My Dear Anna

My Dear Anna
Fart 23


__ADS_3

"Alan..." Anna langsung berlari, menghampiri Suaminya yang tengah di papah oleh Gio. "Kau mabuk..!?". Sangat tercium jelas bau alkohol dari tubuh Ashlan.


Ke 4 orang itu, langsung memasuki lift, menuju lantai atas, dimana kamar pengantin baru itu berada.


"Kau menemukan nya dimana..?". Tanya Ashley, ia pun yang sama penasaran nya, mengantikan Anna untuk menanyakan.


Belum sempat kedua wanita itu mendapat inpormasi dari Gio, racauan Ashlan kini membuat semua nya mengalihkan perhatian.


"Kenapa.. Kau mengkhianati ku Anna...!?". Mata Pria itu berpindah pada sosok cantik yang memakai jubah tidur, Ashlan yang keadaan mabuk berat itu meluapkan kekesalan nya pada Wanitanya. " Kenapa Anna.. !?".


"Maaf...!" . Tubuh nya yang dapat guncangan dari sang Suami, hanya bisa mengeluarkan kata 'maaf', ia tak menyangka kejadian di villa waktu itu berdampak hingga sekarang.


Ashlan masih saja meracau, apa lagi orang yang menjadi penyebab utama ia seperti ini, ada di depan nya, memasang wajah bersalah dan berurai air mata.


"Kak Gio tolong Aku..!". Dengan sekuat tenaga Anna menahan beban berat tubuh Suaminya yang terus limbung kesana kemari.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian..!?". Gio mulai membuka suaranya, setelah kembali menopang tubuh teman nya, yang tak bisa berdiri tegak.


"Apa ini karna kejadian di villa waktu itu..?" Belum sempat Anna menjawab, Gio kembali bertanya.


"Sepertinya iya..".


Gio menghela nafasnya, bukan hanya berat menahan beban Ashlan, namun ia pun turut merasa bersalah. "Apa benar ini karna games itu...!".


Anna menggeleng, ia sudah bingung harus menjawab apa, tapi yang di bilang Gio memang benar. Semua bermula dari games kissing itu.


" Apa ada yang terjadi setelah itu...!".


"Malam itu Aku mabuk...!, jadi setelah malam di danau Aku tak ingat apa - apa lagi.". Dan sampai sekarang pun ia masih belum mengingatnya, mungkin Anna harus menanyakan nya pada Jonathan.

__ADS_1


Pintu lift sudah terbuka, mereka pun memilih menjeda obrolan dan melenggang menyusuri lorong hotel, dengan memapah tubuh Ashlan yang masih saja meracau.


...*****...


"Akhirnya...". Ashley berucap lega setelah mendaratkan tubuh kakaknya di atas ranjang. "Setelah ini kau bisa sendiri kan, atau mau ku bantu mengganti pakaian nya..!?".


" Tidak apa Ley... Aku bisa sendiri..." . Tangan Gadis itu mulai aktif melucuti tiap pakaian Ashlan, meskipun ia sedikit kesulitan.


"Baik lah...". Mata nya yang tak bisa di kontrol itu memilih untuk pamit, setelah tenang melihat kakak berada di tempat yang seharusnya.


" Jika ada apa - apa Aku ada di kamar sebelah" Ucap nya lagi, melihat Kakak iparnya yang hanya mengangguk, kakinya pun melenggang meninggalkan sepasang pengatin baru yang di landa konflik itu.


"Kau masih disini...!?". Manik Gadis itu menatap Pria tampan yang ternyata masih ada di luar kamar.


" Bagaimana Alan...". Alih - alih menjawab Gio malah menanyakan tentang sahabatnya.


"Kau tak perlu khawatir...!. Ada Istrinya". Ia pun langsung melengos, karna memang tak ada yang perlu di obrolkan lagi dengan Pria itu.


" Ada apa...!?". Ashley menutar matanya jengah, saat pergelangan tangan nya sudah di cekal, ia tak menduga jika Pria yang sengaja ia hindari, 'mengejarnya'.


"Aku minta waktu mu sebentar~".


" Tak ada..! ". Ashley langsung memotong cepat, sengaja tak memberi tempat untuk Gio berbicara banyak.


