
Pajar pun menyapa Gadis yang masih terlelap di bawah selimutnya.
" Ck.. dasar pemalas..". Umpat Aslan, ia meneteskan air ke kening Gadis itu, dan membuat Anna terperanjat kaget.
"Kakkk Hujan". Anna langsung terkesiap, dengan perasaan yang was was.
"Hujan dari mana..".Aslan terkekeh, seraya meletakan makanan yang ia bawa ke atas nakas. "Ini makanan mu".Pria tampan yang sudah siap dengan setelan nya kembali meninggalkan Anna, yang masih linglung.
Hari hari Anna, tak ada yang berubah sudah 1 minggu ia di sekap tampa di ijinkan untuk menghirup udara segar, dan selama 1 minggu itu ia selalu memperhatikan pergerakan Aslan hingga kini ia tahu bagaimana caranya keluar dari tempat terkutuk ini.
"Apa kau membayangkan, sedang memukuliku. Ha..".Ucap Aslan yang mendapati Anna senyum senyum sendiri.
" Ehh Tuan kau sudah datang". Anna tersenyum kaku. "Mana berani.. Aku takut lidah ku jadi kau potong".Memang ada benarnya yang di katakan Aslan, ia berniat memukul Pria di depan nya hingga pingsan, tentu saja demi keluar dari tempat itu.
Aslan terkekeh, bagaimana Gadis ini percaya dengan ancaman nya kemarin
"Malam ini Aku akan tidur disini".
"Lalu Aku tidur dimana".Ucapan bernada bertanya itu, di lontarkan Anna. "Kalau begitu Aku tidur di sofa saja".
Brugggh.
Aslan menarik tangan Anna hingga Gadis itu kembali terjerembab di atas ranjangnya. "Temani Aku di sini saja". Tangan nya merangkup tubuh Anna hingga berada di dalam dekapan nya.
" Tuan ... lepas..".
"Aku akan mencium mu, kalau kau tak mau diam". Ancam Aslan.
Gleg.
Rasanya sangat susah untuk menelan seliva saja, tubuhnya di rangkup dengan erat layaknya guling, Wajah tampan Aslan kini memenuhi netra indahnya, hingga lengkungan terukir di sudut bibirnya.
"Aku memang tampan". Ucap Aslan dengan mata yang masih terperjam. "Coba ku lihat, dan wajahmu, cukup cantik saat di pandang dari jarak dekat".Kedua netra itu saling bersitatap.
Jemari milik Pria itu, menyampingkan anak rambut milik Anna. "Aku ingin merasakan lagi milikmu ini". Tunjuk Aslan pada bibir Ana.
Deg.
Lagi lagi jantung Anna kembali berdebar, Apa lagi wajah tampan Aslan mulai mendekat.
Tampa meminta ijin Aslan terus mengikis jarak, namun ciuman Pria itu hanya mendarat di telapak tangan Anna, ternyata Gadis itu menutupinya.
Anna menggeleng tampa tak setuju, tapi Pria itu tak peduli ia malah menggigit telapak tangan Anna.
"Awwww. apa kau ini Anji*ng". Umpat Anna sambil mengibas tangan yang sedikit sakit.
__ADS_1
Aslan tersenyum simpul, tampa menjawab ocehan Anna, Pria itu langsung menyatukan miliknya dan bibir Anna.
" Heummmmm".Anna terus bergumam saat bibirnya berhasil di bungka oleh Aslan.
"Tuan ingin membunuhku.". Ucap Anna dengan nafas yang terengah - engah.
"Bernafaslah Bo*doh.". Umpat Aslan dan kembali meraup bibir Anna, hingga sebuah ******* pun berhasil berexplore ria.
"Heummmmm.., Ahhhhk Tuan hentikan". Anna terus menggeliat saat tangan dan bibir Aslan menggerliya di tubuhnya.
"Tuan ku mohon hentikan". Tangan Anna mencekal pergerakan Aslan.
" Aku menginginkan mu". Sadar dengan keinginan nya, Aslan kembali ******* bibir Anna, entah apa yang pria itu rasakan yang jelas ia ingin memiliki Anna seutuhnya.
Brugh.
Sebuah dorongan kuat menghantam dada bidang Pria itu, hingga berakhir terjerembab di bawah ranjang, tangan Anna terulur mengabil benda berat yang ada di atas nakas.
Aslan yang mencoba untuk bangun kembali mendapat hantaman keras pada ceruk lehernya.
"Aaaahkhhkk".Aslan tampak meringis, belum selesai ia mengumpat pada Anna, pukulan itu kembali menghantap kepalanya.
Brugggh.
"Aku pasti bisa". Dengan semangat 45, tangan Anna terus berusaha menyeret tubuh Aslan, dan melancarkan aksinya, dengan susah payah dan sekuat tenaga ia marik tubuh Aslan.
"Jangan mengecewakan ku". Anna menatap telapak tangan Aslan, merentangkan ke lima jari itu, ke alat pendeteksi di salah satu tembok.
