
Malam harinya ternyata kedua orang tua Ale juga menginginkan putranya untuk bertemu dengan salah satu pebisnis muda yang sangat terkenal di kota A.
"Tapi aku sibuk, Pa!" tolak Ale ketika mendapatkan perintah mendadak dari orang tuanya.
"Nggak bisa, pokoknya Papa mau kamu datang ke sana! Nggak pakai debat!"
Seberapa besar Ale menolak, ia tetap saja melakukan perintah dari kedua orang tuanya. Apalagi Ale harus membalas budi kepada ayah dan ibunya yang berhasil menyekolahkan dirinya ke luar negeri.
"Apakah Papa yakin jika aku tidak akan merusak acara rapat di sana?" tanya Ale memastikan semuanya.
"Papa hanya berharap kamu bisa dekat dengannya sekaligus mempelajari cara kerjanya. Apakah kamu tahu jika Sean adalah salah satu pebisnis yang paling kompeten di kota ini."
"Sean lagi, Sean lagi ... bosan aku dengarnya."
"Terserah, pokoknya besok pagi kamu harus datang ke perusahaan Geneva Group dan menemui Sean."
"Iya, iya ... sudah belum ceramahnya, aku ngantuk!"
"Ya sudah kalau begitu, beristirahatlah."
"Hm."
Sean memang terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan Ale. Padahal pada kenyataannya ia justru adik kelas Sean. Hanya saja perbedaan latar belakang membuat kedua pemuda itu berbeda.
Ibunda Ale mendekati suaminya.
"Papa nggak usah terlalu keras sama Ale, karena bagaimanapun Ale itu berbeda dengan Sean. Jadi Papa tidak bisa menyamakan mereka berdua."
"Aku tahu seperti apa anakku itu, Ma!"
Mendengar penolakan dari istrinya itu sama saja tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi Papa Ale.
"Apapun perkataan darimu, tidak akan merubah pandangan Sean dariku," ucap Papa Ale dengan tegas.
Nyonya Maura tidak mengindahkan ucapan dari suaminya itu. Ia memang sangat memanjakan Ale, dan membenarkan semua tindakannya. Apalagi ia belum pernah bertemu dengan Sean. Tentu saja di mata Nyonya Maura, Ale adalah anak terbaiknya.
"Jangan terlalu memanjakan Ale, Ma. Bagaimanapun anak itu harus bisa berjuang demi hidupnya ke depan."
Nyonya Maura hanya mengibaskan tangannya ke atas. Lalu segera meninggalkan suaminya.
Malam ini Sean menghabiskan banyak waktunya untuk memeriksa pekerjaan kantornya. Sementara itu, Laluna sudah tertidur tiga puluh menit yang lalu.
Sean meletakkan kaca matanya di meja. Langkah kakinya menuntun Sean untuk memeriksa calon istrinya itu. Terlihat sekali tingkah tidur Laluna sangat unik.
Kaos yang ia pakai menyingkap ke atas hingga terlihat pusar milik Laluna. Sementara itu selimutnya telah tersibak ke samping.
__ADS_1
"Tidur model apa ini?" gumam Sean sambil menggelengkan kepalanya.
Ia mendekati ranjang milik Laluna lalu duduk disamping. Niat hati ingin menutup kaos yang tersibak itu, akan tetapi justru detak jantungnya semakin berpacu dengan sangat cepat saat bola mata Sean tertuju pada kulit putih mulus milik Laluna.
"Hm, bagaimana aku bisa menahan semua ini?" ucap Sean di dalam hati.
Sean menelan salivanya dengan susah payah serta menahan nafas panjang agar tidak menganggu tidur Laluna. Tangannya yang tadi biasa saja, tiba-tiba saja gemetar karena rasa gugup yang mendera.
Entah karena terganggu atau tidak, tiba-tiba saja kedua mata Laluna mengerjap. Bulu-bulu lentiknya bergerak-gerak. Merasa jika ada yang menyentuh kaosnya, Laluna segera bangun.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Laluna sambil memegang salah satu tangan Sean.
Sontak kedua mata Sean membola bersamaan dengan Laluna yang bersikap sama. Kedua tangan Seann terangkat ke atas. Sean juga mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya akan dia lakukan terhadap Laluna.
"Serius aku nggak mau ngapa-ngapain, kok!"
