
Ternyata Laluna hanya bisa melongo ketika ia sudah selesai dengan semua perawatan salon yang telah dilakukan oleh terapis.
"Badanku terasa lebih rileks, benar-benar nyaman!"
Laluna melihat tampilan wajahnya di depan cermin saat terapis itu mulai menyisir rambutnya. Merapikan penampilannya yang semula acak-acakan kini terlihat jauh lebih manis.
Terakhir kali Laluna pergi ke salon sepertinya sudah beberapa tahun yang lalu. Dengan sebuah tangan yang mengusap ke arah pipi membuat Laluna merasakan perubahan yang signifikan saat ini.
"Ternyata aku yang buluk bisa seperti saat ini," ucapnya seolah tidak biasa dengan apa yang dilihatnya.
Merasa jika saat ini ia tidak bermimpi, sontak saja Laluna segera mengambil ponselnya berniat untuk mengucapkan terima kasih pada Sean. Namun, sesaat kemudian ia baru sadar jika ia tidak boleh berhubungan dengan Sean selama satu minggu ini.
Oleh karena itu Laluna pun segera mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Tidak berapa lama kemudian mobil yang menjemputnya sudah datang.
"Wah, sepertinya aku datang tepat waktu," canda Jo yang sukses membuat senyuman Laluna mengembang.
"Jo ....!" pekik Laluna dengan rasa bahagia.
Bagaimana tidak, karena ternyata Jo yang menjemputnya hari itu. Sontak saja Laluna mencubit gemas kedua pipi Jo.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu yang jemput aku?"
__ADS_1
"Ya, maaf Nona. Semua ini karena kejutan untuk Nona. Kalau aku bilang dari awal, bisa-bisa nggak jadi kejutan, dong?"
"Benar juga, ya sudah ayo kita pulang!" ajak Laluna pada Jo.
Tidak berapa lama kemudian mereka segera meninggalkan lokasi tersebut. Perut Laluna yang kerongkongan membuat Laluna menyuruh Jo untuk berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa lagi?"
"Aku hanya lapar, Jo. Kepengen beli cilok boleh, 'kan?"
Sontak Jo menepuk jidatnya.
"Tentu saja boleh, Nona Muda. Bagaimana bisa saya menolak permintaan dari Anda."
"Mana bisa begitu, Nona. Tentu saja semuanya akan berdampak buruk jika saya membuat Nona Muda marah ataupun sedih."
Laluna yang sudah paham dengan sikap Sean segera mengangguk.
"Terima kasih ya, Jo. Hubunganku dengan Sean bisa sampai ke tahap ini semua karena campur tangan darimu juga. Kalau tidak ada kamu, entah apa jadinya aku."
"Nona Muda bisa saja, saya hanyalah seorang perantara Nona. Jadi jangan dibandingkan dengan siapapun. Nanti kalau kebanyakan dipuji saya bisa terbang dan melayang, loh!"
__ADS_1
Laluna terkikik akan ucapan Jo yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Oleh karena itu Laluna juga merasa nyaman jika di samping Jo.
Meskipun ia hanyalah seorang asisten tidak masalah bagi Laluna. Selama orang itu baik pada kita, maka kita pun harus berbuat baik kepadanya.
Perjalanan panjang mereka akhirnya telah sampai di sebuah tempat makan sederhana yang di dalamnya juga terdapat makanan yang dicari Laluna. Hanya berbeda tempat tetapi rasanya sangat exclusive.
"Kenapa kamu mengajakku turun di sini?"
"Tentu saja untuk makan cilok, Nona. Memangnya wajah saya keliatan bercanda?"
"Mana ada cilok di sini, jangan ngaco, deh!"
"Siapa yang ngaco, memang kita bakalan makan cilok hanya saja tempatnya lebih exclusive."
"Oh, ya?" tanya Laluna penasaran.
"Tentu saja ada, Nona. Lihatlah ke bagian pojok sana. Kita bisa menikmati cilok sepuasnya dengan meracik bumbunya sendiri."
"Wow, amazing sekali."
"Cuzz Nona, mari saya antar!"
__ADS_1
"Terima kasih."