
Tepat nya 3 kali suara tembakan yang berhasil di redam, dan semuanya tepat mengenai sasaran. "Jangan tembak Wanita itu". Perintahnya pada orang suruhan, mereka begitu setia pada ucapan majikan, tentu dengan sebuah anggukan.
"Siapa Di sana..." Terpampang jelas wajah takut semua orang di sana, termasuk Anna, 2 tepat nya 2 orang pengawal sudah mengelilingi dirinya seraya menodong kan senjata ke arah depan, Mata terus saja mencari keberadaan musuh seraya mulut terus berteriak. "Keluar kalian..."
"Nona Anda tidak Apa". Tanya pengawal.
"Saya tidak Apa, Tapi Mirra dan 2 rekan kalian terkena tembakan...!". Anna merasa sangat cemas juga sangatlah takut, ini kali pertama nya ia di pojokan antara hidup dan juga mati.
"Tidak Apa Nona, mereka masih hidup, jika masih sempat kita bisa menolong." Pengawal mengeluarkan kata positif untuk Nona nya, tentu agar Anna tak perlu mengkhawatirkan para pekerja nya, Saat ini tugasnya adalah melindungi Nona Mudanya.
Tepat 5 orang di antara nya 2 Wanita dan sisanya adalah Pria, mereka keluar dari balik pohon, dengan tangan yang terus saja menodong kan senjata
"Siapa kalian, bagaimana cara kalian masuk tempat ini". Sarkas pengawal, tangan nya pun sama ikut menodongkan senjata api itu.
"Tak perlu Kau tahu kami masuk dengan cara apa...". Yang menjawab adalah sang Wanita dan seperti nya ia adalah ketua dari sekumpulan orang - orang itu.
__ADS_1
"Mau sampai kapan Kau akan berlindung di balik tubuh pengawal mu". Mata nya tertuju ke arah Anna. "Dimana seorang Evelyn yang terkenal sadis itu".
Oh tidak .., Sepertinya Wanita itu juga menganggap Anna sebagai Evelyn, Dia tak bisa menyalahkan siapapun jika banyak yang salah mengenali dirinya. "Maaf Nona Anda salah orang". Tak salah nya mencoba untuk menjelaskan, meskipun ia tidak yakin itu berhasil.
"Nona...!, Jangan bercanda, Kau kira Aku percaya". Kedua alis sampai bertaut, tentu saja ia tak menggubris ucapan dari Wanita yang di anggap sebagai musuh nya itu. "Jangan ber-omong kosong Kau, cepat kemari dan lawan Aku".
Wanita itu sampai menghentakkan tangan dengan kasar, menyuruh rivalnya agar datang, setidak untuk berduel dengan nya. "Bunuh para pengawal itu". ia langsung memberi perintah.
Terdengar sadis dan juga kejam, bagaimana bisa ia menyuruh untuk mengambil nyawa seseorang, begitu tak arti untuk nya, namun tetap saja, perintah itu langsung di iya kan oleh pekerja setia nya, hingga tak terelakan adanya adu tembak di antara kedua belah pihak.
"Ada apa dengan mu, jangan bilang kau merasa kasian dengan nyawa manusia rendahan itu". Segitu ia menganggap nyawa manusia 'Tak punya hati' memang Wanita yang satu ini. "Apa Kau sungguh Evelyn atau Memang pura - pura saja".
"Katakan apa mau Anda Nona, jangan libatkan orang - orang ini". Anna sudah kesal dengan sikap Wanita yang ia tidak tahu siapa Dia.
Bukan nya manjawab Wanita itu malah tertawa terbahak bahak. "Hentikan sandiwara mu Ev, sebaik nya kita lanjutkan duel kita, rasa nya tangan ku sudah gatal ingin menguliti kulit wajah mu itu". Wanita menyeringai.
__ADS_1
"Baik lah jika itu mau mu". Akhirnya Anna mengalah mengikuti kemauan Wanita gila yang baru saja ia temui. "Jika Kau kalah Kau harus pergi dari tempat ini". Meskipun ia tak yakin bisa mengalahkan Wanita jahat itu, sedangkan ilmu bela dirinya masih belum berkembang baik, tapi tak ada salah nya mencoba.
"Yang kalah tentu saja akan mati". Wanita itu kembali menyeringai dengan tak sabaran nya ia langsung melompat ke arah Anna seraya berteriak.
Melancarkan serangan yang tak ada habisnya, Wanita jahat itu terlihat sangat bersemangat saat berduel dengan Anna. "Ada apa dengan mu hari ini Ev." Sempat saja Wanita itu berucap, meskipun tangan dan kaki tak berhenti untuk sekedar menendang dan memberikan pukulan.
Anna tak menjawab, saat ini ia hanya pokus menangkis setiap serangan dari Wanita itu, meskipun beberapa kali terkena serangan, hingga ujung bibir pun mulai berdarah.
...Bugh Bugh Bugh....
Wanita itu memukul Anna Tampa ampun, terus saja menendang meskipun lawan sudah menyatu dengan tanah. "Berdiri Kau Jala**Ng". Wanita itu mengangkat Anna, setelah berdiri ia menampar kedua sisi pipi yang di anggap musuh nya. "Rasakan pembalasan ku Ha".
"Engggggh". Rasa yang tak bisa Anna jabarkan, saat seluruh tubuh telah menerima serangan, Dirinya sudah bersimbah darah bahkan tak menyadari sesuatu yang terus saja mengalir dari arah kewanitaan nya.
"Apa hari ini adalah hari kematian ku".
__ADS_1