
Hal yang sama terjadi pada Anna, Pria gila dengan hobby aneh itu ternyata memang benar Tuan Aslan.
Gadis itu sangat terkejut, hingga map yang ia pegang terjatuh dan membuat lembaran kertas yang tadi tersusun rapih kini berserakan di lantai.
"Tu...tuan..". Anna berjalan mundur, matanya mengerejap berapa kali memastikan Pria di depan nya ini adalah Pria gila yang menyekapnya 2 minggu lalu.
Belum sempat ia melarikan diri, pergelangan nya sudah di cekal oleh tangan kekar Pria tampan itu. "Mau lari kemana kamu". Aslan tersenyum smirk. Akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis menyebalkan ini lagi.
"Tu...tuan., aku mohon lepaskan Saya"
"Ternyata kucing yang selama aku cari berada di dekatku selama ini." Aslan menyeringai, Pria itu terus saja mengikis jarak. "Jadi namamu Anna, Gelandangan yang tinggal bersama Nathan".
"Tuan... Saya mohon jangan potong lidah Saya Tuan".Gadis itu memelas dan juga memohon.
" lidah mu.". Aslan menyeringai.
"Bukan hanya ku potong tapi aku akan membunuh mu".
Ceklek
Pintu berukuran besar langsung terbuka menyembulkan seorang gadis cantik dengan pakaian anggun. "Sayaaaang". Wanita anggun itu adalah Alicia tunangan Alsan.
Bagai mendapat oasis di gurun pasir, Anna tak melewatkan kesempatan itu. "Nona tolong ak~".
Belum sempat Anna meminta pertolongan pada Wanita cantik yang kini di depan nya, mulutnya sudah di bungkam duluan oleh bibir Aslan.
Pria tampan itu menciumnya di depan orang lain.. "Aku akan memaafkan mu jika kau diam dan mengikuti permainan ku" Bisik Aslan ia pun kembali mencium bibir Anna di depan tunangan nya itu .
Prok
Prok
Prok
Alicia bertepuk tangan melihat tingkah tunangan nya itu. "Bisa di bilang ini lebih terlihat Real Malik". Wanita cantik itu masih berdiri di tempatnya, seraya mengulas senyum.
"Ayo lanjutkan sandiwara mu". Tantang Alicia.
"Dia memang Wanita ku Alicia". Aslan menatap wajah Tunangan nya dengan dingin.
__ADS_1
"Apa Aku percaya..!. Kali ini berapa yang kau bayar untuk wanita ini". Sindir Alicia, ia tahu betul Aslan hanya bersandiwara. "Apa kau berani bercint*a, dengan nya di hadapan ku, Aku bertaruh selain menciumnya kau tak bisa bertindak lebih." Tantang Alicia.
"Nona anda salah paham".Timpal Anna. Ia tak paham dengan situasinya sekarang, yang jelas ia menjadi orang ketiga di antara mereka.
"Apa kau sanggup melihat kami bercin*ta". Jawab Aslan.
"Of course Honey".
Tampa aba aba Aslan memangku tubuh Anna ala bridal style menuju ruang pribadinya. "Siapkan mental mu nona Alicia".
Alicia yang merasa ter-tantang, mengikuti langkah Aslan, dan bukan main saat sampai disana mata Alicia di suguhkan dengan pemandangan yang erot*is.
" Lanjutkan jika memang dia wanita mu". Ucap Alicia. ia duduk di salah satu sofa pandangan nya mengarah pada Tunangan nya itu. "Aku ingin tahu, sekuat apa kau bersandiwara".
"Happy watching Alicia". Ucap Aslan, ia kembali melanjutkan aksinya menciumi bibir Anna yang entah kapan menjadi candunya.
"Panggil Aku Alan, Anna..!". Bisik Aslan.
"Alan, Ku mohon jangan lakukan ini".pinta Anna memelas ia begitu malu menjadi tontonan seperti ini
"Anggap Wanita itu tidak ada". Tunjuk Aslan pada Alicia. "Bukan kah begitu"
"Kau siap sayang". Aslan mencium kening Anna. " Aku akan bertanggung jawab jika kau sampai hamil". bisik Aslan dan membuat mata Anna membulat sempurna. "Tapi jika tidak, aku akan mengabulkan apapun keingan mu, terkecuali menikah"
Deg..
Jantung Anna kembali berdegup, ini memang tujuan nya dan ia harus membayar mahal untuk itu.
"Baiklah". Anna mengalungkan lengan nya ke ceruk leher Aslan membawa Pria itu untuk kembali menciumnya, lagi pula ini bukan kali pertamanya bestukar seliva denga Aslan.
" Aku mencintaimu Anna". Dengan suara yang sengaja di buat keras agar Alicia bisa mendengarnya.
