
Hari berganti hari, jam berganti jam, menit berganti menit, detik berganti detik dan tahun berganti tahun. Tak terasa kini sudah 5 tahun berjalan. Rumah tangga Moana dan Keandra berjalan dengan baik selama 5 tahun terakhir ini bahkan kini si kembar telah berusia 4 tahun dan sudah mulai bersekolah dasar di salah satu sekolah elite. Tapi dibalik itu semua masih ada permasalahan yang selalu ingin menjadi boomerang.
Silviya, selama 5 tahun terakhir ini ia tidak henti-hentinya mengganggu hubungan rumah tangga Moana dan Keandra. Tak segan-segan ia datang menghadap si kembar dan berkata bahwa ia akan menjadi mommy baru mereka, selepas itu dengan kepintaran yang si kembar miliki mereka selalu menjahili Silviya. Seperti sekarang ketika mereka tengah menunggu sang mommy untuk menjemputnya, Silviya tengah merayu mereka untuk ikut pulang bersama dirinya saja dan tidak perlu menunggu sang mommy.
"Ayo sayang, bunda akan mengantar kalian. Tidak perlu menunggu mommy kalian, mommy kalian itu sangat bodoh mengapa sudah jam segini ia masih belum menjemput kalian. Jadi biarkan bunda yang mengantar kalian" Ujar Silviya dengan membujuk keras si kembar saat ini.
"Pergilah, kau mengganggu kami bagaikan lalat yang tidak bisa diam" Ketus Mano dengan datar bagaimana Keandra tengah berbicara semestinya, benar-benar duplikat Keandra yang di lahirkan oleh Moana.
"Mora ikut bunda yu sayang, kakak mu tidak mau ikut bunda. Jadi kau saja yu yang ikut dengan bunda" Ajak Silviya menarik pelan tangan Mora.
"Lepas tangan Mola! Mola engga suka tante genit. Peldi sana Mola dan Kakak tidak akan mau ikut pulang dengan tante genit" Jawab Mora dengan menolak walau pengucapannya masih belum bisa menyebut huruf R.
"Kalian kepanasan, bunda mengkhawatirkan kalian bagaimana jika kulit kalian terbakar? bun--"
"Tidak bisa kah ku tidak menyebut dirimu bunda? Kami muak mendengar kau mengaku-ngaku sebagai orang tua kami, padahal kenyataannya kau hanyalah penggangu hubungan orang tua kami. Daddy kami hanya mencintai mommy kami dan kau? Kau hanyalah orang asing jadi pergilah dan jangan tampilkan wajah penggodamu dihadapan kami" Geram Mano yang kini tidak lagi diam ketika Silviya terus saja memprovokasi mereka, pada akhirnya ia berbicara mengeluarkan isi hatinya selama ini.
Walau kesannya sangat tidak hormat, tapi siapa perduli? Toh ngomong sama Silviya juga bagaikan berbicara dengan angin kentut. Ketidak sopanan nya Mano bukan diajarkan oleh Moana tapi Keandra lah yang mengajarkannya untuk berbicara terus terang saja jika dengan Silviya tapi jika dengan yang lainnya tidak boleh.
"Kalian--"
"Mora, Mano" Panggil Moana yang baru saja datang dengan raut wajah panik.
"Mommy!!" Teriak keduanya dengan berhamburan memeluk sang mommy.
__ADS_1
"Ah sayang maafkan mommy ya, mommy telat menjemput kalian. Kalian pasti menunggu lama mommy bukan? Maafkan mommy ya sayang" Kata Moana dengan nada bersalah.
"Mommy tidak apa-apa, mommy ayo pulang. Mola sudah kepanasan, coba mommy lihat kulit Mola ia sudah belwalna melah" Rengek Mora yang memamerkan kulit putihnya yang sudah kemerahan itu.
"Maafkan mommy ya sayang, ayo masuk ke mobil kita kasih obat ya kulitnya. Ayo sayang" Tutur Moana dengan menggendong tubuh Mora sedangkan untuk Mano ia tidak ingin di gendong dan lebih memilih untung di tuntun saja.
Setelah itu Moana pun memasukkan putra dan putrinya kedalam mobil dan kemudian menghampiri Silviya terlebih dahulu yang mana tengah kesal menatapnya bahkan tanpa disadari tangannya mengepal erat dan hal tersebut dilihat jelas oleh Moana.
