebih menyiksa daripada aku harus memenangkan sebuah tender!"
__ADS_1
Sean merebahkan punggungnya ke belakang. Bersandar pada kursi kebesarannya untuk membuatnya paham jika hidup tidak selamanya sesuai keinginan.
Sean memijit pelipisnya lalu membuang kasar nafasnya.
"Apakah kamu sudah makan, Sayang?" tanya Sean pada foto Laluna yang berada di galery ponselnya.
Laluna yang baru menikmati makan siangnya menjadi bersin-bersin ketika ada seseorang yang membicarakan tentang dirinya.
"Jangan bilang kalau kamu merindukan aku, Sean Alinskie. Kau sudah berjanji untuk tidak mengangguku selama seharian ini!"
"Awas saja kalau kamu berani melanggarnya maka kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau setelahnya."
......................
Seharusnya sepasang suami istri harus saling melengkapi satu sama lain. Bukankah begitu para readers.
Maaf jika up agak lama ya, othor baru sibuk di dunia real sehingga suka lupa dan ketuker ceritanya, maaf.
Sambil nunggu up silakan mampir ke karya teman Fany, ditunggu.
__ADS_1