
Kata orang jodoh takkan kemana. Akan tetapi jika kita tidak mencari jodoh kita sendiri maka yang ada hanyalah sebuah kebohongan.
Menjelang usia dewasa, bahasa tentang jodoh jadi hal wajib di setiap perbincangan. Bukan lagi yang bisa diajak nonton dan makan saja. Namun lebih dari itu, seseorang yang bisa bersanding sampai pelaminan dan kelak menemani kita hingga akhir hayat.
Permasalahnya, tiap orang punya sederet kriteria untuk pencarian jodohnya. Memang sudah semestinya tiap orang berharap mendapat jodoh yang terbaik. Di samping itu, beberapa orang kerap melontarkan sebuah kalimat bahwa jodoh adalah cerminan diri sendiri.
Sama seperti yang diharapkan Sean adalah menemukan seorang wanita yang bisa mengerti dirinya sama seperti ia memperhatikan wanita tersebut.
Laluna adalah seseorang yang sangat berarti untuk Sean. Bagaimanapun ia adalah seorang wanita yang sangat penting di dalam kehidupannya sama seperti belahan hati.
"Semoga kamu segera siuman, Sayang," doa Sean di sela-sela waktu menunggu Laluna di dalam ruang rawatnya.
Harum obat-obatan membuat Sean tidak tahan. Namun, dengan dirawatnya Laluna membuat memory Sean tentang masa lalunya kembali berputar.
"Di tempat seperti ini kita pertama kali bertemu. Mungkin dulu aku terlalu egois hingga membuat dirimu tidak suka ketika bertemu denganku. Hanya saja sikap tempramen darimu membuatku nyaman."
Sean mengusap wajah Laluna, lalu ia kembali bercerita.
"Wanita yang aku suka adalah wanita yang selalu bersikap apa adanya. Sikapmu yang cuek, suka marah-marah, lalu tersenyum sendiri membuat kesan tersendiri di hatiku."
Sean memandangi wajah tertidur Laluna.
"Dulu aku juga sempat mencuri pandang terhadapmu. Apalagi ketika kamu tidur rasanya damai sekali, sehingga tanpa aku sadari aku merasa berat jika harus meninggalkan dirimu."
"Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang jika cinta itu bu-ta. Bu-ta karena di hatinya hanya berisi cinta dan cinta."
Sean terkikik dengan semua hal yang kembali diingatnya. Apalagi semua keluguan Laluna semakin membekas di hati Sean.
Lelah karena Laluna tidak kunjung siuman, Sean yang kelelahan segera tertidur. Hingga keesokan harinya ia dibangunkan oleh seorang suster.
"Mas, Mas ... bangun, maaf pasien harus saya bersihkan terlebih dahulu."
Sean mengerjap, "Eh, iya Sus. Sebentar lagi saya keluar. Silakan suster memeriksa pasien."
Meskipun belum sepenuhnya sadar, Sean lebih memilih untuk meninggalkan ruangan Laluna untuk membersihkan dirinya. Sean membasuh wajahnya di toilet.
Melihat pantulan wajahnya di sana, ada sebuah pertanyaan yang muncul darinya.
"Apakah aku pantas untuk menjadi pendamping Laluna? Semoga saja begitu, aku berharap masih ada kesempatan untuk bersamanya."
__ADS_1
Setelah merasa jika dirinya lebih fresh, Sean memilih untuk segera kembali ke ruang rawat Laluna. Ia berjalan lebih cepat dari biasanya. Bahkan Sean sampai lupa untuk membeli sarapan pagi.
Ternyata ketika Sean sampai, suster sudah pergi dari ruangan Laluna. Melihat Laluna masih tertidur, Sean memilih pergi untuk mengisi perutnya.
"Aku tidak boleh sakit, masih ada Laluna yang harus aku lindungi dan jaga. Sebaiknya aku makan makanan sehat saja."
Sean awalnya ingin makan fast food, tetapi ketika mengingat jika itu kurang baik untuk kesehatan, maka ia mengurungkan niatnya dan lebih memilih makan makanan sehat dan bergizi.
Setelah beberapa jam berlalu, asupan nutrisi makanan yang disalurkan melalui selang mulai bereaksi. Tubuh Laluna secara perlahan-lahan mulai sehat, raut wajahnya tidak lagi memucat.
