My Dear Anna

My Dear Anna
Part 12


__ADS_3

"Ahhhhhk, sudah lama aku tak memasak". Anna merentangkan kedua tangan nya, setelah tubuhnya sudah terasa segar.


Langkah nya kembali mengayun menuju dapur, tangan nya begitu lihai mengolah bahan makanan dan menjadikan sajian yang menggugah selera. "Kak Nathan masih belum bangun.". Anna melihat jarum jam yang sudah menunjukan siang hari.


Tepat ia akan mengetuk, pintu pun dengan sendrinya, hingga 2 pasang mata tak sengaja bersitatap hingga beberapa detik.


" Aku sudah memasak". Ucap Anna yang terdengar gugup.


"Kita makan bareng". Ajak Jo merangkul bahu Anna menuju meja makan.


"Kenapa dengan jantung ku akhir akhir ini, apa kelamaan jomblo ya".


"Tak baik melamun saat makan".Sindir Jonathan. "Setelah ini ada yang mau aku bicarakan".


"Tentang Apa...?"


"Habisakan dulu makanan mu, baru setelah ini kita bicara".


Dan di sinilah mereka berada, halaman belakang hunian sederhana itu. Tempat yang tenang untuk menikmati waktu berdua.


"Apa tekad mu untuk membalas dendam, tak ingin kau urungkan". Jonathan memulai pembicaraan nya.


"Tentu saja tidak".Anna menggeleng cepat. " Setidaknya mereka yang telah membuat aku seperti ini, harus membayar atas perbuatan nya". Anna menatap wajah Jonathan. "Apa Kakak tak ingin membantuku".


"Tentu saja Aku akan membantumu". Jonathan mengusap lembut kepala Anna. "Aku memiliki satu cara agar kamu bisa lebih dekat dengan Tuan Aslan".


"Caranya..!?".


" Kebetulan dalam 2 minggu ini posisi sekertaris akan kosong, dan kamu bisa maju untuk mengisinya". Jelas Jonathan. "Tentu bukan masalah besar kan, dan Aku yakin kamu bisa".


" Baiklah.., untung waktu kuliah aku mengambil jurusan Manajemen bisnis".Anna sepakat begitu saja demi dendam ia rela menggoda Tuan Aslan.


Sesuai kesepakatan Anna yang selama 2 minggu ini bersiap untuk menjadi sekertaris seorang CEO, sudah siap dengan setelan nya, tak tanggung tanggung, seorang Wanita bernama Melia pun mengajari Anna hingga pererjaan itu sudah berpindah tangan pada Anna.


"Bagaimana penampilan ku". Tanya Anna pada Jo. "Apa ada yang kurang".


Jo tersenyum, langkah nya terayun mendekati Anna. "Cantik.. namun akan lebih cantik jika rambutmu di buat terurai seperti ini". Jo menarik ikatan rambut Anna.


" Jangan menatap ku seperti itu Kak". Ucap Anna dengan wajah memerah. "Nanti aku bisa ingkar janji".


"Ingkar janji..".Dahi Jo pun berkerut, ia benar benar tak paham apa yang di ucapkan Anna.


" Nanti aku bisa ingkar agar tidak menyukaimu". Anna berucap sangat pelan hingga samar terdengar oleh Jo.


"Apa yang kamu katatakan Anna".Teriak Jonathan. "Apa Aku tak salah dengar, bahwa ingkar janji yang ia maksud adalah menyukaiku". Jo bermolog sendiri.


" Kak ayuu". Ajak Anna.


Keduanya masuk kedalam mobil, meninggalkan paviliun menuju rumah utama.


"Selamat pagi Tuan". Sapa pelayan pada Jonathan. "Tadi Tuan muda berpesan jika anda sudah datang, segera menyusul saja ke kantor".

__ADS_1


"Baiklah..."


_


_


_


Di kantor.


"Selamat pagi Tuan".Sapa Jonathan.


" Kau sudah datang Nath". Aslan berucap seraya membuka lembaran file dokumen untuk persiapan bertemu Klient nanti. "Bagaimana kau sudah mempertimbangkan ucapan ku kemarin".


" Maaf Tuan, Saya tidak bisa, apalagi harus mengecewakan Nyonya besar". Terlebih lagi ia sudah menyukai Anna, meskipun masih ada cinta untuk Alicia.


"Nath sudah ku bilang, jika kita sedang berdua bersikaplah saat kau dulu belum mengetahui siapa aku".


" Baik Malik, aku akan bersikap seperti dulu lagi".


Aslan tersenyum akhirnya sahabatnya memanggil nama tengah nya yang ia pakai saat kuliah dulu, ada cerita bagaimana mereka bisa menjadi sahabat dan saat ini menjadi majikan dan juga bawahan.


"Ok.. Apa kau bisa membantuku". Jo menggeleng sebagai jawaban nya.


"Kalau kau tak menyukainya, katakan yang sejujurnya pada Alicia, kamu tahu dia itu wanita baik - baik".ucap Jonathan.


" Aku tau."


