My Dear Anna

My Dear Anna
Part 18


__ADS_3

Pagi indah pun akhirnya datang, dari sudut pemandangan halaman, tumbuh besar hamparan bunga yang menyejukan mata.


Terpelihara Berjajaran di tanah yang subur, Di bawah pohon besar yang rindang, Semilir angin lembut terus menggoyangkan tangkai, yang terus menyeruak sampai ke indra penciuman.


"Sudah ku duga, kau pasti ada disini". Suara bariton dari arah belakang, membuat seorang gadis cantik yang tengah menikmati paginya menoleh ke asal suara.


"Alan...!.". Jawab Anna. Jangan lupakan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Kenapa tak memakai mantel". Aslan memakaikan kain tebal dari bahan wol, ke bahu Anna.


"Trimaksih". Anna tersenyum. pandangan nya kembali menatap hamparan taman bunga sesekali ia menatap Aslan, yang berdiri di sebelahnya.


"Jika kau sangat menyukai labirin, Aku akan membangun nya untukmu". Ucap Aslan, meleburkan keheningan di tempat itu.


"Aku memang menyukainya, tapi Tuan tak perlu repot - repot untuk itu". Jawab Anna, tak ada niatan untuk menyinggung calon suaminya itu, hanya saja sebuah labirin yang di bangun untuknya, di rasa terlalu berlebihan.


Hatinya masih pada Jonathan, ia pun bingung dengan apa yang tengah terjadi. Apa nikmati saja skenario yang Tuhan berikan padanya atau kembali pada cinta yang masih berupa tunas di hatinya.


" Repot...!, Tentu saja tidak, Aku hanya mengeluarkan sedikit uang ku, hanya untuk membangun tempat itu". Aslan menarik tangan wanitanya, meninggalkan taman. "Semuanya sudah menunggu di ruang makan, untuk memulai sarapan".


Gadis itu tak mengatakan apapun, tumit nya memutar, mengikuti langkah lebar Aslan, menuju ruang keluarga calon suaminya berada.


" Ini Dia..!. pasangan yang meresahkan akhirnya datang". Suara Mam Dilla menyambut kedatangan Aslan dan Anna, kalimat dengan nada sindiran itu, berhasil membuat Anna merah malu.


Kejadian semalam masih terekam jelas, bagaimana Mam Dilla memergoki mereka berdua.


"Pah..Sebaiknya kita percepat saja pernikan mereka..". Mam Dilla berbicara pada Suaminya, yang di tanggapi dengan anggukan. "Bagimana kalau minggu ini".


Uhukkk.


Anna tersedak, Gadis manis yang menikmati sarapan nya, langsung terkesiap, hingga usapan lembut datang ke arah punggungnya.


"Makan lah perlahan". Aslan masih mengusap punggung Anna. "Tidak bisa secepat itu Mam..!. Aslan menatap Mam Dilla.


" Kenapa.. Malik...!. Kalian itu sudah merem melek bareng - bareng, tak ada salah nya, lebih baik di percepat pernikahn kalian".Sahut Mam Dilla.


"Tapi, sebelum itu, Anna masih harus melengkapi data dirinya,.. Dia masih warga ilegal di negara kita". Pria tampan itu memang berkata benar apa adanya, Anna yang seorang buangan, masih belum teridentikasi di negaranya.

__ADS_1


" Maksudmu..?".


"Ck.... Mam ini, bagaimana bisa Mam tak menyelediki asal usul Anna, Menurutku Anna adalah salah satu gadis yang malang, dan aku juga merasa berdosa padanya".Ucap Aslan seraya mengusap kepala Anna. Hanya Tuhan dan Anna lah yang tahu dosa apa yang Aslan perbuat.


Pria itu memang mengetahui kenapa Anna bisa berada di negaranya, dan itu dari Jonatahan sendiri, dan ia semakin merasa bersalah pada Gadis ini, awal pertemuan mereka pum tak baik, dan lebih parahnya Aslan memamfaatkan Anna demi hal pribadi.


"Mama tak peduli, asal usul nya, Karna Mama sudah menerima Anna sebagai Mantu". Tegas Mam Dilla. "Dan soal indentitas Anna, biar Mama yang urus". Wanita itu berucap dengan tegas dan tak ingin di bantah.


" Sudahlah Malik..., kamu ikut saja". Tuan Abraham, yang sudah selesai dengan sarapan nya, ikut memojokan Aslan.


"Kamu hari ini tak perlu kembali ke Negara T. ada Jonathan yang mengurusnya". Belum juga Pria tampan itu, membuka suara ia harus kembali di sidang. " Dan bawa Anna untuk fitting baju pernikahan kalian..".


"Mam.....". Aslan menghela nafas, Mama nya, memang se-enaknya.


Dan di sinilah mereka berada, sebuah butik yang di pilih Mam Dilla, di dampingi secara eksklusif seorang disainer kenamaan di Negara yang terkenal dengan patung leberty itu.