"Jangan pernah kembali memprovokasi putra dan putriku atau aku akan berbuat sesuatu padamu, kau sangat penggoda seperti hal nya yang putraku katakan tadi. Seharusnya jika kau memiliki urat malu kau akan tertampar dengan kata-kata putraku, tapi karena urat malu mu terputus jadi kau tidak merasa tertampar. Maka aku ingatkan lagi untuk kesekian kalinya Silviya! Kau hanyalah boomerang untuk keluarga ku" Ucap Moana dengan nada santai tapi tatapan tajam, dengan aura yang terlihat mahal pun Moana berhasil membuat Silviya kembali kesal akan dirinya.
"Kau baji--"
"Kau parasit" Potong Moana lalu kemudian masuk kedalam mobil meninggalkan Silviya di depan gerbang sekolah si kembar yang mana kini tengah begitu panas.
Bagaimana Moana bisa tau bahwa tadi putranya mengatakan kepada Silviya bahwa Silviya wanita penggoda? Jelas saja, karena Mano menelpon sang mommy lewat jam tangan pintarnya yang diberikan oleh sang daddy. Jadi jelas saja Moana bisa tau pembicaraan Silviya sedari tadi sebelum ada dirinya itu.
"Moana anj*ing! lihat saja kau akan menerima akibatnya karena terus menerus mempermalukan aku" Marah Silviya.
*****
"Mommy mengapa kau lama menjemput kami?" Tanya Mora yang kini tengah dibaluri obat berbentuk bedak tabur oleh Moana pada kulitnya yang habis terbakar oleh sinar matahari itu.
"Mobil mommy mati ditengah jalan, lalu kemudian mommy meminta supir yang lain untuk menjemput mommy dengan mobil yang lain. Jadi mommy harus menunggu lama mobilnya dulu, makanya mommy lama menjemput kalian. Maafkan mommy ya sayang" Jelas Moana pada kedua anaknya itu.
__ADS_1
"Mommy apakah tutur bicaraku tadi sangat kasar?" Tanya Mano dengan menatap dalam wajah sang mommy.
"Iya, tapi tidak apa sayang. Daddy sudah mengizinkan kalian untuk terus terang saja bukan jika dengan tante Silviya? jadi tidak apa, tapi hanya untuk tante Silviya ya sayang. Tidak boleh dengan yang lain" Terang Moana yang diangguki oleh sang putra.
"Mommy mengapa tante genit selalu ingin menjadi mommy? mengapa ia selalu memplovokasi kami untuk tidak menyukai mommy, mommy kan mommy kami. Mengapa tante genit selalu ingin menyingkilkan mommy" Tanya Mora.
"Apa yang harus mommy jawab? Kau masih kecil sayang tidak baik terlalu ikut campur urusan orang dewasa, jika kau sudah dewasa kau pasti akan mengerti dengan sendirinya. Biarkan tante Silviya seperti itu ada kalanya ia akan lelah nanti" Jawab Moana.
"Dia wanita jahat mommy! Mola tidak suka" Kesal Mora dengan cemberut.
"Mommy tau sayang"
"Mommy bisakah kita pergi ke kantor daddy saja? Kami ingin beristirahat disana dulu" Pinta Mano pada sang mommy untuk pergi singgah di kantor sang daddy saja karena memang sekolah mereka tidak jauh jaraknya dengan kantor sang daddy.
"Boleh saja, asalkan kalian tidak nakal dan tidak menggangu kerjanya daddy" Balas Moana dengan tersenyum manis.
"Terimakasih, mommy" Ucap keduanya dengan serempak.
Moana bahagia ketika melihat dua buah hati kecilnya itu tumbuh dengan baik, tanpa sadar ia kini tersenyum bahagia ketika melihat kedua anaknya itu tersenyum ceria dihadapannya. Walau untuk Mano sedikit dingin karena lebih dominan ke sang daddy tapi Moana tidak mempermasalahkan itu, ia bahagia bisa memiliki Mora dan Mano sebagai anaknya.
Selama 5 tahun terkahir ini semua berjalan dengan semestinya walau ada sedikit melenceng nya karena ulah Silviya yang terus menjadi penggangu dan parasit untuk hubungan nya, tapi itu tidak memungkinkan untuk Moana dan Keandra menjadi renggang tapi justru menjadi lebih mencintai satu sama lain.
*****
__ADS_1