Dokter pun memberitahu bahwa Laluna sudah dalam kondisi yang baik-baik saja saat ini, hanya saja tubuhnya masih terasa lelah karena ia sudah mengalami dehidrasi selama berhari-hari.
"Pasien sudah melewati masa kritis, kini ia sudah dalam kondisi membaik."
"Syukurlah kalau begitu."
"Saya permisi."
Beberapa hari ini Sean dengan sabar merawat Laluna. Ia mengabaikan perusahaan Geneva Group untuk beberapa saat. Beruntung saat itu Chryst sudah membantu Sean untuk mengurus perusahaan tersebut.
Sean sama sekali tidak curiga ketika Chryst menawarkan diri untuk menggantikan pekerjaan Sean yang sangat sibuk tersebut demi mencari Laluna yang hilang. Sebenarnya ia tahu jika Laluna sudah disingkirkan oleh calon ibu mertuanya. Hanya saja ia tidak memberitahukannya langsung kepada Sean.
"Luna ... bangunlah, aku mohon!"
Sean masih berharap untuk bisa melihat senyuman indah dari Laluna tersebut. Hanya saja sepertinya takdir belum berpihak pada mereka.
"Seandainya aku tahu siapa dalang di balik semua ini, akan aku pastikan mereka tidak akan hidup tenang."
Sean hanya memiliki dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, salah satunya adalah Laluna. Seorang wanita yang pernah menyelamatkan hidupnya dari kematian.
Sebuah gerakan sangat lembut membuat Sean mengerjakan kedua matanya. Ternyata Laluna sudah siuman. Meskipun tatapannya masih sayu, setidaknya ia sudah membuka mata.
"Lun-lun kamu sudah bangun?"
Gerakan lentik bulu mata Laluna mengatakan ia sangat bahagia ketika melihat Sean berada di sampingnya.
"Mr. Arogant, kamu di sini?"
"Iya, ini aku ...."
__ADS_1
Sean tidak kalah bahagianya sama seperti yang dirasakan oleh Laluna.
Kini sebuah senyuman terukir di wajah cantik Laluna. Kekhawatiran Sean berkurang ketika Laluna sudah bisa diajak bicara.
"Apakah kita bisa bicara tentang sesuatu?"
"Hm, katakan apa yang ingin kamu tahu?"
"Apakah saat kecil kamu mempunyai sahabat sedang lelaki yang memberimu sebuah sapu tangan dengan bunga tulip di salah satu sudutnya."
Laluna mencoba mengingat sesuatu.
"Sepertinya iya, bagaimana kamu tahu akan hal itu?"
Sean tersenyum.
"Kamu tahu, jika anak laki-laki itu pergi bukan atas kemauannya? Melainkan justru ia pergi karena ia sudah diadopsi oleh sebuah keluarga kaya raya."
Laluna tampak menggeleng.
"Tunggu, kenapa kamu menanyakan hal itu? Apakah kamu mengenal anak lelaki itu?"
Tanpa banyak bicara, Sean mengeluarkan sebuah sapu tangan dengan motif yang sama. Tentu saja kedua mata Laluna terbelalak. Ia tidak menyangka bagaimana Sean bisa memiliki sapu tangan yang sama dengan miliknya.
"Jangan-jangan ka-kamu ...."
"Akulah anak lelaki itu, seorang anak lelaki yang berjanji akan selalu melindungi gadis berkepang dua itu seumur hidupnya."
Kedua mata itu saling menatap satu sama lain. Hingga beberapa saat setelahnya mata Laluna mulai berkaca-kaca.
"Ja-jadi kau pangeran berkuda putihku itu ...." ucap Laluna terbata.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, keduanya mulai berpelukan, saling menumpahkan kerinduan yang mendalam yang sudah mereka kubur selama bertahun-tahun. Mungkin mereka pernah berpikir jika keduanya tidak akan pernah bertemu lagi.
Akan tetapi ternyata Tuhan mengabulkan doa di saat mereka kecil. Mempertemukan mereka di saat yang tepat dan situasi yang tidak terduga. Rancangan Tuhan adalah hadiah termanis yang dikirimkan Tuhan untuknya.
"Aku mencintaimu, Sean."
"Begitu pula denganku, aku juga mencintaimu."
__ADS_1
Kedua insan itu saling menumpahkan rasa rindu. Tidak lupa Sean mengucap syukur karena Tuhan masih memberikan waktu untuknya bersama Laluna lebih lama lagi.