My Dear Anna

My Dear Anna
Part 10


__ADS_3

"Jangan - jangan Anna berhasil menggoda Tuan Aslan. pantas saja semalaman gadis itu tak pulang"


"Maksud Tuan".Tanya Jo, pura- pura meskipun, Pria tampan itu sudah menebaknya.


" Lupakan.."


Jo mengangguk paham. "Mulai hari ini Nona Alicia, akan mulai bergabung dengan perusahaan kita". Jo menatap wajah Tuan nya dari kaca spion, membahas Wanita yang ia tahu adalah calon tuanya,.dan masih sama. Tuan nya masih tersenyum konyol, beberapa detik kemudian seyum Pria itu menghilangkan.


"Bukan nya Alicia itu, adalah gadis pujaan mu waktu kuliah..!?". Bukan menjawab perkataan Jo. Pria Itu malah mengajukan sebuah pertanyaan yang tak terduga.


" Makasudmu Tuan...?". Jo mengaruk tengkuknya yang tak gatal, ia merasa aneh dengan pertanyaan yang di lontarkan Tuan nya itu, mendadak hawa tak enak mulai terasa.


"Ck... Ternyata ingatan mu buruk sekali".Sindir Aslan. "Aku saja masih mengingat waktu mengejar ngejar gadis itu semasa kuliah".


Jo yang merasa tak tersindir berairmuka biasa saja, dengan santainya ia membuka, pintu mobil saat kendaraan itu telah sampai di tujuan nya.


Kedua Pria iru, berjalan beriringan menuju tempat pertemuan seorang klient nya. "Misi mu, adalah kembali mengejar kembali Alicia tercintamu itu lagi". Seraya berjalan Aslan terus berbincang dengan Jonathan.


" Mana berani Saya, mengejar calon Istri Majikan ku sendiri".


Langkah Aslan langsung terhenti saat mendengar jawaban dari ,Jonathan. Tubuhnya memutar, hingga bersitatap dengan Asisten nya itu. "Aku minta tolong, sebagai sahabatmu ,Nathan". Aslan meletakan kedua tangan nya di bahu Jonathan. "Dan di saat kita hanya berdua, berhentilah memanggil ku dengan sebutan 'Tuan'..!?".


Bukan kali pertama, ia meminta hal seperti itu, namun sahabatnya yang dulu akrab di panggil Nathan, begitu keras kepala, karna hutang budi pada dirinya.


"Saya tak ingin lancang Tuan". Jonathan bersikukuh, bagi dirinya Aslan adalah penyelamat hidupnya, meskipun dulu mereka adalah sahabat karib.


"Nath Aku mohon, jangan seperti ini".Ia tahu betul bagaimana Jo menyukai Alicia, dan tak mungkin ia menikahi Wanita itu. "Aku tak ingin menikahinya".


"Tuan kita lanjutkan kembali obrolan nya nanti..". Ucap Jonathan. " Tuan Smith sudah menunggu kita sejak lama". Jonathan tampak mengangguk seraya mengulas senyum, saat seorang Wanita yang ia tahu sekertaris Tuan Smith, menatap ke arah mereka.


"Baik lah.. ". Putus Aslan. Klient yang menunggunya pun juga penting.


Kedua Pria yang di pandu seorang Wanita masuk kesalah satu, ruangan Vip di salah satu restoran.


" Saya sangat menyesal telah membuat Anda menunggu lama Tuan Smith". Aslan menjabat tangan Pria paruh baya, yang kini berdiri menyambutnya.


"Tentu bukan masalah besar Tuan Aslan.." Kedua tangan itu terlihat naik turun. "Senang bertemu dengan Anda kembali" Tuan Smith mempersilahkan rekan bisnisnya itu.


Perbincangan akhirnya di mulai, dari mulai basa basi hingga menuju topik penting, dari tujuan pertemuan mereka.


"Tentu saja bahan baku yang Anda kirim tak pernah mengecawakan, bagaimana kalau Saya tekan kontrak selama 3 tahun saja".


"Dengan senang hati Saya akan menerimanya".

__ADS_1


"Baiklah.. untuk selanjutnya Tuan Smith bisa membicarak Kontak dan harga kepada Jonathan".


"Itu tak masalah".


Aslan menepuk bahu Jonathan. "Sisanya kau yang Handle". Aslan berdiri setelah bersalaman dengan rekan bisnisnya. "Sudah mulai sore, aku takut kucingku mati kelaparan".Pria itu setengah berbisik pada telinga Jonathan.


"Kucing....!!".