"Aku juga". Balas Anna mengikuti permainan Aslan.
Tak ada lagi oborlan di antara keduanya, hanya suara decapan yang begitu memekakan telinga Alicia, yang masih setia menonton tayanga live yang masih dalam tahap pemanasan itu.
" Enghhhh". Anna melenguh saat ciuman itu berpindah pada ceruk lehernya.
Aslan kembali melum*at bibir Anna, dengan tak sabaran ia melepas satu persatu kancing miliknya, hingga terpang pang potongan roti sobek memenuhi mata Anna.
__ADS_1
Pria itu melempar secara asal dan kembali melu*mat bibir Anna, suara decapan dan juga lengguhan terus menggema di ruangan itu .
Dan benar adanya, Aslan tak menghiraukan adanya Alicia ia terus melancarkan aksinya, melucuti pakaian yang di kenakan Anna hingga hanya tersisa satu kain yang menutupi gundukan kenyal Gadis itu.
"Enghhhh". lagi lagi Anna melengguh, dengan penuh gair*ah Aslan terus melum*at setiap inchi tubuh Anna, tak luput jejak merah menghiasi tubuh Gadis itu.
Lepas sudah kain yang menutupi gundukan itu, Aslan melempar ke arah Alicia yang masih setia menonton nya.
Luma*atan itu terus berpindah ke arah gundukan kenyal itu, ia sesap dan juga ia remas secara bergatian, hingga suara lengguhan pun terus menggema di ruangan itu.
"Sayang aku sudah tak tahan". Ucap Aslan, Ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuh kedua nya. Tangan nakalnya berpindah ke arah bawah menanggallkan semua yang di kenakan Anna.
Setelah membuat Gadis yang berada di dalam kukungan nya polos, ia pun melakukan hal sama pada dirinya, melemparkan semua pakaianya pada Alicia. "Masih sanggup menonton". Aslan menyeringai .
" Lanjutkan ".Alicia memasang wajah tak peduli. Namun sejujurnya ia merasa tegang.
Sepertinya Malik tak bersandirwara.
" Baiklah". Tampa basa basi Aslan memulai pergerakan nya kembali, menatap gadis cantik yang berada di bawah kukungan nya. "Kau sangat cantik Anna". Aslan kembali mel*mat bibir Anna, Ciuman itu pun terus turun hingga berada di pangkal pahanya.
" Engghhhh... Ahhhhhk Alan Ahhk". Mendengar desa*han dari Anna, membuat Aslan semakin bersemangat, Pria itu merangkak naik, mensejajarkan miliknya yang sudah berdiri tegak di bawah sana.
"Aaaaahhhrg". Jerit Anna saat miliknya berhasil di terobos tampa permisi oleh batang panjang milik Aslan. ia mencoba mendorong tubuh Aslan agar berhenti memasuki dirinya, bukannya berhenti Aslan terus menerobos masuk, hingga Anna kembali menjerit.
" Shittt". Umpat Aslan yang merasa sakit saat miliknya berhasil, menerobos lubang kenikmatan milik Anna. "Kau masih perawan". Ucap Aslan seraya memaju mundurkan pinggul nya dengan perlahan. Kepala Anna hanya mengangguk pasrah, rasa yang teramat sakit ia rasakan di area pangkal pahanya. Dan secara perlahan rasa sakit itu, berubah nikmat saat mendapat pelepasan pertamanya.
" Ahhhkhh....Kau sangat nikmat Anna".Aslan mengusap cairan bening yang lolos dari sudut mata Anna. Mendaratkan sebuah kecupan di dahi Anna dan kembali menggerakan pinggulnya secara perlahan.
" Alan Ahhhhhrrgh. ". Anna terus mengegeliat dengan gelisah saat Aslan menambahkan tempo kecepatan dan membuat Anna tak berdaya hingga membuat suara lucnut itu terus bergema keseluruh penjuru kamar.
" Oh God.., Anna.. ahhhk..". Tak ada kata yang mampu menjabarkan kenikmatan yang ia rasakan hanya saat ini, hanya suara desa*han dan era*ngan yang cukup panjang saat pelepasan ia dapatkan.
"Trimakasih Anna". Aslan mengecup dahi Anna, dengan nafas yang terus terengah - engah. dan seketika Aslan langsung ambruk di tubuh Anna yang tadi berbagi peluh bersamanya.
" Loh kemana perginya Nona Alicia". Tanya Anna, saat mendapati sofa yang diduduki tunangan Aslan sudah kosong.
"Belum lama ini dia keluar". Nafasnya masih tersengal akibat olah raga panasnya tadi.
...~Jangan Lupa Like dan coment ya~...
__ADS_1