Aslan yang sudah memakai setelan formal nya, menunggu di sofa dengan majalah bisnis yang berada di tangan.


Pandangan nya kini beralih memandangi tirai abu abu yang perlahan terbuka, tampa berkedip Netra indah itu, sudah di penuhi sosok cantik, yang layak di panggil Bidadari.


Andria yang seorang desainer kenamaan, tersenyum puas melihat hasil salah satu karyanya tak mengecewakan pelanggan nya.


"Bagaimana dengan gaun yang ini". Tubuh Anna masih meliuk liuk seraya mengibar bagian gaun yang ada di bawah.


" Menurutku ini sangat lah cantik". Tatapan mata Aslan hanya pada satu titik dimana senyuman malu Anna menghiasi wajahnya


Dan pesona yang terpancar dari Anna seakan menghipnotis Pria tampan itu untuk lebih dekat, layaknya kucing yang menemukan ikan, ia sangat ingin menerkam Anna langsung.


Andria yang sudah paham akan situasi meninggalkan keduanya, setelah mendapat beberapa bukti untuk di kirim pada Dilla, . salah satu pelanggan VIP nya.


"Apa dia memang secantik ini". Aslan masih mengagumi kecantikan Anna, bahkan tampa aba aba, ia merengkuh pinggang Anna.


Deg.


Entah kenapa ritme jantung nya, bertambah cepat di saat Aslan kini menatap nya dengan lekat. 'Apa secepat ini ia jatuh cinta pada Aslan'.


Anna menggeleng. 'Itu tak mungkin'. Apa ia harus kedokter untuk memeriksa jantungnya yang bermasalah.

__ADS_1


"Alan jangan lakukan ini". Pinta Anna, melihat gelagat Aslan yang cenderung mengarah ke hal 21+.


Namun Pria itu tak peduli, Aslan meraup dagu Anna, menempelkan bibirnya pada milik Wanita nya. "Aku menginginkan mu".


"Tapi Alan...". Belum sempat ia menyelesai kan ucapanya, bibirnya kembali di bungkam oleh Aslan.


Pria itu masih menikmati bibir Anna, dan sejak itu pula Aslan sudah mengklaim Anna adalah wanitanya, apa lagi untuk pertama kalinya ia di kenal kan dengan kenikmatan duniawi itu melalui Anna dan ia pun menjadi orang pertama yang memasuki Goa bersarang nikmat itu.


"Kau milik ku..". Pria itu berucap dengan posesif dan kembali melum*at bibir Anna bahkan memamfaatkan sofa untuk menjadi tempat dimulai nya percintaan mereka kembali.


Belum sempat Aslan menanggal kan baju pengantin yang di pakai Anna, datang lah seorang pengganggu.


"Ada apa...!!". Tanya Aslan sedikit emosi, bagimana bisa ia kembali di ganggu.


" Maaf Tuan.. tapi Nyonya menelpon, ingin berbicara dengan Anda". Andria yang berbicara membelakangi Aslan terlihat gemetar, Ia takut dan juga malu, melihat adegan 21+ yang baru saja ia lihat.


"Nanti Aku akan menghubunginya". Jawab Aslan.


" Baik Tuan". Sadar akan situasi Andria langsung kabur meninggalkan pasangan yang hendak bercocok tanam itu.


"Lho kenapa ganti baju". tanya Aslan saat Anna sudah menggantinya bajunya.


"Aku sudah selesai mencobanya, kIta bisa pulang sekarang kan..?". Lagi lagi Anna di buat malu dengan Pria yang sama.


"Tapi kita belum selesai dengan urusan kita tadi". Aslan menarik tangan Anna hingga terjerembab di atas sofa bersamanya.


"Alan... cukup ".Anna menahan kepala Aslan yang ingin kembali menciumnya. "Ini tempat umum dan Aku tak mau di buat malu seperti tadi lagi".


Aslan mengangguk paham. "Kita ke hotel terdekat saja" . Ucap Aslan.Pria itu langsung memangku Anna keluar dari butik langganan Mamanya.


"Alan....". Ujar Anna dan lagi lagi Anna di buat malu, Andria sang desainer kenamaan hanya menggeleng seraya menghela nafasnya melihat kedua pasangan yang tengah di mabuk cinta itu.


"Ke Hotel ".Ucap nya pada sang supir, Aslan yang masih memangku Anna langsung mencium Wanita nya lagi, setelah mereka masuk mobil.


Sang supir langsung mengitari mobil setelah membantu tuan nya membuka dan menutup pintu kembali.


Gleg.

__ADS_1


Demi apa pun supir yang bernama Ardan itu, terlihat susah menelan selivanya, di suguhkan dengan pemandangan yang erotis, mau tak mau ia hanya bisa diam seraya melajukan mobil ke salah satu hotel milik keluarga Abraham, sesekali ia mencuri pandang dengan aksi Tuan mudanya yang tengah menjamah Wanitanya.


...~Jangan lupa tinggal kan jejak, like dan juga coment nya ya~>...


__ADS_2