
Deggggg
Detak jantung Silviya berdetak sangat cepat karena merasa terkejut mendengar bentakan dari Keandra secara tiba-tiba, ia tidak tau apa yang membuat Keandra marah. Tidak mungkin hanya karena bayi kecil yang mungil ini bukan? Yang berada di dalam gendongannya itu. Jika iya, mengapa sampai segitunya? Memangnya bayi siapa ini? Sampai-sampai membuat Keandra murka ketika mendengar bayi tersebut menangis karenanya.
"K--kenapa? Kau membentak ku tiba-tiba apa salahku" Tanya Silviya.
"Kembalikan putriku!" Marah Keandra.
"Putrimu? Apa?! sejak kapan kau memiliki anak" Terkejut nya Silviya dan reflek melihat wajah Mora dengan lekat.
"Dia putrimu, apa ini sungguh. Wajah nya juga sangat mirip denganmu, apa mengapa?! Sejak kapan kau menikah!" Marahnya dengan menatap lekat wajah Keandra yang tengah mati-matian menahan gejolak amarahnya terhadap dirinya itu.
"Farel" Panggil Keandra.
"Iy-ya tuan"
"Ambil putraku" Titahnya. Dengan cepat Farel pun mengambil Mano dalam gendongan Keandra dengan sangat hati-hati karena ia tidak ingin Mano nantinya juga menangis walau ia tau bahwa Mano tidaklah secengeng Mora.
Setelah Mano beralih tangan Keandra pun dengan cepat mengambil alih Mora dalam gendongan Silviya, secara kasar Keandra mengambil Mora dan itu bisa dirasakan jelas oleh Silviya sekadar apa Keandra merebut putrinya dari tangan nya itu.
"Keandra pelan-pelan" Pinta Silviya.
"Beraninya kau membuat putriku menangis dan beraninya kau lancang mengambil putriku dariku!! AMAR. BARA CEPAT USIR WANITA GILA INI KELUAR" Murka Keandra dengan berteriak dan berhasil memicu perhatian sekitarnya.
Para karyawan pun seketika melihat kejadian yang tidak seharusnya mereka liat, bahkan kini telah menjadi tontonan. Karena keributan yang menciptakan seluruh karyawan berkumpul, Moana dan Kayla pun seketika datang dan melihat kejadiannya juga. Kayla dengan cepat mengambil Mano dalam gendongan Farel dan Moana yang dengan cepat mengambil Mora dalam gendongan Keandra.
"Sayang anak mommy, anak mommy yang pintar berhenti menangis ya sayang" Bisik Moana dengan pelan sambil menimang-nimang putrinya itu yang tidak hentinya menangis dengan kencang akibat terkejut mendengar suara bentakan dan ditambah tadi.
"Mommy maaf, maaf membuat putri kita menangis" Lirih Keandra secara tiba-tiba pada Moana. Dan respon Moana hanya diam saat ini, perubahan sikap Keandra jelas dilihat oleh semua orang bahkan Silviya kini menutup mulutnya secara tiba-tiba karena terkejut melihat perubahan Keandra yang drastis berubah.
"Ada apa?" Tanya Moana pelan.
"Siapa perempuan ini dan mengapa putri kita menangis? Jelaskan padaku" Pinta Moana dengan memandang wajah Silviya dan Keandra secara bergantian.
"Kalian semua kembali bekerja" Titah Kayla yang menyuruh para karyawan Galaxy's group untuk tidak kembali melihat kejadian ini, dan seharusnya kembali fokus bekerja. Semuanya menurut dan langsung pergi untuk melanjutkan pekerjaan mereka lagi walau dalam hati dan pikiran mereka sangat tingin tau kelanjutannya tapi mereka tetap mematuhi perintah Kayla yang menjabat sebagai kepala HRD itu.
"Wanita gila itu mengambil paksa Mora dalam gendongan ku dan membuat Mora menangis, aku marah dan membuat keributan. Hanya itu, aku tidak terima karena putriku dibuat nangis olehnya" Jelas Keandra lirih sambil memeluk tubuh Moana.
__ADS_1
"Kau tidak seharusnya membuat keributan suamiku, tidak apa jangan merasa bersalah" Terang Moana.
"Hey apa-apaan kau! beraninya memeluk kekasihku. Kau ingin mati" Marah Silviya yang berniat ingin mendorong Moana tapi lebih dulu dirinya di dorong oleh Kayla yang dengan sigap menghentikan Silviya.
"Menyingkir dasar sampah" Kata Kayla dengan sinis.
"Kau! sialan kau, kau mendorongku! Beraninya"
"Kenapa? Kenapa aku harus takut padamu, memangnya siapa kau?" Kesal Kayla.
"Aku kekasih Keandra! Kau telah mengusik ku maka kau juga telah mengusik kekasihku. Kau hanya seorang HRD rendahan, kau pasti akan dengan cepat menjadi gelandangan. Aku akan memastikan itu" Bangga Silviya dengan terkekeh sinis sambil membaca name tag jabatan yang ada di dada Kayla saat ini.
"Oh ya? Benarkah" Tantang Kayla.
"Sayang lihat--"
"CUKUP! Pergi dari sini sekarang juga atau kau akan tau akibatnya Silviya" Geram Keandra yang sudah setengah mati kesal akan Silviya.
"Tidak mau, aku kekasihmu. Kau tidak boleh mengusir ku begitu saja" Bantah Silviya.
"Najis. Aku tidak sudi mempunyai wanita murahan seperti kau, pengemis seperti kau tidak layak menjadi pasanganku" Jijik Keandra sambil menarik pinggang Moana kedalam dekapannya itu.