"Untuk apa aku memikirkan Wanita itu, Nath ku mohon jangan ungkit dia lagi". Ucap Aslan dengan dingin. "Bisa kah kau yang menemui Klient kita nanti".


"Apa kau tak bisa tidur lagi".Tebak Jo, sudah berhari hari sahabatnya itu mengeluh tak bisa tidur nyenyak.


" Hm.."


"Oh ya kamu masih ingat dengan Anna Mal..".Jo mengalihkan pembicaraan mereka. "Gelandangan yang di kita tabrak" .


"Lalu..."


"Dia yang akan menggantikan Melia mulai hari ini" Ucap Jonathan.


"Emmh jadi dia sekertaris baruku".Tanya Aslan seraya menandatangi beberapa file. "Apa kau sengaja, membiarkan gadis kumal itu berada di samping ku".


"Dia tak lagi kumal Malik".


"Terserah.." Aslan tak peduli entah Gadis bernama Anna itu kumal atau tidak. Yang di pikirkan nya saat ini adalah kucingnya yang lari 2 minggu lalu.


Brakkk.


Aslan memukul meja, saat teringat bagaimana Gadis itu lari setelah membuatnya pingsan dan lebih parahnya dia adalah satu satu nya orang yang mengetahui rahasianya.


_

__ADS_1


_


_


Gadis cantik dengan setelan senada nya, kini menjadi pusat perhatian tak sedikit para karyawati merasa iri, banyak nya orang yang menginginkan posisi nya saat ini, bahkan Melia sekertaris sebelumnya akhirnya menyerah juga.


Braaak.


Seorang wanita cantik dengan body menarik mendatangi Anna, tentu saja kedatangan nya ingin mencari gara gara. "Apa kau naik ke ranjang Tuan Jo, hingga berada di posisi ini". Wanita bernama Arilla itu berbicara sangat ketus.


" Maaf nona Saya tak paham apa maksud Anda". Meskipun ia bisa menjadi sekertaris tampa melakukan wawancara kerja, tapi Anna benar benar tak paham apa maksud dari ucapan Wanita dengan pakaian seksi itu.


"Bego di piara..". Rilla mentoyor dahi Anna hingga kepalanya sedikit terhuyung.


Secepat kilat Anna menarik lengan Arilla, memelintirnya hingga wanita itu terpekik. "Apa mau kupatahkan saja lengan mu ini". Ancam Anna.


" Awww... dasar jala*ng lepas". Ucap Arilla setengah berteriak, para karyawan yang mendapat tontonan gratis hanya tersenyum puas


'Akhirnya ular derik mendapat balasan nya'.


"Pergi kau". Anna mendorong tubuh Arilla sangat kuat, dengan terpaksa ia melepas Wanita itu begitu saja padahal ia ingin lebih bermain dengan Arilla, karna telpon di atas meja nya berdering.


"Selamat siang dengan Anna disini". Sapa Anna saat gagang telpon sudah berada dekat telinganya.


" Buatkan saya Kopi hitam dengan gula 1 sendok". Ucap seseorang di sebrang sana.


"Baik Tuan".


Terdengar bunyi ketukan sebanyak 3 kali, setelah mendengar jawaban dari arah dalam, Anna membuka knop pintu "Ini kopi Anda Tuan".


"Taruh di meja". Suara yang terdengar datar begitu pamiliar di pendengaran Anna. Sedikit ia mencuri pandang dengan penasaran ia ingin melihat wajah yang ia tahu bernama Tuan Aslan.


Namum hanya ujung kepalanya yang hanya terlihat, wajah nya tertutup komputer berukuran cukup besar.


"Apa ada yang Tuan butuhkan kembali". Tanya Anna.


"Tidak terimakasih".


"Kalau begitu saya pamit undur diri". Tepat tangan nya meraih knop pintu, suara yang tampak terdengar tidak asing kembali memanggilnya.


"Iya Tuan". Anna berbalik, ia mematung di tempatnya.


"Tolong berikan ini pada Gino". Aslan menepuk file dokumen yang tepat di samping komputer.


"Baik Tuan". Kaki jenjang miliknya terayun mendekari meja Tuan Aslan. "Maaf Tuan, dimana Saya bisa bertemu dengan Tuan Gino". Tanya Anna, dengan semburat kejanggalan tak hanya suara namun di lihat dari samping ia kenal siapa Pria di hadapan nya.


" Kau bisa bertanya pada Arilla". Jawab Aslan, jemarinya masih bermain lincah di atas keybord. "Apa masih ada pertanyaan lain". Imbuh Pria tampan itu, matanya menangkap sekertaris barunya itu masih diam mematung di samping mejanya.


Aslan yang mulai risih karna sikap sekertarisnya, akhirnya mengalihkan perharian nya pada Anna. "Mau sampai kapan Kau ber~". Aslan yang begitu terkesiap saat beradu pandang dengan sekertaris barunya itu. " Kau....!".


...~Jangan lupa tinggal kan jejak, like dan coment nya~>...

__ADS_1


__ADS_2