MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 46. TERASA BERBEDA


__ADS_3

Hari berganti hari hingga waktu yang dinantikan tiba. Dengan segala persiapan yang sudah hampir selesai, maka untuk satu minggu ke depan Sean dan Laluna akan berpisah.


Sebenarnya Tuan Han meminta putrinya kembali ke rumah, akan tetapi Laluna belum siap dengan hal itu dan lebih memilih untuk tetap tinggal di apartemen Sean.


Sedangkan sebelum pernikahan terjadi kedua calon mempelai harus hidup terpisah. Berat memang rasanya dipisahkan meski hanya satu minggu.


Meskipun mereka tidak tinggal satu kamar, tetapi Sean tidak membiarkan Laluna berada di dalam bahaya kembali. Masih banyak orang yang mencari Laluna, entah itu untuk urusan bisnis ataupun ingin menyelidiki latar belakang Laluna.


Sean menatap lembut ke arah Laluna. Ada rasa tidak rela ketika melihat Laluna ditinggal sendirian meskipun di dalam apartemen miliknya.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Rasanya tidak rela jika harus berpisah."


"Kan cuma seminggu, tidak lebih dari itu."


"Seminggu bagaikan setahun, Sayang ...." rengek Sean.


"Nggak usah lebay, Baby."


Seketika bibir Sean mengerucut ke arah depan. Ia begitu tidak rela dan justru bertingkah seperti anak kecil. Sontak saja Laluna melotot ke arah depan.


"Kamu jangan berbuat hal nakal ketika aku tidak berada di sini, di depan aku sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk menjagamu."


"Hm," jawab Laluna singkat.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu, papayo!"


Laluna hanya bengong ketika ia mendapati Sean berpamitan hingga membawa sebuah koper kecil. Langkah kakinya semakin menjauh hingga bayangannya ikut menghilang di balik lift.


"Memangnya harus seperti ini?" ucapnya lirih ketika baru menyadari Sean pergi.


"Rasanya terlalu aneh ketika menjalani hubungan dengan lelaki kaya. Mau apa aja nggak boleh, mana dijaga ketat pula!"


Laluna melihat ke sekelilingnya lalu melangkah masuk ke dalam apartemen. Tidak lupa ia menutup pintunya. Langkah kakinya menuntunnya ke kamar.

__ADS_1


Laluna terduduk lemas dengan kaki dibiarkan menjuntai di sisi tempat tidur. Pandangannya lurus ke depan, menyibak tirai yang melambai karena tertiup angin jendela.


Suasana sejuk dan tenang tidak membuat hatinya bahagia. Ada sesuatu yang hilang dirasakan olehnya.


"Semua ini terjadi karena aku tidak mempunyai tempat tinggal, andai saja aku yang pergi mungkinkah Sean akan merasakan hal yang sama?"


"Maaf, Sean, karena aku kini kamu justru mengalah dan kembali ke Kediaman Papa John."


"Semoga saja kamu betah, dan jangan kangen karena kita berpisah hanya sementara."


Ketika mendengar suara langkah kaki orang yang ditunggu, seketika Leo menoleh bersamaan dengan ayahnya Tuan John. Mereka berdua menyambut kedatangan Sean dengan tersenyum dan penuh kebahagiaan.


"Hm, rasanya waktu berputar cepat sekali, sampai aku pun tidak mempunyai banyak waktu lagi setelah ini!"


"Maksud, Kakak?" tanya Sean kebingungan.


"Maksudku setelah kau menikah maka tidak akan ada lagi waktu untuk bersenda gurau lagi denganmu. Sudah pasti setelah menikah waktumu akan berkurang banyak dan kau sudah pasti sibuk dengan keluarga kecilmu."


"Apa yang dikatakan oleh Leo memang benar. Rasanya waktu berputar cepat sekali. Papa masih ingat pertama kali menyentuh tanganmu. Jari jemarimu yang kecil meraih tubuh ayah dan mendekapnya selalu."


Tuan John tampak mengusap sudut matanya yang basah. Ia bersyukur masih bisa menemani salah satu putranya hingga siap melepas masa lajangnya. Sean dan Leo sama-sama tidak bisa melepas rasa haru hingga ketiga orang itu saling berpelukan satu sama lain.


