
Dalam sebuah kamar yang dipenuhi kegelapan dan hanya menyisakan cahaya bulan dari luar ke dalam, terlihat seseorang tengah terduduk lemah sambil menyandarkan tubuhnya di bawah ranjang. Dalam keterdiaman nya ia menangis untuk kesekian kalinya, butiran-butiran kristal kecil terus saja keluar dari mata cantiknya itu. Pandangannya seakan hampa tidak ada menarik dari matanya itu, piyama tidur yang cantik itu lama-kelamaan semakin basah terkena tetesan air mata dari pipinya. Dia Kayla Isvara.
Menangis dalam keterdiaman nya, seakan dunianya sedang tidak baik-baik saja. Ya, memang sedang tidak baik-baik saja. Karena ada akhirnya apa yang ia lindungi selama ini dengan baik kembali hancur berantakan, padahal ia pernah berjanji untuk tidak membiarkan salah satu saudaranya terluka akan dunia lagi.
"Aku akan melindungi mu, dari siapapun. Aku berjanji bahwa kau tidak akan pernah ikut merasakan apa yang adikku Moana rasakan. Hey kau tau El! Aku bahagia bisa menjadikanmu sebagai saudaraku, terimakasih untuk semuanya"
"Untuk apa berterimakasih, itu harusnya aku bukan yang mengatakannya? Kau ini... Sudahlah kau tidak perlu berjanji untuk menjagaku, cukup bertindak menjagaku saja oke"
"Ya-ya baiklah"
"Tuhan, mengapa kau selalu mempersulit jalan kehidupan saudara-saudaraku. Mengapa harus mereka dan bukan aku? Jika seperti ini, aku memang benar-benar tidak becus dalam menjadi pelindung untuk mereka. Aku gagal lagi dalam kedua kalinya" Melirih ucapannya Kayla dalam tangisnya itu.
"Aku gagal"
"Kau tidak gagal"
"Jangan menyalahkan siapapun itu termasuk dirimu sendiri, karena ini sudah takdir yang menentukan. Kita hanya bisa menjalankannya tanpa bisa menghentikannya" Ujarnya Adam dengan datang sambil membawa sebuah nampan berisi makanan, karena memang Kayla belum makan malam sedari tadi.
Meletakan makan malam untuk Kayla itu di hadapan Kayla dan terduduk ikut di lantai yang dingin di samping Kayla tersebut, perlahan tangan nya menghapus sisa-sisa air mata yang masih berada di pipi chubby milik Kayla itu. "Berhentilah menangis, kau sangat jelek" Kata itu yang Adam lontarkan pada Kayla saat tangan nya menghapus sisa-sisa air mata milik Kayla.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Kayla dengan menatap dalam wajah Adam untuk pertama kalinya sedalam mungkin.
"Kekasihku sedang terpuruk karena merasa dirinya menjadi alasan untuk kejadian malam yang panjang ini, aku sebagai kekasihnya bukankah harus berada di sisinya?" Jawab Adam dengan tersenyum lembut untuk pertama kalinya dihadapan Kayla juga.
"Deg" jantung Kayla tertegun dan memompa sangat cepat ketika melihat senyuman manis yang lembut itu ditunjukkan padanya. Senyuman manis yang begitu tulus dan lembut terlihat dibibir seorang Adam yang terkenal sangat galak baginya dan ngeselin itu, untuk sesaat ia terpana akan senyum itu. Tapi detik kemudian tersadar kembali.
"Kau memperdulikan ku?"
"Menurutmu apa?"
"....." Kayla terdiam.
"Untuk apa?"
"Apanya?" Bingung Adam dengan menyodorkan sendok yang berisi nasi di hadapan Kayla, menyuapi Kayla di malam yang gelap tanpa pencahayaan.
