My Dear Anna

My Dear Anna
Part 16


__ADS_3

Masa bodoh taman hias yang tahu sangat di sayangi Mama nya itu hancur karnanya. Dan Anna yang melihat langsung bagaimana seorang Aslan membuat kekacauan hanya terkekeh.


Bagaimana Pria tampan itu, memporak porandakan taman yang di hias sedemikian rupa sudah hancur berantakan, dan sosok tampan itu pun kembali, dengan seikat bunga yang secera acak di pilih nya, dan yang terpenting cincin buatan tangan nya.


Aslan kembali, mereka adegan beberapa saat lalu tepat sebelum taman hias tadi hancur berantakan. "Maukah kau menikah dengan ku Annatasya Irawan".


Tak mungkin Anna menolak kan..!. Apa lagi melihat kesungguhan Aslan dengan aksinya tadi, Meskipun belum ada kata cinta yang tumbuh di hati keduanya.Apa lagi cincin yang bertahta kan berlian, Anna pun mengangguk sebagai jawaban nya.


Hatinya memang masih ada nama Jonathan, namun ada wanita lain yang lebih berhak memiliki Pria itu yaitu 'Alicia'. Wanita yang secara live menonton percintaan panas dirinya dan juga Aslan di atas ranjang, yang saat itu berstatus tunangan nya.


"Seharusnya setelah ini ada adegan ciuman bukan". Suara ketiga memecah keromantisan yang tengah terjadi.


" Mam". Ucap Aslan, ia berdiri sambil menepuk nepuk celananya yang mungkin saja kotor. "Sejak kapan Mama disini".


"Sejak kamu menghacurkan taman kesayangan Mama". Wanita yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda itu tampak kesal, taman hias yang ia rawat dengan kasih sayang, telah hancur.


Namun di balik kekesalan itu, ada rasa bahagia melihat moment penting bagaimana Putranya melamar seorang Gadis meskipun dengan cara tak elit itu.


"Mam Aku bisa jelaskan". Ucap Aslan seraya berjalan mundur, Mama nya berjalan layak nya Singa yang ingin menerkam mangsa nya.


" Aaaww... Mam .. sakit". Mam Dilla langsung melintir telinga Putra nya yang tampan itu.


"Setidak nya, kamu harus mengganti taman Mama yang rusak dengan cucu... Itu baru adil".


"itu masalah gampang Mam, Aku akan menyicilnya mulai malam ini". Dan semakin kencang saja Mam Dilla melintir telinga Putrnya.


"Nikah dulu, baru bikin Anak". Masih enggan melepas justru Dilla menarik telinga Aslan sambil berjalan. "Dasar ya Anak jaman sekarang, mau nya enak enak aja dulu". Gerutu Mam Dilla.


Dan mau tak mau Aslan mengikuti langkah kecil Mamanya, dengan kepala miring dengan telinga yang masih di jewer.


Anna terkekeh geli, melihat seorang Aslan tak berkutik, saat di hukum Mamanya, bahkan Anna langsung berlari kecil dan mengejar ketinggalan nya.


_


_


_

__ADS_1


Malam pun tiba, kali ini Gadis cantik itu, mendapatkan suasana yang amat ia rindukan 'kehangatan sebuah keluarga'. Kata yang tepat untuk nya malam ini.


"Makan lah ini". Adik Aslan yang bernama Ashley menyendokan beberapa ekor udah ke atas piring Anna. "Kak Anna tak alergi seafood kan".


Anna menggeleng sebagai jawaban nya. "Trimakasih. ".Ucap nya seraya mengulas senyum.


Aslan yang tak mau kalah pun melakukan hal yang sama seperti adiknya hingga piring Anna di buat penuh.


" Apa Kau ingin membuat Kakak Ipar gemuk seperti Bab*i.". Ujar Ashley seraya menurunkan beberapa lauk pauk kembali.


"Ley... apa kamu menyindir diri sendiri". Ucap Aslan. "Setiap hari kau makan banyak tapi badan mu itu masih kurus layak nya tempe". Entah pujian atau ledekan yang jelas Aslan ingin membuat adiknya itu kesal.


" Malik... Ashley.. ini meja makan, jadi kalian masih ingin ribut!!. lebih baik kalian keluar". Bariton kepala Rumah tangga, lagi lagi membuat keduanya berhenti berdebat, meskipun Kakak beradik itu masih saling mengejek dengan menjulurkan lidah.


Anna hanya terkekeh geli melihat kedua Kakak beradik itu, ia pun kembali menyantap makanan nya.


Tak ada perdebatan lagi, hanya dentingan sendok dan garpu di ruang makan itu, hingga benda logam itupun terkelengkup.