"Jangan berkata seperti itu, Pa, Kak Leo ... aku tidak bisa sekuat ini jika tanpa bantuan dari kalian berdua."


"Maafkan untuk kesalahan pahaman yang sempat terjadi beberapa waktu yang lalu ya, Dek."


Baru kali ini Sean menyebut nama Sean dengan sebutan Adek. Bagaimana pun ia hanyalah adik tiri yang selalu tersisih. Meskipun begitu Sean sangat bahagia akhirnya mereka semua bisa menerima kehadirannya.


"Iya, Kak. Aku sudah memaafkan hal itu tanpa kamu minta. Kita adalah saudara, jadi tidak mungkin ada persaingan antara kita. Yang ada hanyalah sikap saling percaya satu sama lain agar hubungan kita semakin erat."


"Betul sekali, sesama saudara memang harus saling mengerti satu sama lain. Apalagi kita adalah sebuah keluarga."


Ketiga lelaki itu segera memakan hidangan yang tersaji di atas meja. Tampak sekali keakraban mereka terlihat.


Tuan John sangat bersyukur akhirnya anak-anaknya saling menyayangi satu sama lain. Kebahagiaan orang tua emang terdapat pada putra-putrinya apalagi jika mereka sangat rukun satu sama lain.

__ADS_1


"Oh, iya untuk kakakmu Chryst dia juga mendapatkan ijin resmi keluar dari balik sel selama dua hari tepat dimana kalian melakukan acara pernikahan."


"Tadi pengacaranya yang mewakili dia untuk memberikan kabar kepada kita."


Sean dan Leo saling memandang satu sama lain. Untuk sesaat kekejaman Chryst dan sikap-sikap buruknya tiba-tiba menghantui Sean.


Ketakutannya hanya satu, yaitu jika Chryst balas dendam kepada Laluna. Betapa ia sangat membenci Laluna, hingga beberapa kali juga Chryst berniat untuk melenyapkan dirinya.


"Semoga saja setelah ia kembali tidak menimbulkan masalah baru," ucap Sean sambil menyuapi satu sendok makanan ke mulutnya.


Ketakutan Sean cukup berasalan karena setelah ini ia akan menjadi kepala keluarga. Suasana yang semula hangat kini menjadi dingin karena membahas Chryst.


"Seharusnya kamu tidak kembali lagi ke sini!" ucap Leo sambil melirik ke arah adik dan ayahnya secara bergantian.


Sejak Chryst juga memusuhi dirinya tidak ada rasa kasih sayang yang diberikan Leo untuk Chryst. Apalagi dengan cara yang sama licik, Chryst mencoba untuk membuat Leo salah paham pada Sean hingga timbul kebencian yang sama besarnya.


"Papa tahu kalian pasti sangat membenci Chryst, tapi papa mohon berilah kesempatan dia sekali lagi untuk membuktikan dia juga sudah berubah."


"Iya, Pa."


Setelah makan malam ketiga orang itu kembali ke kamarnya masing-masing. Sean mencoba berdamai dengan keadaan kali ini dan menikmati setiap apa yang ada di dalam kamarnya. Sudah lama ia meninggalkan kediaman Papanya ini hanya demi untuk mengejar karirnya.


Namun ketika ia harus kembali bayangan-bayangan masa kecilnya kembali berputar.


"Kamar ini adalah tempat paling nyaman ketika aku berada di dalam rumah. Ada banyak hal-hal indah yang bisa aku dapatkan di sini."


"Di meja itu aku mencoba menuliskan semua harapan agar aku bisa menjadi orang yang sukses."


"Papa, Mama. Di mana pun kalian berada aku harap bisa membahagiakan kalian semua. Hanya doa yang mampu aku panjatkan agar kalian semua bahagia di sisi Tuhan. Aamiin."


......................


Apakah kehadiran Chryst memang akan menjadi sebuah ancaman? Kita tunggu update selanjutnya ya.


Oh ya, kali ini othor bawa rekomendasi novel kedua dari Mom Yayuk Triatmaja. Jangan lupa mampir ya bestie 🙏😘

__ADS_1



__ADS_2