"Untuk apa kau perduli? Aku membencimu tapi mengapa kau memperlakukan ku bagaikan kau begitu mencintai ku? bukankah kau menjadikan ku sebagai kekasihmu hanya sebagai status saja, selama ini kau hany--"
__ADS_1
"Aku mencintaimu, tidak ada alasan untuk aku harus mencintai mu. Karena aku mencintaimu tanpa ada sebuah alasan, dari hatiku aku tau bahwa hanya kau yang di inginkan nya. Kau sebenarnya tidak menarik, tidak cantik, tidak termasuk ke dalam kriteria wanitaku. Tapi karena hatiku memilih mu maka aku menginginkan mu" Bohongnya Adam untuk beberapa perkataan nya.
"Bukalah mulutmu" Pinta Adam.
"Aku tidak lapar"
"Aku tidak memintamu untuk berkomentar, buka saja mulutmu. Jika tidak menginginkan aku menyuapi mu dengan sendok, maka aku akan menyuapi mu dengan bibir ku" Ancam Adam yang tak main-main.
Kayla hanya bisa pasrah membuka mulutnya itu, karena tidak ingin berdebat dengan Adam untuk saat ini, mood nya sedang tidak baik-baik saja. Jadi ia terpaksa menuruti permintaan Adam, bukan berarti Kayla takut akan ancaman Adam tadi. Tapi karena mood nya sedang buruk jadi ia nurut.
"Jika kau seperti ini, kau seperti bukan singa kecil yang aku kenal. Kau bagaikan bunga yang layu, kau ini seharusnya lebih cocok menjadi singa kecil yang suka mengeluarkan taring dari pada menjadi bunga yang layu" Tutur Adam.
"Kau cerewet" Ketua Kayla.
"Kau tidak suka? Jika kau tidak suka aku akan terus cerewet sampai kau muak denganku. Lalu kau kembali--"
"Kau berkata sekali lagi, akan aku tendang kau keluar dari kamar ini. Kemarikan piring nya, aku akan makan sendiri" Kesal Kayla dengan merampas piring makan yang berada di tangan Adam itu.
Melihat Kayla sudah mulai kesal, sudut bibir Adam tanpa sadar terangkat. Karena ia bahagia ketika melihat Kayla udah seperti sebelumnya, dimana mood nya perlahan terlihat kembali.
"Janganlah merasa bersalah atas kehendaknya takdir, dan janganlah menyalahkan kehendaknya takdir. Baik kebahagiaan, tangisan, luka dan keburukan semua sudah ditentukan masing-masing part bagiannya. Kita hanya harus kuat dan mampu untuk menjalankan nya sampai akhir, dimana akhirnya entah kebahagiaan atau bukan kita hanya perlu menerimanya" Adam Malik Bagaskara.
*****
"Kau sakit"
"Tidak, aku hanya sedikit demam. Mungkin karena aku tadi berlama diluar dengan tubuh yang basah dan sekarang aku masuk angin" Jelas Nathaniel dengan mengelak bahwa dirinya terkena angin malam yang membuatnya demam seketika.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak berlebihan dalam hal ini" Gumam Elzeyna dengan terus mengelus lembut puncak kepala Nathaniel yang tengah menaruh kepalanya dalam pangkuan Elzeyna.
"Kau tidak salah, aku yang salah"
"Tidak! Itu tidak benar. Jelas sudah kita berdua yang salah" Tolak Elzeyna cepat.
"Aku akan tidur, maaf. Karena tidak bisa memberikan mu malam pertama yang indah, bahkan pernikahan yang indah seperti yang kau harapkan beberapa tahun yang lalu" Lirih Nathaniel dengan perlahan menutup kedua matanya itu.
"Jika kau tidak sakit, aku sudah akan melempar bola sepak ke kepala kau. Sayangnya kau selamat karena kau sedang sakit, dan untuk masalah pernikahan. Aku sudah tidak ingin membahasnya, aku justru akan mencoba menerimanya. Bagaimana pun caranya apa yang telah terjadi tetap harus di jalankan" Ucap Elzeyna sepelan mungkin.
