MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 22. KENANGAN MANIS


__ADS_3

Kehidupan di desa sudah sangat berbeda dari beberapa waktu yang lalu. Banyak orang-orang yang sudah pindah ke kota besar, sehingga desa Laluna tampak seperti desa yang tidak berpenghuni. Padahal masih ada beberapa rumah yang dihuni oleh para orang tua.


"Selama beberapa tahun ini aku bisa bertahan, harusnya aku jauh lebih kuat dari bayangan mereka. Jangan memberi ampunan pada mereka, Lun. Salahkan siapa yang mematik api ini terlebih dahulu!"


Laluna tidak akan pernah mengampuni perbuatan Nyonya Han lagi. Bisa-bisanya ia bertindak kasar pada Laluna yang berstatus anak kandung Tuan Han.


Sementara itu di kota besar, Sean masih mencari Laluna. Ia sibuk mengerahkan beberapa anak buah agar bisa cepat menemukan kekasih hatinya.


"Bagaimana Jo apa Kau menemukan Laluna?"


Jo menunduk.


"Saya belum menemukan Nona muda sama sekali, Pak Bos. Namun, aku bisa melacaknya jika aku menemukan sebuah tanda yang bisa aku gunakan."


"Ambil semua yang kamu butuhkan asalkan bisa membawanya kembali."


"Ingat kalau kamu tidak bisa menemukan lalu dalam beberapa hari ini, maka aku pastikan akan memecatmu!"


"Baik Bos, aku akan melakukannya semua ini dengan semaksimal mungkin."


Sesudah menanyakan hal ini kepada Tya dan Jordi, Sean hanya menyalahkan dirinya sendiri.


Ia tidak pernah memikirkan jika hal ini bisa terjadi.


Ia bisa saja menanyakan keberadaan Laluna dengan mereka, tetapi yang akan didapat hanyalah kemungkinan kecil. Apalagi mereka belum lama dalam mengenal Laluna.


"Apakah aku bisa membawamu kembali, Tuhan ... aku mohon bawalah Laluna kembali di sisiku."


Tanpa sengaja Sean menjatuhkan benda peninggalan Laluna satu-satunya. Sebuah gantungan kunci unik dan spesial. Dengan segera Sean memungutnya.


"I-ini ...."


Flash back on.


Sean langsung melempar gantungan kunci yang diberikan Laluna kepadanya. Sementara itu Laluna justru tertawa terbahak-bahak karena tingkah Sean.


"Kamu itu laki-laki atau cewek? Lihat kecoa saja sampai segitunya!" ucap Laluna sambil memegangi perutnya yang kram karena kebanyakan tertawa.


Sementara itu Sean masih asyik berjongkok di atas meja makan. Laluna segera memungut gantungan kunci spesial miliknya dan membawa ke arah Sean.


Laluna menggoyangkan gantungan kunci yang berisi kecoa yang sudah mati dan diawetkan itu pada Sean.


"Lalunaaaaa ...."

__ADS_1


Laluna bergaya genit ketika di samping Sean, "Iya, Sayang ... ada apa sih?"


"Bawa hewan mengerikan itu pergi, gue jijik Lun-Lun."


"Helloo ... ini kan cuma hewan mati, ngapain juga kamu takut. Perhatian baik-baik Mr. Arogantku, Sayang."


Laluna semakin menempelkan tubuhnya ke arah Sean sambil mendekatkan gantungan itu ke hadapan wajahnya.


"Lihat dong, Sayang. Jangan merem!"


Meskipun Sean suka dipanggil sayang ditambah lagi ia yang menempel padanya, tetapi saat melihat kecoa itu di depan matanya, Sean kembali menjerit. Ia benar-benar tidak suka dengan hewan yang satu itu.


Hingga pada akhirnya Laluna berhasil membuat ketakutan Sean berkurang. Kecupan lembut dari benda kenyal nan manis itu perlahan-lahan mengikis ketakutan Sean yang phobia dengan kecoa.


"Nah, udah nggak takut lagi, 'kan?"


Seketika Sean menggeleng. Ia bahkan mengeratkan kedua tangannya ke pinggang Laluna hingga tatapan Laluna terkunci pada kedua mata Sean.


Bayangan kebodohannya yang berinisiatif mencium Sean lebih dulu kembali muncul. Tentu saja Laluna menjadi malu dan berniat melepas pelukan dari Sean.