"Sayang kau, kau tega sekali!"
"Ini, ambilah. Di kartu ini ada uang sebesar 10M kau bisa menggunakannya untuk hidup mu, tapi setelah ini pergilah dan jangan mengganggu rumah tanggaku dan bahkan suamiku. Pin nya 1 sampai 6" Kata Moana dengan beraninya sambil memberikan sebuah kartu pada Silviya tepat di hadapan Silviya.
Penghinaan! Ini sangat penghinaan untuk dirinya, bagaimana mungkin seseorang berani menghina nya dihadapan semua orang saat ini dengan sebuah kartu, walaupun nominal nya sangat tinggi tapi ia tidak suka. Pikirnya ia pasti bisa mendapatkan lebih dari saldo kartu wanita yang berani memberikan kartunya pada dirinya itu jika ia berhasil memilik Keandra. Jadi untuk tawaran dari Moana ia menolak.
"Aku tidak membutuhkan uang darimu! Aku membutuhkan kekasihku sialan" Marah Silviya.
"Tapi dia suamiku, kau mungkin kekasih suamiku tapi itu dulu bukan? Sekarang ia milikku dan anak-anakku" Balas Moana.
"Kau pasti merayu kekasihku bukan? Dengan cara apa kau berani merayu kekasihku ha!? Kau menggunakan selang*angan mu pasti kan? Agar mendapatkan kekasihku. Dasar murahan!" Ucap Silviya dengan marah.
Plakkkk
Sebuah tamparan melayang di pipi milik Silviya saat ini dan meninggalkan jejak kemerahan disana, betapa terkejutnya Keandra dan yang lainnya ketika melihat tangan entengnya Moana pada Silviya.
__ADS_1
"Aku berbalik hati tidak membuat keributan denganmu dan tidak menyuruh anak buah suamiku untuk menyeret paksa dirimu, tapi kau justru malah lancang terhadapku. Sebaiknya kau berkaca siapa yang terlihat murahan dan siapa yang terlihat mahal" Marah Moana dengan pedasnya menyindir Silviya.
Jelas sudah Silviya kalah telak karena bagaimana pun juga pakaian Silviya menunjukkan betapa tidak tau dirinya ia, dengan fashion model belahan dada yang terbuka dan batas sepaha saja membuat Silviya sudah terlihat jelas sebagai wanita penggoda.
"Mommy, sebaiknya kau tidak perlu menghiraukan lagi wanita gila ini. Lebih baik kita masuk dan menenangkan Mora, lihatlah ia masih terlihat takut" Ujar Keandra yang di angguki oleh Moana.
"Kayla berikan Mano pada daddy nya dan kau kembalilah saja, terimakasih sudah menemaniku" Ucap Moana dengan nada melembut karena sudah menetralkan amarahnya sesaat.
"Ya, baiklah" Balas Kayla lalu memberikan Mano pada daddy nya yang tak lain adalah Keandra. Lalu, kemudian Moana dan Keandra pergi masuk ke dalam ruangan pribadi milik Keandra dengan di lindungi oleh Amar dan Bara takut sewaktu-waktu nantinya Silviya memberontak untuk menerobos ikut masuk kedalam.
"KEANDRA"
"KALIAN BERDUA BERIKAN AKU JALAN!! SEHARUSNYA KALIAN MEMBIARKAN AKU MASUK, AKU KEKASIHNYA TUAN KALIAN! BRENGSEK. WANITA SIALAN KAU" Teriak Silviya dengan terus memberontak.
"Farel" Panggil Kayla.
"Ya, nona Kayla"
"Ruangan presdir kedap suara kan?" Tanya Kayla dengan tersenyum miring.
"Ya"
"Baiklah" Balas Kayla lalu mendekat kearah Silviya dan "Bughh" satu pukulan keras berhasil mendarat ke wajah Silviya dan berhasil mematahkan tulang hidung Silviya, mengakibatkan derasnya darah terus keluar.
Siapa sangka, hanya satu pukulan dari Kayla mampu membuat tulang hidung Silviya patah? Ya memang pukulan Kayla tidaklah pelan, sudah dipastikan seberapa kerasnya Kayla memukul wajah Silviya saat ini bukan sampai-sampai membuat tulang hidung Silviya patah seperti nya.
"ARGHHHHHH" Jerit Silviya dengan kesakitan sekaligus syok mendapatkan sebuah pukulan keras pada wajahnya.
"Ini peringatan kecil untukmu, jika kau berani mengatai adikku dan berani menjadi debu di dalam keluarga kecilnya lagi maka aku tidak akan segan-segan untuk mencekik mati dirimu. Ingatlah pukulan kecil ini terus, dan ingatlah bahwa aku Kayla yang melakukannya padamu" Bisik Kayla dengan nada menekan setiap katanya.
"Pergilah sekarang juga atau aku akan benar-benar mencekik mati kau sekarang, dan ya. Aku tipikal tidak mengulangi perkataan ku, jadi kau paham bukan apa yang aku maksud?!" Tanya Kayla dengan menatap tajam Silviya.
"Bajingan! KALIAN!! Lihatlah nanti dan tunggulah pembalasan ku pada kalian, aku akan mengingat kejadian hari ini" Lirih Silviya kesakitan dengan terus memegangi pangkal hidung nya dan kemudian pergi dibawa paksa oleh Amar dan Bara.
"Nona kau" Kata Farel tapi terhenti.
"Tolong kerja samanya Farel" Senyum manis Kayla lalu kemudian pergi begitu saja.
__ADS_1