
Merasa bersalah itulah yang dirasakan Evelyn, setelah tahu jika Wanita yang ia temukan di Danau adalah saudaranya, apalagi saat di temukan dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.
Evelyn masih tergugu di tempatnya, dari tempat ia berdiri ia bisa melihat kedua orang tua nya sudah menaiki kendaraan yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
"Ev kau tidak naik...?". Ucap Mommy Nilla, kepala nya menyembul dari dalam mobil.
"Tidak Mom, Aku perlu mandi, nanti Aku akan menyusul..." Ucap nya setengah berteriak.
"Baik lah.., Mommy akan tunggu kamu di Rumah sakit.." Jawab Wanita itu, sebuah anggukan pun bisa dilihatnya, dengan segera ia meminta sopir untuk melajukan kendaraan. pikiran Wanita itu dipenuhi oleh Anna, bagaimana keadaan Putrinya itu.
Evelyn masih terdiam di tempat nya, dari jauh ia bisa melihat mobil orang tuanya sudah melaju dan perlahan sudah tak terlihat lagi.
Perasaan nya sudah tak karuan, hari ini adalah hari yang paling berat baginya, dimana ia harus bertemu dengan cinta yang telah mengkhianati nya bahkan kenyataan yang ternyata ia memiliki saudara kembar.
Ia tersenyum getir, polemik hidup kehidupan nya begitu runyam. "Ku harap kau bisa cepat sadar...". Gumam nya. Ia berharap saudara kembar mendapatkan kesadaran nya kembali.
"Kemari lah kau butuh pelukan...!".
__ADS_1
Mendengar suara tak asing Wanita cantik itu pun menoleh. "C'k.. Aku tak butuh pelukanmu...." Wanita itu melengos begitu saja meninggalkan Pria itu, Pria yang selalu menemani kapan pun Dian butuh.
"Ev tunggu Kau mau kemana.." Teriak Robert.
"Mandi..".
"Kita mandi bersama.." Ajakan nya dengan bercanda meskipun Pria itu tentu sangat berharap.
"Apa kau siap mati muda Ha...".
"Jika Aku mati muda siapa yang akan menemanimu mandi sekarang ." Robert masih saja membuntuti Evelyn hingga tiba di dalam rumah mewah itu.
Sementara yang lain nya sudah pergi menuju rumah sakit tak terkecuali Ashlan, Pria itu sangat terkesiap mendengar Istrinya tengah di rawat di rumah sakit, sedang kan Adam ia masih meratapi nasib cintanya yang mungkin harus ia relakan.
Cukup lama Adam melihat hunian megah itu, berharap ia bisa bertemu dengan Evelyn lagi, apa lagi di beri kesempatan untuk menjelaskan kesalah pahaman di antara mereka, karena jika harus memilih berpisah itu sangat lah berat baginya.
2 tahun menjalin kasih bukan lah waktu sebentar, apa lagi keduanya telah merasakan kehangatan satu sama lain. Adam menjadi gusar harus dengan cara apa ia membujuk Wanitanya.
__ADS_1
Adam hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, Wanita nya sangat keras kepala dan tak mau mendengarkan penjelasan darinya. "Kita ke rumah sakit.." Putus nya kemudian.
Dari arah balkon Evelyn bisa melihat Adam sudah menaiki mobil dan meninggalkan Mansion Brox, terdiam cukup lama dan terus memandangi Pria tercintanya sudah sangat jauh bahkan jika Evelyn berteriak memanggil nama nya pun tak mungkin bisa di dengar.
"Aku bisa membuat Kau melupakan laki-laki itu". Dari suara Evelyn sudah hapal dia Siapa.
"Jangan Ikut cam__". Belum sempat ia menyelesaikan ucapnya, tubuh nya sudah berbalik menghadap Pria itu, dan apa yang terjadi, tak pernah ia duga, mata cantik itu sudah membulat dengan sempurna.
"Emmmp..". Hanya suara itu yang bisa ia keluar dari mulut nya, saat bibir nya sudah di bungkam oleh Robert, pergerakan Evelyn semakin terbatas di kala Pria itu mengukung bahkan menghimpit nya di tepi balkon.
...Plaks...
Terdengar nyaring dan pasti itu akan membekas, sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi tampan Pria itu. "Lancang..!". Ucap Evelyn dengan mata yang menyalang, namun tak membuat nyali Robert menciut.
Sudah lama ia mencintai Evelyn, namun sayang wanita itu malah mencintai Pria lain, dan selalu mengabaikan perasaan nya, hanya menganggap dirinya sebagai kakak.
Dan kali ini, ia harus bergerak, Wanitanya tengah terluka dan dia akan maju untuk mengobati luka di hati Evelyn, meskipun banyak nya ranjau akan selalu ia injak, dan pasti nya akan melukainya.
__ADS_1
Evelyn langsung mendorong Robert dengan kasar, dia tak mengucapkan sepatah katapun pada Pria yang masih mematung di tempatnya, dengan segera ia mengguyur tubuh nya dengan air yang mengalir, hari ini sungguh terasa berat baginya.
"Dasar Brengseek.". Umpat nya lagi, entah berapa kali ia mengumpat, terkadang memukul dada nya yang terasa sesak, hingga isakan pun tak bisa ia cegah.