My Dear Anna

My Dear Anna
Part 15


__ADS_3

Iring - iringan kendaraan mewah, terus melesat membelah jalan raya yang tidak terlalu padat, Anna yang bedada di samping Mam Dilla pun tak sadarkan diri, dengan terpaksa Mam Dilla memberikan obat bius pada Anna yang terus memberontak.


Tak ada yang berani menegur apa lagi menyapa, saat iring iringan dari kalangan atas telah sampai di tempat tujuan.


Dan disinilah Gadis cantik itu berada, sebuah kabin pesawat pribadi milik kelurga Abraham, yang kini sudah mengudara di atas langit, di dampingi Mam Dilla.


Selama 3 jam Anna tak sadarkan diri, hanya dalam hitungam jam dengan hanya menutup mata. Tubuh Gadis cantik itu sudah berpindah negara.


Netra indah itu, terus mengerejap beberapa kali, menatap atap langit yang terasa berbeda, dan ia sadar ini bukan lah kamarnya.


"Dimana ini". Gadis langsung bangun satelah sadar.


"Ini di rumah Mama sayang". Dilla yang sejak tadi menuggu calon mantu nya sadar langsung duduk di tepi ranjang.


" Maaf, nyonya siapa". Tanya Anna. Ada rasa takut yang ia rasakan, saat mengingat kejadian sebelumnya.


"Apa wajah Mam semenakutkan itu".Mam Dilla terus mengikis jarak, mencoba lebih dekat dengan calon menantunya. "Maaf kan Mama jika awal pertemuan kita kurang baik". Ucap Dilla, mengarah kepertemuan mereka beberapa jam lalu.


"Apa Nyonya mengenal Saya".


" Anna sayang, mulai hari kamu harus memanggil ku Mama". Ucap Dilla dengan senyuman terus menghiasi wajah nya. "Ini kali pertama kita bertemu, dan kamu harus terbiasa ya".


" Nyonya Saya benar benar tidak paham, apa maksud Nyonya membawa Saya kemari". Anna tak paham apalagi mengerti, beberapa jam yang lalu ia masih menikmati percintaan nya dengan kekasihnya, namun dengan secepat kilat, Gadis itu kini terbangun di tempat yang berbeda.


"Menjadikan mu menantuku".Jawab Dilla tersenyum lebar.


" Menantu..". Gumam Anna. Apa ia tak salah dengar.


Mam Dilla memberikan ponsel miliknya pada Anna memperlihatkan 1 buah video dewasa berdurasi 15 menit itu. "Apa Wanita di dalam video itu adalah kamu". Tanya Dilla, sebenarnya tampa bertanya pun, Wanita paruh baya itu, pu bisa melihat kemiripan nya.


Mata Anna membulat dengan sempurna, ia membekap mulutnya, dengan tak percaya, ia melihat tayangan pergumulan nya dengan Tuan Aslan minggu lalu.. "Dari mana, Nyonya mendaparkan ini".


"Alicia, mantan calon mantuku".

__ADS_1


Anna merasa bersalah, dan juga hina bagaimana bisa ia melakukan itu di depan Tunangan Aslan. "Nyonya Aku minta maaf".


"Untuk apa kamu minta maaf sayang".


Anna mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Mam Dilla, sungguh ia tak bermaksud membuat 2 keluarga menjadi renggang karna, Apa lagi ia merasa beralah pada Alicia, yang secara live menonton mereka.


" Mama tahu Sayang, kamu bukan Wanita seperti itu, dan Mama juga tahu, Alicia menonton aksi kalian".Ucap Mam Dilla, seraya mengusap cairan bening yang lolos dari mara Anna. "Bukan kah Alicia wanita hebat Sayang, dan sayang nya mereka tak saling menyukai".


" Terutama Alicia, Mama tahu ia menyukai Jonathan bukan nya Malik".Sambung Mam Dilla kembali.


"Kak Nath".Gumam Anna.


" Masalah pernikahan kita bicarakan besok, sekarang kamu istrihatlah". Ucap Mam Dilla seraya mengecup kening Anna.


"Siapa yang mau menikah..!?'


" Tentu kamu Anna". Mam Dilla mengusap lembut kepala Anna. "Berani berbuat, maka harus berani bertanggun jawab". Setelah mengucapkan hal itu, Mam Dilla melangkah kakinya keluar, meninggalkan Anna, yang masih diam dan mematung.


