
Ibu mana yang tega, saat melihat Putrinya bersedih apa lagi penyebab nya adalah dirinya sendiri, Andai saja Nilla mempunyai keberanian waktu itu, Pasti Anna sudah di bawa lari oleh nya.
Tapi semuanya percuma nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur dan hanya kata maaf lah yang ia bisa ucap kan saat ini. "Maaf kan Ibu Anna, Maaf kan Ibu". Kedua tangan nya sudah merengkuh tubuh Putrinya.
Hati terus merasa ngilu, di saat telinga mendengar Isak tangis dari Putrinya nya. "Maaf kan Ibu Anna". Tak ada kata lain yang bisa Nilla ucapkan pada Anna selain 'maaf', Wanita itu merasa sangat sakit di dalam hati.
Kejadian di saat Anna masih berusia 10 tahun, masih membekas di benak nya, meskipun itu sudah terjadi sangat lama, Tapi sebenarnya yang menjadi korban adalah Putrinya."Apa yang harus Ibu lakukan, untuk menebus kesalahan Ibu Sayang".
Anna menggeleng, wanita itu tak mampu lagi untuk berkata - kata, lidah seakan kelu untuk menjawab ucapan Ibunya.
Pria satu - satu nya di dalam ruangan itu, tampak bingung harus melakukan apa, 2 orang yang ada di hadapannya terus saja menangis.
Kaki nya mengayun mendekati keduanya, tangan nya pun terulur mengusap pundak Istrinya.."Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk Putrimu mengetahui semua nya Nilla".
Wanita itu menoleh ke arah Suaminya. "Tunggu Dia tenang, Cepat atau lambat Dia harus mengetahui semuanya". Sedikit Nilla tak setuju dengan ucapan Suaminya.
__ADS_1
"Baik lah, Aku serahkan semuanya padamu, apa yang terbaik untuk Putri kita".
"Mirra, jika kondisi Anna sudah lebih baik, ajak lah Dia ke Danau". Titah Leo pada pelayan nya. setelah mengatakan itu, Leo pun berlalu, memberi ruang dan waktu untuk keduanya.
Cukup lama Nilla dan juga Anna saling berbagi kesedihan, Untuk pertama kalinya Anna berkeluh kesah, tentu saja karna ada Nilla disampingnya.
Hingga sore pun kini sudah menyapa Anna, Wanita itu tak lagi bersedih, yang ada tengah menikmati pemandangan di sekitar Mansion, Meskipun mata nya sedikit sembab, namun Wanita itu masih saja terlihat cantik.
"Apa Evelyn adalah orang yang paling di segani di tempat ini".Anna berucap pelan. Sepanjang perjalanan banyak pasang mata yang memperhatikan, banyak yang menunduk hormat, namun di saat Anna melihatnya mereka tampak segan, dan itu membuat nya tak nyaman.
"Cerita kan tentang nya". Anna justru bersemangat. Sangat penasaran bagaimana seseorang versi lain yang mirip dengan nya.
"Semua pekerja yang melayani keluarga Brox sangat men-segani Nona Evelyn, tentu saja karna Dia Putri dari Tuan Leo, Nona terkenal kejam dan tak segan untuk menghukum siapa saja yang berbuat salah". Mirra sedikit menghela nafas nya.
"Kenapa...!. Apa kau juga pernah di hukum oleh nya".. Tanya Anna curiga, saat menangkap wajah sedih dari Mirra.
__ADS_1
Mirra menggeleng. "Putriku lah yang menjadi korban". Suara nya terdengar berat untuk melanjutkan cerita. "Dia memang salah, dan memang sepatutnya Putriku di hukum".
"Maaf Aku tidak bermaksud untuk membuka luka lama, Tapi apa penyebab Putrimu dihukum". Anna sangat ingin tahu.
"Putri ku iri dengan Nona Evelyn, dan meracuninya, untunglah Nona selamat namun sayangnya nyawa nya di gantikan oleh Putriku". Ya... Putri dari Mirra telah tiada kala itu, tapi untung lah hati Wanita itu sangat baik, jadi tak ada dendam di dalam hati, meskipun anak semata wayang tiada dengan mengenaskan.
"Aku minta maaf, Aku tidak bermaksud__"
"Tidak apa Nona wajar saja jika Anda penasaran ". Mirra mengulas senyum, setelah tadi sempat muram, karna teringat mendiang Putri nya.
Sementara ke 4 orang pengawal Pria saling memandang satu sama lain, mereka menggeleng dan menggedikan bahu seolah bertanya 'Apa yang terjadi'.
Tentu saja menjadi tanda tanya besar, seorang Nona yang amat mereka segani meminta maaf, terlebih lagi pada seorang pelayan, Lalu apa kabar dengan semua pekerja yang telah menjadi korban.
"Apa Nona Evelyn mengalami amnesia".
__ADS_1