MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 23. AKHIRNYA KETEMU


__ADS_3

Laluna yang bosan lebih memilih untuk berjalan-jalan keluar rumah. Lagi pula saat ini ia sangat lapar karena dua hari ini hanya minum air untuk menghilangkan rasa laparnya.


"Betapa malang nasibku, berjalan sendirian di tengah dinginnya angin pagi," keluhnya sambil berjalan di tepian taman.


Matanya menyisir ke kanan dan ke kiri, ada banyak hal yang ingin ia lakukan di desa itu akan tetapi sepertinya harus lebih bersabar lagi. Tenaganya sudah terkuras kali ini, sehingga tidak ada yang bisa ia lakukan selain menghibur dirinya dengan nyanyian pagi.


"Kalau aku pergi ke rumah Bibi Chen sepertinya tidak sopan. Kemana aku harus melangkah saat ini?"


Sesaat ia mengistirahatkan kakinya. Lalu sesaat kemudian Laluna memilih pindah ke tempat yang lebih teduh. Di bawah sebuah pohon mangga yang baru berbunga, matanya berharap jika pohon mangga itu mulai berbuah. Sayang, itu seperti mengharap sebuah keajaiban.


Sorak sorai bunyi perutnya membuat Laluna malu sekaligus miris.


"Yang terpenting saat ini aku harus kenyang, aku tidak mungkin bisa bertahan jika kelaparan seperti ini," ucap Laluna sambil memegangi perutnya.


Sesaat kemudian ia membayangkan jika bunyi cacing di perutnya terdengar oleh Sean.


"Astaga, bagaimana jika Sean mendengarnya? Pasti akan sangat memalukan sekali."


"Untung saja Sean tidak ada di sini!"


Bayangan tentang Sean kembali memenuhi pikiran Laluna. Secara tidak sadar kepalanya berdenyut karena menahan air matanya yang hampir tumpah.


"Hiks, kalian jahat sekali! Bagaimana bisa menyiksaku sampai seperti ini!"


Laluna memukul-mukul kepalanya. Mencoba menghilangkan semua bayangan tentang Sean. Namun, sepertinya percuma saja karena pada kenyataannya ia justru terbebani dengan pikiran tentang Sean.


"Sean, aku kangen ... !"


Laluna memegang kedua lututnya karena tiba-tiba saja air matanya keluar dengan derasnya.


"Lebih baik aku segera pergi ke taman, mungkin akan lebih baik jika di sana."


Laluna kembali melanjutkan langkahnya menuju sebuah taman. Akan tetapi semakin lama ia melangkah maka semakin terasa pening kepalanya.


Merasa tidak kuat untuk berjalan, Laluna mendudukkan dirinya di atas kursi taman. Semakin lama rasa sakit yang ia rasakan semakin menyiksanya.


"Huft, bagaimana aku bisa mendapatkan uang jika barang-barang berhargaku tidak ada."


Dipandanginya langit kala itu, terlihat sinar matahari terasa terik. Kulit tubuhnya tidak hangat melainkan semakin kedinginan. Mungkin saja Laluna akan demam setelahnya.


"Banyak yang harus aku lakukan, tetapi aku lelah ...."

__ADS_1


Biasanya jam segini Laluna masih bisa bermain dengan laptop jadul miliknya. Meskipun jadul setidaknya itu masih sangat berguna untuk Laluna.


Namun, saat ini Laluna tidak bisa melakukan apapun sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk memandang tanaman hias yang beraneka ragam itu.


"Seharusnya aku bisa mendapatkan banyak uang dengan ketrampilan dan keahlian membuat sketsa. Namun, wanita tua itu justru membuang dan menghancurkan semua mimpiku dalam semalam!"


"Apakah aku tidak berhak untuk bahagia saat ini? Tuhan jangan kau ambil kebahagiaan dariku lagi. Aku juga ingin merasakan kasih sayang yang hangat dari keluargaku dan juga cinta dari kekasih hati."


Meski lelah, Laluna berusaha untuk tetap bertahan. Panasnya matahari tidak membuatnya beranjak pergi.


"Dengan cara apalagi aku bisa bertahan. Ya, Tuhan ... aku lelah."


Ingin rasanya ia melampiaskan amarahnya, akan tetapi ia tidak mampu. Bahkan untuk menendang batu kerikil saja di hadapannya, Laluna tidak berdaya.


"Kalau pergi ke rumah Bibi Chen apakah aku bisa mendapatkan makanan?" ucapnya setengah meracau.


Kesadaran Laluna berangsur menurun. Entah sejak kapan pandangan matanya juga mulai memudar. Semakin lama ia mencoba membelalakan mata, semakin Laluna tidak kuat. Rasa kantuknya mulai menyerang, sehingga Laluna lebih sering meracau tidak jelas.