"Mam.. Pah . Alan dan Anna pamit". Ucap Aslan seraya menggandeng tangan Anna.


"Ingat pesan Mama tadi". Dilla mengingatkan Putra sulung nya itu.


Dan disini lah pasangan itu berada, dengan pencahayaan yang temaran keduanya berada di atas ranjang.


Tak ada pergumulan panas seperti terakhir, hanya berbincang mengenal satu sama lain lebih dalam, meskipun keduanya telah mengenal lebih dalam hingga ke pangkal paha.


"Aku ingin bertanya ke hal yang lebih serius lagi". Lagi - lagi Anna bertanya, dan Aslan pun berusaha menjawab.


"Apa ini tentang menyicil Anak kita". Tebak Aslan.


" Huss Tuan ini". Anna mengusap wajah Aslan yang begitu dekat dengan wajah nya. "Ini tentang Nona Alicia".


" Alicia..!". Dahi Aslan mengkerut mendengar nama mantan tunangan nya. "Apa yang ingin kau tanyakan". Jawan Aslan, bernada bertanya itu.


"Perasaan nya, bagaimana pun Nona Alicia adalah Tunangan mu Tuan.. Tapi~". Anna menggantung ucapan nya.


" Tapi apa..". Ucap Aslan. "Jangan bilang kau merasa bersalah padanya".

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu..!?" Anna mencubit pelan perut Aslan. "Tentu saja Aku merasa bersalah, Aku telah merebut tunangan Nona Alicia".


Aslan tersenyum. "Kalau di lihat dari dekat seperti ini, ternyata kau memang lah sangat cantik". Jawaban yang di luar pertanyaan itu, membuat wajah Anna memerah.


"Gomball..!?".


Aslan mengusap pipi Anna dengan lembut rasanya ingin sekali ia memulai kembali percintaan seperti kemarin. "Aku tau isi pikiran mu itu Tuan, jangan macam - macam". Anna memperingati. "Jawab dulu pertanyaan ku tadi".


" Ok ..ok Aku jawab.".Aslan mengalah dan di rasa ia pun harus bercerita sedikit dengan calon istri kecil nya ini. "Sebenarnya kamu tak perlu merasa beralah pada Alicia..!, Dia tak menyukaiku apa lagi mencintai Priamu ini". Ucap Aslan yang masih asyik memainkan ujung rambut Anna.


"Alicia mencintai Pria lain, dan Aku tau, Dia siapa~". Aslan mengantung ucapan nya, agar Anna lebih penasaran.


Namun realita tak sesuai ekspetasi, ternyata Gadis itu sudah tau. "Jika kamu sudah tau kenapa masih bertanya..". Pria itu tampak kesal, dengan wajah yang di tekuk.


"Karna tadi Mama Dilla yang kasih tau..!. Jelas Anna. "Tapi Aku ingin tau lebih banyak, dari Anda Tuan".


"Berhentilah memanggil ku Tuan Anna". Protes Aslan. "Kau saja sudah bisa memanggil Mama ku, nah Aku Putranya masih kau sebut Tuan"


"Ya sudah Mas Aslan..". Anna langsung mengubah nama panggilan nya.


" Apa Kau bilang Mas...!?". Pria itu masih saja protes. "Aku tak mau, terdengar aneh, dan itu panggilan yang berasal dari negaramu kan..?".


Anna mengangguk. "Lalu mau ku panggil apa, Abi...!?". Saran Anna dan justru langsung di tolak oleh Aslan. "Terus apa...!?.".


"Alan Sayang".


" Hanya Alan titik, itu terlalu kepanjangan". Ujar Anna. Dan akhirnya Aslan setuju. "Sekarang kita bahas yang tadi".


"Bahas apa lagi.?". Jawab Aslan, Dengan sekali hentakan Aslan langsung mendorong Anna, hingga terbaring. "Membahas malam pertama kita".


Anna langsung mendorong tubuh Aslan, namun kenyataan nya tak seinchi pun Pria itu berpindah yang ada wajah Aslan kini semakin dekat.


"Stop...". Anna menyampingkan wajahnya, hingga ciuman itu mendarat di pipi nya.


Aslan menyerah, ia menggulingkan tubuh nya kesisi Anna, Namun setelah itu ia rengkuh tubuh semampai Anna ke dalam pelukan nya. "Apa yang ingin kau bahas". Tanya Aslan dengan serius.


"Perasaan mu pada Nona Alicia, Apa kau mencintainya...?".

__ADS_1


...~Jangan lupa tinggal kan jejak ya~>...


__ADS_2