__ADS_1
Samar-samar ucapan Elzeyna itu terdengar ditelinga Nathaniel, walau menutup kedua matanya tapi ia masih bisa mendengar ucapan Elzeyna. Jika bukan karena kepalanya yang sakit, mungkin ia akan membalas ucapan Elzeyna itu tapi ia mengurungkan nya karena kondisinya yang saat ini mulai lemah. Akibat angin malam yang ia terima.
"Aku akan meminta Keandra dan Moana memanggil dokter untuk mu, aku akan--"
"Jangan pergi, aku tidak membutuhkan dokter. Aku hanya membutuhkan mu, kau adalah penawar dari setiap rasa sakit ku" Lirih Nathaniel dengan meminta.
"Dalam keadaan seperti ini, kau masih bisa mengucapkan kata-kata bulshit mu" Balas Elzeyna.
"Jangan pergi-- aku mohon"
"Tapi kau sakit, demam mu semakin tinggi"
"Jangan tinggalkan aku lagi" Ngigau Nathaniel sedari tadi terus menjawab tanpa sadar.
Keringat dingin kini terus saja keluar dari tubuhnya, suhu tubuhnya bertambah menjadi panas. Seketika Elzeyna menjadi panik, jujur saja Elzeyna pernah mengalami hal ini saat beberapa tahun yang lalu dan ia tau betul jika keadaan Nathaniel seperti ini tandanya Nathaniel tengah menahan rasa sakit yang begitu luar biasa menyerangnya, dan kemungkinan saat ini Nathaniel sedang tidak sadarkan diri tapi walau begitu ia masih bisa menjawab tiap perkataan yang Elzeyna lontarkan karena mengigau.
"Aku aka--"
"Jangan pergi Zey--"
"Jangan pergi, aku sangat tersiksa. Ini mengiksaku! Kau jangan pergi, kau tidak boleh meninggalkan aku lagi. Aku mohon padamu, jangan siksa aku atas kepergiannya dirimu. Aku minta maaf, aku salah! tolong jangan pergi--jangan pergi Zey. Jangan pergi" Ngigau Nathaniel dengan tidak mau berhenti memberontak kesakitan dalam tidurnya itu.
"Hikssss... Maafkan aku, aku tidak akan pergi. Sadarlah, ini aku" Isak Elzeyna.
"Maafkan aku, sadarlah"
"Jangan membuatku takut!"
"Hikssss..."
*****
..."Kau adalah putriku! Athvaretta Amora Xaviera Galaxy. Putriku tercinta. Nak, suatu saat kau harus menjadi wanita yang baik, hiduplah dalam kedamaian dan janganlah kau menjadi wanita yang buruk. Nak, ketika aku dan daddy tiada. Kau harus mematuhi kakak mu, patuhilah ia sebagaimana kau mematuhi kami. Menurutlah pada kakak mu sebagai mana kau menurut pada kami, janganlah membantah setiap apa yang kakak mu ucapkan. Demi kebaikan mu, kehidupan mu, dan kebahagiaan mu. Kakak mu akan seolah tidak perduli padamu, tapi ketahuilah ia sangat memperdulikan mu. Jika kau mempunyai masalah, kau hanya perlu menceritakan tiap masalah mu pada kakak mu itu, kakak mu adalah pengganti daddy mu sekaligus pengganti aku-mommy mu. Aku berharap suatu saat nanti kau menjadi wanita yang begitu membanggakan, setidaknya jika tidak di pandangan orang lain maka di pandangan kami. Kau adalah putri kecil yang aku dan daddy mu sayangi, yang kami cintai dan kami banggakan. Kelak, berbahagialah terus dan jangan menyusahkan kakak mu. Hiduplah dengan kedamaian yang ada, itu akan membuat kami bahagia dan bangga telah memilikimu. Jangan kecewakan kami nak! Athvaretta Amora Xaviera Galaxy. Kami mencintai mu bagaikan sebuah berlian yang langka, tanpa membandingkan mu dengan berlian kau akan jauh lebih berharga dari pada sebuah berlian tersebut. Kau adalah saksi dari hasil antara kisah cinta aku dan daddy mu"...
...@Moana Xaviera Galaxy....
__ADS_1