Belum sempat Sean menjelaskan apa yang ingin dia lakukan, Laluna sudah marah terlebih dahulu.
"Nggak bisa, kamu pasti berniat mesum kepadaku!"
Prasangka Laluna bertambah saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat Sean memegang baju miliknya.
"Nggak usah berkilah, dah sana kerja aja!"
Laluna mendorong tubuh Sean agar menjauh.
"Kamu jahat Sean, mana mesum pula!"
"Eh, kata siapa aku mesum, aku cuma mau menutup pusar kamu dengan bajumu. Akan tidak baik, jika hal itu sampai terlihat orang lain."
Kejujuran Sean rupanya membuat hati Laluna melunak. Kini ia kembali kepada sikapnya yang ramah. Laluna juga sudah memaafkan sikap Sean yang barusan.
"Boleh nggak aku menemani kamu tidur, aku mengantuk!"
"Ya sudah kalau begitu, ayo!"
Keesokan harinya.
"Sudah siap, Nyonya Alinskie?"
"Hm."
"Irit banget bicaranya? Apakah kamu lagi sariawan atau masih marah dengan kejadian semalam?"
"Nggak kok, sans aja. Lagi pula marah terlalu lama tidak akan membuatku semakin cantik. Masa iya kamu lebih suka kalau aku buluk trus keliatan lebih tua dari usiaku?"
__ADS_1
"Yang jelas aku lebih suka jika kamu seperti ini. Cantik, terawat dan semakin mencintaiku."
"Uhuk! Yang suka mesra-mesraan tolong cari tempat yang baik dan pas, dong!" ucap Jo dengan tegas.
Sepertinya ia memang ingin menganggu moment romantis antara Sean dan Laluna.
"Ngapain kamu sepagi ini datang? Bukankah kita akan bertemu di kantor, ya?"
"Iya, sih. Cuma sewaktu saya yang melintas di depan apartemen Bapak, mobil yang dikendarai olehku mogok, jadi saya mau numpang, boleh kan?"
"Astaga merepotkan sekali memiliki asisten seperti kamu, bilang aja mau numpang kok repot amat!" pekik Sean kesal.
Laluna menyenggol bahu Sean, "Nggak baik ngomel di pagi hari seperti itu!"
"Asiap Nyonya Alinskie, maaf jika perkataan hamba kurang enak sedikit."
"Hm, dasar pasangan bucin tidak tahu tempat!" maki Jo di dalam hatinya.
Menjadi seseorang yang sempurna memanglah tidak mudah. Apalagi bagi Sean yang notabene tidak pernah hidup dengan kasih sayang orang tua yang utuh. Hanya kasih sayang dari Tuan John seorang yang membuatnya bertahan sampai saat ini.
"Sebaiknya kita segera berangkat pagi ini kita ada rapat penting."
"Oke, kita segera berangkat semua persiapannya sudah aku lakukan dengan matang."
Akhirnya ketiga orang tersebut segera menaiki mobil dan bergegas menuju ke perusahaan Geneva Group. Sementara itu Ale juga berangkat ke perusahaan Genev Group untuk mewakili ayahnya.
"Semoga saja hari ini mood-ku membaik. Sehingga tidak membuat masalah di perusahaan nanti."
Tidak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di perusahaan. Ketiga orang itu menaiki lift para petinggi perusahaan untuk segera sampai di ruang rapat.
Andaikan tidak ada Jo yang datang sebagai pengganggu, sudah pasti mereka akan lebih cepat sampai karena tidak banyak berdebat. Tiba-tiba saja perasaan Laluna merasa tidak nyaman.
"Perasaanku mengatakan jika akan ada hal yang tidak beres terjadi setelah ini, tetapi apa, ya?"
Tangan Sean menggenggam tangan Laluna lalu segera mengajaknya untuk masuk ke dalam ruang rapat.
"Jika kamu takut, maka pandanglah wajahku nanti, pasti aku akan menyalurkan energi positif ku padamu," bisik Sean sambil tersenyum manis.
"Hm, dasar, Mr. Arogant nyebelin!"
"Nyebelin tapi suka, 'kan?"
"Cie ... cie ... yrang pamer keromantisan!"
Mendengar suara yang familiar membuat keduanya menoleh.
__ADS_1
"Ka-kau ...."