
Akhirnya setelah sekian hari berlalu, semakin banyak sikap baru dan unik yang dilakukan oleh Laluna di dalam masa tri semester pertama kehamilannya. Lebih tepatnya untuk soal makan ia lebih susah dibandingkan dengan dengan hal lain.
"Kenapa tubuhku terasa lebih gemuk dan berisi saat ini?" ucapnya sambil berkaca di depan kaca rias.
Namun, hidungnya masih sensitif terhadap beberapa bau yang masih tidak bisa diterima oleh hidungnya. Oleh karena itu setiap keluar dari rumah, Laluna harus menutup hidungnya dengan menggunakan masker.
Hal itu untuk menahan gejolak yang dirasakan oleh perutnya. Lebih sering mual dan ingin muntah ketika ada bau aneh dan menyengat di dalam hidungnya.
"Huft sampai kapan hal ini akan usai!" keluh Laluna sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.
Kedua kakinya dibiarkan menjuntai ke bawah. Sementara itu di atas perutnya ia sedang memeluk bantal. Kedua matanya melihat ke arah televisi yang sedang memutar drama Korea kesukaannya.
Kebetulan Sean sudah pulang kerja dan ia melihat sang istri sedang menonton televisi. Sebelum ia menyapa istrinya, Sean sudah membersihkan diri terlebih dahulu.
"Sore, Sayang. Lagi sibuk apa, nih?"
"Nonton Drakor," jawab Laluna singkat.
Sean segera mendudukkan dirinya di samping Laluna. Terlihat jika Laluna mengacuhkan dirinya, maka Sean mempunyai sebuah cara agar istrinya mau berbicara dengannya.
__ADS_1
"Hari ini mau makan apa, Nyonya?" tanya Sean dengan lembut.
Mendengar kata makanan, seketika Laluna menoleh ke arah suaminya dengan senyuman mengembang.
"Mau makan Nasi Padang, boleh?" tanya Laluna berubah menjadi lembut.
Sean tersenyum manis ke arahnya.
"Boleh, dengan senang hati, saya siap mengantar."
Laluna membuang bantal yang berada di depannya lalu segera bergelayut manja di lengan sang suami.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!"
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, kini kedua calon orang tua baru itu melakukan perjalanan untuk wisata kuliner hari itu. Rupanya hari ini calon baby sedang ingin makan makanan Padang. Oleh karena itu, Sean membawanya ke tempat makan favoritnya.
Beruntung sampai di sana, Laluna tidak ingin makan di sana dan hanya membungkus makanan itu untuk dibawa pulang ke rumah. Sehingga tidak membutuhkan waktu banyak saat ini keduanya sudah mendapatkan stok lauk pauk yang Laluna suka.
"Tumben nggak mau makan di tempat, Sayang?"
__ADS_1
"Nggak, lagi nggak mood buat makan di sana. Lebih baik dibungkus aja lebih efisien. Jadi kalaupun aku mau muntah, nggak bakalan ada yang melihat kecuali kamu."
"Astaga, Sayang. Bukankah sudah diberikan vitamin oleh dokter Laura agar mengurangi rasa mualnya itu?"
"Sudah, tapi enggak aku minum."
"Lah, memangnya kenapa?"
"Nggak suka, dia nyuruh aku untuk membuangnya, he he he ...."
Laluna justru tertawa lepas karena berhasil membuat suaminya cemberut. Akan tetapi apa yang diucapkan olehnya adalah sebuah kejujuran. Oleh karena itu ia pun bersikeras tidak meminumnya.
Sementara itu Sean menepuk jidatnya karena sebuah hantaman benda keras membuat dirinya geleng-geleng akibat sikap sang istri yang justru tidak patuh pada aturan dokter.
"Sudahlah, jangan khawatir lagi. Bagaimana pun caranya yang terpenting adalah aku dan calon bayi kita sehat, Sayang."
"Selain itu kamu tidak perlu khawatir karena semua hal yang berkaitan dengan kehamilan, percayalah pada insting sang calon ibu."
......................
__ADS_1
Sambil menunggu up, jangan lupa mampir ke sini kakak, ditunggu komen dan kehadirannya.