"Akh, tidak! Pasti akan sangat memalukan jika aku sampai ke rumahnya lagi. Aku sudah terlalu banyak merepotkan Bibi Chen," gumam Laluna.


Laluna yang lemas lebih memilih untuk duduk di tepian jalan. Kedua tangannya memeluk lutut, wajahnya ia telungkupkan di sana. Mencoba bertahan ternyata lebih sulit daripada menghindari kejaran para preman.


Kening Laluna mulai memanas, tangan juga mulai dingin karena udara yang berhembus lumayan kencang. Suasana yang tadinya cerah kini mulai tertutup awan.


"Apakah hari ini akan hujan?" ucapnya setengah sadar.


Sementara itu Sean melanjutkan langkahnya menyusuri jalan sempit di desa itu. Jalan setapak yang dulu sering ia lewati bersama gadis kecil berkepang dua. Banyak kenangan manis yang berputar kembali di dalam ingatan Sean.


"Apakah ada keajaiban saat ini hingga aku bisa bertemu dengannya? Semoga saja iya."


Dengan semangat yang tersisa, Sean kembali melanjutkan langkahnya. Hingga tidak berapa lama kemudian, ia menemukan seorang wanita dengan posisi yang sama persis dengan yang dilakukan gadis berkepang dua tersebut.


Entah kebetulan atau tidak ternyata hari itu Laluna memang mengepang dua rambutnya yang panjang, karena ia memang baru malas menyisir rambut.


Akan tetapi itu hanyalah sebuah alasan yang diberikan olehnya, karena pada kenyataannya ia sangat miskin hingga ia tidak mempunyai sisir.


Terlalu lapar membuat Laluna pingsan. Beruntung Sean menemukan Laluna tepat waktu.


"Gadis berkepang dua ...." panggilnya lirih.


Mata Sean berkaca-kaca, salah satu tangannya terulur untuk menutup mulutnya. Harapan terbesarnya adalah bisa kembali menemukan gadis kecilnya itu. Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati pada Sean.

__ADS_1


"Ga-gadis berkepang dua? Benarkah itu kamu ...."


Laluna yang mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal, berusaha bangun. Pandangan matanya kabur karena ia sangat letih. Belum sempat ia menjawab, Laluna kembali kehilangan kesadarannya.


Dengan sigap Sean menangkap tubuh kecil gadis berkepang dua tersebut. Betapa terkejutnya Sean ketika melihat dengan seksama jika gadis itu adalah Laluna yang dia cari.


"Lun-Lun, benarkah itu kamu ... ayo bangun ...."


Sean lantas memeluk tubuh Laluna, tanpa sengaja pipinya mengenai kening Laluna yang demam.


"Tubuh kamu panas sekali, bertahanlah sayang, aku akan membawamu ke Rumah Sakit."


Sean langsung menggendong Laluna untuk masuk ke mobil. Tujuan utamanya adalah Rumah Sakit terdekat. Efektivitas diperlukan pada saat genting, oleh karena itu Sean mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat beruntung jalanan tidak terlalu macet.


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit Laluna sudah berada di ruang perawatan. Dokter dengan segera melakukan pemeriksaan kepada Laluna.


"Bagaimana hasilnya, dokter?"


"Pasien hanya mengalami dehidrasi. Kurang lebih melakukan perawatan selama dua kali dua puluh empat jam, kemungkinan pasien akan segera pulih kembali."


"Syukurlah kalau begitu, setidaknya lukanya tidak terlalu serius.


"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi saya permisi kembali ke ruangan kerja."


"Terima kasih banyak, dokter."


Setelah dokter pergi Sean segera mendekati brankar Laluna. Ia memperhatikan dengan seksama wajah Laluna, apakah sama dengan gadis kecil yang dulu ia temui. Ketika Laluna terpejam bentuk wajahnya sepintas memang mirip dengan gadis kecilnya tersebut.


"Memang begitu mirip, bulu matanya saja sama lentiknya."


Sean sampai tersenyum beberapa kali karena terlalu senang.


"Jika kamu adalah benar gadis itu, aku sangat bersyukur."


Sean sudah tidak sabar menunggu Laluna saat siuman nanti. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan kepadanya, terutama tentang masa lalunya.


"Cepat bangun tidur ya, Lun. Aku tidak bisa terlalu lama menunggumu."


Kedua tangan Sean memegang erat jari-jari kecil milik Laluna.


"Aku bagaikan sebuah tanaman yang akan mengering tanpa adanya air yang selalu menyirami diriku."

__ADS_1


__ADS_2