"Mau pergi ke mana?"


"Em, i-itu ... mau pergi ke dapur, haus!"


Seketika detak jantung Laluna berdisko. Mukanya memerah karena terlalu malu, bukannya melepaskan, Sean justru mencium Laluna dengan agresif. Benda merah muda nan kenyal milik Laluna itu benar-benar penyembuh mujarab bagi phobia Sean.


"Makasih untuk penyembuhnya, Sayang. Aku sangat menyukainya. Kamu lebih baik daripada dokter pribadiku."


Sejak saat itu Sean mulai memberanikan diri terhadap kecoa. Hingga Laluna memberikan gantungan kunci kecoa yang diawetkan dengan acrilic itu menjadi kenang-kenangan dari Laluna.


Flash back off.


Tangan Sean masih memegang gantungan kunci dari Laluna itu. Pikirannya mengatakan jika barang itu handicraft dan tidak banyak diperjualbelikan di pasaran. Pasti membuatnya juga tidak banyak dan pasti limited edition.


"Semoga dengan jalan ini aku bisa menemukan keberadaanmu, Sayang."


Dalam sekejap Sean segera memeriksa laptop miliknya. Tangannya memainkan mouse dengan lincah, hingga beberapa saat kemudian ia bisa mengetahui dimana gantungan kunci itu dibuat.


"Bukankah ini sama dengan yang biasa Laluna posting? Kenapa aku tidak berpikiran sampai di sana?"


Sean merutuki otaknya yang tiba-tiba menjadi loading lama saat mengingat Laluna.


"Aku masih ingat akun Lun-Lun yang biasa digunakan untuk bermain sosmed, aku juga harus memeriksanya.

__ADS_1


Sean segera membuka aplikasi biru itu dan melihat kapan terakhir kali Laluna membuat sebuah postingan. Senyum Sean kembali merekah ketika ada setitik harapan yang terlukis di sana.


"Aku yakin kamu masih berada di sana. Tunggulah kedatanganku, Lun-Lun!"


Tanpa memberi tahu Jo, rupanya Sean berangkat dengan mobil kantor. Ia tidak mau memakai mobil pribadinya lagi karena takut akan celaka.


Sepanjang perjalanan ia selalu berdoa agar Laluna bisa segera ditemukan. Perjalanan panjang lebih dari lima jam akhirnya membawa Sean sampai di sebuah desa yang tidak asing untuknya.


Ia melihat kondisi desa itu masih sama seperti beberapa tahun lalu, hanya saja banyak rumah yang dulunya berpenghuni kini berubah menjadi kosong.


Sebuah bangunan tua mengusik ingatan Sean.


"Bukankah tempat itu adalah ...."


Sean menggantung ucapannya. Ia lebih memilih untuk keluar dari mobil dan melihat bangunan tua itu.


"Di sini aku pernah bertemu denganmu, apakabar kamu saat ini gadis kecilku ...."


Bangunan tua itu adalah tempat pertama kali Sean memiliki sahabat. Ia pernah bertemu dengan seorang gadis kecil yang tinggal di dekat sana. Saat itu ia menangis dan Sean hanya bisa menghiburnya sebentar.


"Hei gadis kecil, kenapa kamu menangis?"


"Apakah kamu lapar? Ini aku berikan permen untuk kamu. Semoga saja bisa membuat hatimu baikan, ya?"


Gadis kecil berkepang dua itu menengadahkan wajahnya.


"Makasih, Kak."


Sean kecil tersenyum, "Sama-sama, oh ya bolehkan kita bersahabat?"


Gadis kecil itu berbinar, ia mulai berdiri dan menyambut uluran tangan dari Sean.


"Aku mau, Kak."


"Baiklah, mulai saat ini kita adalah teman. Jika suatu saat nanti kamu ada masalah jangan lupa untuk mencari kakak, ya?"


"Baik, Kak. Terima kasih, aku makan permennya ya, Kak."


"Iya, makanlah. Kalau kamu suka, nanti kakak belikan lagi."


Mulai saat itu keduanya sering bermain bersama, hingga suatu saat Tuan John datang dan mengadopsi Sean. Sejak saat itu pula ia harus berpisah dengan gadis kecilnya yang manis.


"Apakah kamu masih tinggal di sekitar sini?" gumam Sean sambil mengusap tembok bergambar telapak tangannya bersama gadis kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2