_


_


_


Suara sesegukan mewarnai heningnya kamar yang berdominasi warna biru langit itu, setelah sampai di Mansion, tubuh jangkung dengan sepatu pantofel itu, langsung memasuki kamar rahasianya.


Ternyata kau masih hidup". Aslan berdiri di sisi ranjang menatap Gadis cantik dengan mata yang sembab.


Tangan nya terulur menyampingkan anak rambut yang menghalangi wajah Anna. "Apa kau lapar..!?". Ia memperlihatkan bungkusan paper bags, dengan aroma yang membuat perut Gadis itu kembali berbunyi.


"Pertanyaan macam apa itu, kau meninggalkan ku selama 8 jam". Sorot mata itu begitu tajam, Pria itu bahkan tak tau jika Anna tak makan dari kemarin malam.


"Berhentilah menangis Nona". Aslan mengusap jejak basah dari wajah Anna.


Ada rasa sesal di hatinya, bagimana keadaan gadis yang ia sekap sejak tadi, mengikatnya bahkan membuatnya kelaparan.


Anna terlihat diam saat Pria tampan itu, kini memangkunya dan meletakan tubuh yang berbalut kemeja, di atas bathub, dan mengisinya dengan air hangat.


"Apa yang ingin Tuan lakukan". Anna mencekal pergelangan Aslan meskipun terasa sangat lemah, Pria tampan itu mencoba membuka kancing kemejanya.


"Tentu saja melepas baju mu". Perlahan namun pasti satu persatu kancing itu mulai terbuka.


"Tutup matamu Tuan, Atau Aku akan membuat keduanya buta". Hanya ancaman yang bisa ia lakukan, tubuhnya terasa sangat lemas, tak mampu memberontak seperti semalam.


" Untuk apa..!?". Aslan menautkan kedua alianya. "Tubuh polosmu sudah aku jelajahi semalam, tinggal yang yang ada di pangkal paha mu itu"


"Brengsek". Umpat Anna, dengan menahan amarah, apa salah nya hingga di lecehkan seperti ini.


Demi apapun ia membenci Pria di depan nya ini, bahkan ia diam saja saat Aslan memandikanya dengan cekatan, bahkan bisa terlihat jelas jakun Pria itu naik turun melihat tubuh nya yang polos.


Tubuh polos Anna kini sudah terlilit handuk, dan Pria yang tadi memandikan Anna kembali memangku Gadis manis itu keluar dari kamar mandi.


Segar..!

__ADS_1


Tentu saja saat ini tubuhnya terasa segar, setelah tercebur kolam dan di sekap saharian akhirnya ia bisa mandi, meskipun harus menahan marah dan juga malu.


"Aaaaa". Mulut Aslan terbuka, di depan Anna agar mulut Gadis itu menerima asupan yang ia berikan.


Meskipun gadis itu tampak enggan, namun perutnya yang sejak tadi terus berdemo memaksa mulutnya untuk terbuka dan menerima suap demi suap hingga makanan itu tandas di lahap olehnya.


Malam yang menjelma menjadi sunyi, hawa dingin dan juga sepi terus menghina dan memukul pikiran Gadis cantik yang kini meratapi hidupnya.



‌Merasa sangat di lecehkan itu yang Anna rasakan,memohon pun tak ada gunanya, Pria asing di depan nya, tak mungkin melepaskan dirinya.



‌"Meskipun kau berlutut sekalipun, aku tak akan membiakan mu keluar dari tempat ini". Jawaban yang sama dan terus berulang di lontarkan Aslan.



‌"Saya janji Tuan , Saya tidak akan membocorkan hobby anehmu itu sama siapapun'



‌"Aneh katamu". Mata Aslan membulat sempurna. "Kau masih berani menghinaku".



‌"Bukan maksudku Tuan~".



‌" Cukup..". Aslan tak ingin berbicara dengan Gadis yang selalu membuatnya kesal. "Kali ini aku tak akan mengikatmu". Setelah mengatakan itu, Aslan beranjak dari sisi ranjang.



‌" Kau akan meninggalkan ku lagi". Tanya Anna saat melihat Pria asing mulai menjauh darinya.



‌Tampa memutar arah Aslan hanya melambai tangan nya dan setelah itu, ruangan pun kembali sunyi.


Tak melewatkan kesempatan kaki Anna pun menuruni ranjang, langkah nya terayun mengarah ketempat hilangnya Pria asing di balik tembok.


"Kenapa Aku tak bisa keluar dari tempat ini..". Gerutunya, hampir semalaman ia mencari jalan keluar namun tak kunjung ketemu.

__ADS_1


...~Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan juga coment ya~>...


__ADS_2