" Yeeeeeehhh". Anna bersorak riang, Akhinya pintu keluar pun terbuka, sebelum pintu itu kembali tertutup Anna melangkah keluar meninggalkan Aslan yang masih pingsan.
Pintu pun tertutup, Mata nya kembali menatap sisi tembok, tak akan ada yang percaya potongan persegi dari batu alam itu, menyimpan salah satu pintu rahasia.
Jika akses masuk hanya bisa menggunakan sidik jari Pria itu, lalu kenapa malam itu ia bisa masuk.
Entahlah...!.
Anna bergidik tak peduli, apa lagi memikirkan cara nya ia masuk ketempat itu."Mungkin sistemnya lagi error".Gumam Anna.
Angin malam yang terus berhembus terus mengibas surai panjang nya, seiring dengan langkah cepatnya, menuju tempat yang ia tinggali selama ini.
"Anna...". Jo yang hendak masuk ke dalam rumah, tersontak kaget dengan adanya sosok tubuh yang berhambur ke arahnya.
Kepala Anna mendongkak menatap wajah tampan Kakak angkatnya itu. "Kakak..". Anna berucap dengan lirih. "Tolong Aku Kak".
Tampa mengucapkan apapun Jonathan langsung memangku tubuh Anna, membawa Gadis itu ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kemana kamu selama ini..?. Dan sebenernya apa yang terjadi sama kamu
..?.Apa selama 1minggu ini kamu bersama Tuan Aslan". Sederet pertanyaan di lontarkan Jonathan pada Gadis yang sudah berbaring di ranjangnya. "Jawab Anna..".
Melihat Anna yang masih diam, Jonathan tak menyerah mengorek impormasi dari Adik angkatnya itu. "Siapa yang melakukan ini padamu". Mata Jo menangkap bekas merah, yang ia tahu itu apa.
"Lapar...". Lirih Anna.
Jo menghembuskan nafasnya dengan kasar. " Tunggu sebentar". Kaki Pria itu mengayun ke luar kamar, mengambil sebuh paper bag yang ia bawa tadi. Mengeluakan isinya yang kini sudah berada di atas piring.
"Aku akan menyuapimu". Jonathan menyodokan makan itu, pada Anna yang terlihat pucat. sendokan demi sendokan memasuki mulut Anna hingga isi yang ada di piring sudah tandas dan berpindah tempat pada perut Anna.
"Sekarang ceritakan Apa yang terjadi" Jo menatap manik Anna dengan lekat. "Apa tuan Aslan yang melakukan ini padamu...!?". Anna pun hanya menggeleng sebagai jawaban nya. "Lalu siapa, tentu tak mungkin tanda merah ini ada banyak di lehermu".
" Aku yakin Pria gila itu bukan lah Tuan Aslan, karna tak mungkin Pria yang Kakak ku kagumi, memiliki hobby aneh seperti itu". Anna mulai membuka suaranya, menceritakan semua yang terjadi, dari ia tercebur bahkan di sekap di ruangan seorang Pria tampan, yang lebih layak di sebuar kamar anak kecil.
"Kakak tau dia itu maniak super hero, bahkan banyak kostum dan patung lilin di dalam ruangan itu".
Jo tampak berpikir, dan tak mungkin Pria yang menyekap Anna adalah Tuan Aslan, dan tak mungkin juga Tuan nya itu memiliki hobby yang aneh.
" Kau benar, tak mungkin dia adalah Tuan Aslan secara aku mengenal baik saat dulu". Jo duduk di sisi ranjang meraup tubub kecil Anna kedalam pelukan nya. "Tapi aku senang kau bisa kembali dengan selamat.
Deg.
Jantung Anna serasa ingin melompat dari tempat nya, merasakan pelukan dari Jonathan. " Kak Aku...". Anna merasa gugup pelukan itu terasa semakin erat.
"Malam ini tidurlah disini". Jo mengurai pelukan nya.
"Lalu Kakak mau tidur dimana".
Mata Jo mengarah menuju sofa. "Aku akan tidur disana, malam ini Aku akan menjagamu".
_
_
_
Pagi pun menyapa Anna, ia menyibak selimut tebal, kaki jenjang perlahan turun hingga menapak ke lantai, dengan gontai langkah nya mengayun menuju kamar mandi.
Kurang dari sepuluh menit ia pun sudah menapakan kaki nya di kamar milik kakak angkatnya itu, Netra indah Anna menangkap sosok tampan di atas sofa, terliahat nafas nya begitu teratur menandakan Pria itu masih terlelap dalam tidurnya.
"Trimaksih Kak Nathan, sudah menjagaku selama ini". Anna berlalu pergi setelah menaikan selimut hingga menutupi tubuh Jonathan dan hanya menyisakan kepalanya saja.
...~Jangan lupa tinggal kan jejak ya, like dan juga coment nya ~>...
__ADS_1