Terkejut...!?


Jangam di tanya, mungkin ini lebih dari sekedar terkejut, dalam 1 hari rangkaian peristiwa sangat mengejutkan jiwa Anna, hingga hawa malam yang teras sunyi semakin menenggelamkan jiwanya, untuk mengarungi alam mimpi.


Tepat pukul 9 tepat, sebuah mobil mewah telah terparkir sempurna di salah satu hunian megah bertingkat itu.


Terlihat kepala seorang Pria menyebul keluar dari dalam mobil, dengan tergesa gesa, langkah kaki nya terus mengayun mencari sosok yang ia cari.


Sapaan demi sapaan yang teilihat hormat, terus menghiasi derap langkanya, tak kunjung menemukan orang yang ia cari, dengan terpaksa ia menanyakan pada salah pelayan nya.


"Dimana Gadis yang di bawa Mam ku semalam". Pria tampan itu mencekal, pergelangan tangan wanita paruh baya.


" Maksud Anda Tuan muda...?".


"Calon Istriku., kau tahu dia di mana sekarang" Pelayan pun mengangguk paham

__ADS_1


"Non Anna ada di taman belakang".


Alih alih mengucapkan trimakasih, Pria itu langsung melengos menuju taman belakang, setelah mendapat kabar soal Mam nya membawa Anna pagi tadi, Aslan langsung melesat ke negara di mana Orang tua nya tinggal.


Dan di sinilah Pria itu sekarang, menatap Gadis cantik dengan berbalut mini dres, yang tengah menikmati sebuah taman indah milik keluarga Abrahan.


Kakinya mengayun mengikuti langkah Anna, yang menuju sebuah labirin. "Kenapa tak masuk..!?".


Suara bariton dari Pria yang ia kenal mengejutkan nya. " Tuan..". Anna mematung melihat Pria yang telah merenggut kehormatan nya berdiri tepat di depan nya.


"Aku akan menemanimu". Ajak Aslan, meraih telapak tangan Anna untuk mengikuti langkahnya.


Menyusuri jalan setapak yang ada di dalam labirin, mereka berjalan beriringan sambil perpengan tangan.


Hening ...!.


Keduanya masih bungkam, padahal ada banyak hal yang harus mereka bicarakan, namun mereka sama - sama bingung, harus mulai dari mana.


Setelah berjalan selama 15 menit, tibalah mereka di jantung labirin yang di penuhi banyak tanaman hiasa dan kelopak bungga yang bermekaran Suasana indah dan romantis.


"Aku ingin minta maaf padamu Anna atas apa yang telah terjadi, karna aku, kamu harus terlibat jauh ke dalam masalah ini". Aslan men-genggam kedua tangan Anna, menatap wajah Anna begitu lekat.


Hanya suara segukan yang keluar dari mulut Anna. "Aku minta maaf Anna, aku sadar perlakuan ku padamu sudah kelewatan". Pria yang sudah mendapat sebuah hidayah itu, amat menyesali, mengingat bagaimana ia melecehkan Anna, sampai berani mengambil kehormatan milik wanita.


"Aku akan bertanggung jawab, dan akan menikahimu". Wajah Anna mendongkak ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Mau kan kau menikah denganku, dan memaafkan semua perbuatan ku".


" Apa ini sebuah lamaran.". Gadis itu menjawab dengan sebuah pertanyaan.


"Bisa di bilang seperti itu". Aslan terkekeh dengan pernyataan nya sendiri, baginya ini sangat lucu, seorang Aslan Malik Abram berlutut di hadapn Wanita yang 'belum' ia cintai.


Ia mengaris bawahi kata belum, dan ia berniat untuk mulai membuka hatinya untuk Wanita lain. "Bagaimana Anna...!?, Apa lamaran ku di terima".


"Aku tak melihat adanya cincin".

__ADS_1


Aslan menghela nafasnya, ia pun berdiri mencari sesuatu untuk di buat cincin, tak kehabisan akal pria itu, menarik tanaman hias yang menyerupai tali, merangkai tanaman hingga berbentuk lingkaran, mencabut secara asal puluhan tangkai bunga.


...~Jangn lupa like dan juga coment ya ~...


__ADS_2