" Ley...". Pria itu tak menyerah, masih saja mendesak Wanita incaran nya. "Plies.. tak bisa kah kau memberiku kesempatan".


Ashley mendelik kesal ke arah Gio. "Aku sudah punya kekasih...". Terpaksa ia berbohong, rasa ia begitu malas pada setiap lelaki yang mendekatinya. Apa lagi Gio, seorang Pria playboy si pemain Wanita.


" Kau lihat ini..."Ashley memperlihatkan jam tangan nya pada Pria itu. "Aku perlu tidur.."!. Setelah mengatakan itu, ia menghempaskan cekalan dari Gio dan beralalu memasuki kamar.

__ADS_1


" Jangan lupa mimpiin Aku ya Ley". Ucapnya setengah berteriak. "Aku tak akan menyerah Ashley, Kau pasti ku taklukan..". Gumam nya seraya menatap pintu yang sudah tertutup rapat.


Di sisi lain, Anna baru selesai melucuti pakaian Suaminya, kini udah berganti dengan piyama tidur dengan warna senada yang saat ini ia kenakan.


"Mau kemana...". Seolah sadar Pria itu mencekal pergelangan sang Istri yang hendak beranjak dari ranjang.


Wanita itu sedikit terkerjut, belum sempat ia mengutarakan niat nya yang ingin membereskan pakaian sang Suami, tubuhnya sudah terjerembab di bawah kukungan Ashlan.


"Aku mencintaimu Anna...". Pria itu berucap begitu dekat dengan Wanitanya. "Tapi kenapa Kau malah mengkhianatiku". Ashlan masih saja meracau, bahkan bisa terlihat dari raut wajahnya, Pria merasakan kecewa yang amat sangat, dan ini kali keduan ia merasakan itu.


"Maaf kan Aku Alan...!". Lagi - lagi Anna hanya bisa berucap 'Maaf', ia bingung harus berbuat apa, jika saja dengan mengucapkan kata 'Cinta' bisa membuat keadaan membaik, ia pasti akan mengucapkan kata itu ribuan kali.


" C'k...". Pria itu hanya berdecak, sepertinya kata 'maaf' tidak lah cukup untuknya, apa lagi mengobati rasa kecewa, karna pengkhianatan. "Bukan kah ini malam pengantin kita". Memory acara pernikahan yang di gelar tadi sekilas ia ingat, meskipun kesadaran Pria itu, masih terpengaruhi minuman beralkohol.


"Kalan begitu kita sempurnakan hari pernikahan kita". Ucapnya kemudian, dengan tak sabaran nya Ashlan mencium bibir Wanita yang sudah resmi jadi Istrinya.


" Alannn.... hentikan...!". Wanita itu sedikit memberontak, karna Suaminya bermain agak kasar.


"Kenapa...!. Kau ingin menolak ku". Ashlan kembali melum**at bibir Anna, bahkan membuka pakaian Istrinya dengan kasar. Tak mengidahkan penolakan dari sang Istri dan yang jelas malam ini ia harus menuntaskan has**rat nya


"Alan.. stop..!". Anna terisak, ia tak menyangka Ashalan bisa berbuat seperti ini, meskipun Pria itu meminta hak nya sebagai Suami, tapi Istri mana yang rela di paksa saat di atas ranjang.


"Kau Istriku sekarang, meskipun hatimu untuk Pria lain". Ashlan tak peduli, ia melanjutkan aksinya, menggera*yangi sang Istri hingga keduanya sudah polos, dan semua itu ulah Ashlan.


"Pria lain...?". Anna semakin terisak, Suaminya memang bermain kasar, dan ada kata lembut waktu sebelumnya. " Hatiku'. Milikmu Alan". Ucap nya lirih, entah Suaminya mendengar atau tidak, tak melihat ada respon dari Ashlan.


Pria itu terus menikmati tubuh Istrinya, bahkan tampa menyadari Anna sudah tidur karna terlalu lelah menangis dan melayani dirinya.


Entah lah siapa yang tahu kapan usai nya percintaan dini hari itu, yang jelas suara decitan ranjang masih menggema di seluruh ruangan hingga saat ini.

__ADS_1


...~ Minta dukungan nya ya dengan koment dan juga like ~...


__ADS_2