
Rasa sakit dalam tubuh sudah tak tertahankan, hantaman yang begitu bertubi - bertubi terus saja ia terima, darah segar terus saja mengalir di setiap titik Tampa bisa ia hentikan.
Lidah seakan mati rasa untuk berucap 'Tolong hentikan'. Para pengawal yang masih tersadar hanya bisa melihat peristiwa keji itu, tak mampu menolong Nona Mudanya, kini mereka percaya jika yang kini tengah teraniaya bukan lah Nona Evelyn...!.
Karna tak mungkin Nona Mudanya yang ia kenal sampai di perlakukan seperti ini. "Sa-ya moh-on hentikan". Tangan pengawal sudah memeluk kaki Wanita itu, agar berhenti menendang, suara nya sangat lirih bahkan cenderung tidak terdengar.
"Lepaskan...". Sekali hentakan Wanita itu melepas rangkulan dari Pria yang berada tepat di bawah kakinya, bahkan Ia memberikan tendang empuk di area wajah Pengawal. Pria itu tampak meringis menahan sakit.
"Sebaiknya Kau Diam, atau Kau ku bunuh sekarang juga". Tangan nya juga mencengkram kedua pipi Pria itu, langsung ia hempaskan di tambah dengan sebuah tendangan telak.
Rasanya ia begitu bahagia saat melakukan itu, ada sensasi menyenang kan di saat musuh sudah bersimbah dengan darah. "Kenapa kau tak kunjung mati". Wanita itu kembali menendang perut Anna, entah sudah berapa kali ia melakukan itu.
Dirinya seakan tak puas meskipun kondisi sang rival sudah sangat mengenaskan, banyaknya luka lebam di setiap tubuh bahkan wajah cantik nya pun sudah sangat pucat.
"Nona...!, sepertinya Dia sudah mati,..!?". Ucap salah satu Anak buahnya, sejak tadi Pria itu hanyalah menonton majikan nya yang terlihat sangat senang.
__ADS_1
"Benarkah...". Wanita itu langsung sumringah saat mendengar kata itu, dengan perlahan ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Anna, yang sudah kehilangan kesadaran.
Tangan nya terulur lebih dekat dengan Indra penciuman, tentu saja ia memeriksa sendiri, musuh nya masih bernapas atau tidak. "Akhirnya mati juga Kau". Tak merasa ada hembusan hangat saat jemarinya menempel di area hidung.
"Nona sebaiknya kita tinggalkan tempat ini". Ajak para Anak buah serempak .Mengetahui datangnya bahaya yang akan mengancam, tentu mereka sudah tidak sanggup jika harus bertarung, terutama Nona nya yang terlihat sudah lelah.
"Cepat tinggal kan tempat ini" Tangan mengayun memberi kode agar para anak buahnya mengikuti. Hati sudah puas bisa mengalahkan rival nya, tentu dengan mata dan tangan yang menjadi saksi.
Lalu untuk apa lagi Dia berada di tempat itu, meskipun pemandangan di sekitar Danau sangat indah dan bisa membuat otak nya lebih relax, namun balas dendam sudah tercapai. 'Saat nya untuk kabur'.
Kepala sampai memutar ke asal suara. "Si*al kita terlambat". Umpat Wanita itu, seraya berlari, ia mendadak tak fokus setelah melihat Siapa yang mengejar.
"Apa tadi Robert...".Wanita itu menebak nama seseorang yang mungkin sedang mengejarnya. "Lalu siapa yang ada di sebelah nya..!?. Tak mungkin Dia..!?". ia terus menggeleng berharap itu hanya prasangka nya saja.
...Dorr...
__ADS_1
Terdengar suara tembakan, dan tentu itu bukan berasal darinya melainkan dari orang yang mengejarnya. Naas tembakan itu mengenai anak buah nya.
"Jessica berhentiiii".
Wanita itu merasa ada yang diteriaki namanya dari arah belakang dan ia tahu Dia siapa. "Robert...". Jessica berucap lirih, terpaksa ia berhenti karna kaki tersandung oleh ranting.
"Sedang Apa kau disini". Akhirnya kedua orang yang mengejar Jessica berhasil membuat Wanita itu terpojok.
Sementara para anak buah Jessica turut menghentikan pelarian,. "Si*Al Nona Jessi tertangkap". Salah satu Pria mengumpat dengan kesal, terpaksa mereka berbalik arah.
"Lepaskan Nona kami". Ucapnya dengan nada tinggi.
"Siapa Kau berani memerintah ku". Mata nya mendelik ke arah sekumpulan Pria bertubuh tegap. "Apa kau lupa ini dimana". Ucapan seorang Wanita cantik berpakaian serba hitam.
"Ka.. ka... kau..." Jessica sampai terbata - bata saat mengetahui siapa Wanita yang bersama tunangan nya.
__ADS_1
"Apa kau kemari ingin mengantar nyawamu...!?"