Ours In Another Story

Ours In Another Story
10. Kondisi Kesehatan Rere


__ADS_3

Pagi berikutnya, jelas Jevan, Rere, Lia, dan Junius berangkat kerja. Jovan juga, selesai sarapan dia mengurung di dalam kamarnya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang sengaja dia bawa. Meninggalkan segala kehebohan rumah dan fokus menyusun berlembar-lembar laporan akhir tahun di dalam laptopnya untuk dia kirimkan kepada atasannya. Untuk Jevan dan Rere jelas mereka bersiap untuk ke butik. Kalau Junius, setelah mandi dan bersiap dia langsung berangkat tanpa sarapan lebih dulu karena hari ini Mas Reno bosnya mengajak dia untuk meninjau project mereka di Gunung Kidul.


Rere lebih dulu membuatkan susu untuk putrinya sebelum dia berangkat. Dia juga tidak lupa membantu dan memastikan Nafiza benar-benar menghabiskannya, “Nafiza mau ikut Mama apa di rumah sama tante?” tanya Rere pada Nafiza yang baru menghabiskan susunya.


“Sini aja, mau main sama kak Tirta sama Abi sama Genta,” jawabnya.


“Ya sudah jangan nakal ya sayang, Mama berangkat dulu. Nanti siang makan minta diambilin tante Monik ya,” kata Rere pada putrinya itu.


“Mon, titip Nafiza ya,” kata Jevan pada Monika.


“Beres. Dah sana berangkat. Hati-hati ya.”


Setelah berpamitan dengan semuanya termasuk pada Nafiza, Jevan dan Rere berangkat kerja. Cukup dekat sih dari rumah Mama, yang kasihan ya Junius harus berjalan memutar soalnya kantor dia kan ada di daerah Bantul padahal dia juga harus mengantar Lia ke sekolah tempatnya mengajar. Jevan dan Rere adalah yang paling akhir berangkat. Karena mereka bos jadi santai, mau berangkat tidak berangkat mana ada yang akan memarahi.


Sampai di kantor, Rere yang lebih dulu membuka pintu butiknya sedangkan Jevan masih sibuk memarkir mobil. Baru dia mau turun, di sebelahnya tiba-tiba terparkir mobil Tesla berwarna putih. Entah milik siapa itu, tapi Jevan langsung memasang wajah datar sedatar-datarnya ketika melihat Cedar yang turun dengan gaya “sok”nya.


“Gile lo mobil karyawan lebih elit ketimbang mobil bosnya sendiri. Sopan lo kaya gitu?” kata Jevan masih bersandar pada pintu mobilnya.


“Hehe, paling aku pake seminggu habis itu mau tak jual. Nggak suka ah terlalu mencolok,” kata Cedar.

__ADS_1


“Kalo nggak suka ngapain dipake!” protes Jevan.


“Papanya Cedar tiba-tiba ngejual motornya dia, terus sorenya ni mobil sampe di halaman rumah. Katanya malu-maluin Papanya kalau dia kemana-mana pake Mio,” kata Hanna.


“Si tua bangka biasa lah. Dah, masuk yuk Bos,” Cedar berjalan sambil merangkul Jevan yang masih geleng-geleng dengan tingkah si aneh Cedar Bumi Alam. Satu-satunya karyawan dia yang nggak punya otak, akhlak minim, tapi jadi kesayangan Jevan karena dia mampu menyelesaikan sesulit apapun perkara yang sedang menghadang.


“Yah Dar motormu nggak bisa aku pinjem dong,” kata Rere.


“Pinjem aja mbak nggak papa, kalo bisa mbak ambil di dealer tapi.”


“Mau kemana emangnya mbak?” tanya Hanna.


“Anak-anak hari ini kan nginep tempat neneknya. Siang nanti niatnya mau pulang bentar mastiin Nafiza makan sama tidur siang, tapi kalo nggak ada motor yaudah,” kata Rere.


“Kaya bosmu bolehin aja. Kalo iya sih mending aku yang nyetir tiap pulang pergi kantor Dar. Dah ah ayo masuk Han, kerjaan kita banyak hari ini loh,” kata Rere kembali melangkah masuk berpisah dengan Cedar dan Jevan yang melangkah naik ke lantai 2.


Rere hanya berdiam diri di dalam butik selama seharian. Makan siang saja Hanna yang belikan, dia tidak perlu melangkah keluar. Ada-ada saja memang karyawan dia yang satu ini. Tahu Rere pucat sedikit saja hebohnya minta ampun.


Menjelang sore Jevan menjemput Rere dan mengajaknya ke dokter. Memang sudah jadwalnya check up sih. Dasarnya juga Jevan memang agak protektif makanya dia rela melakukan apapun demi kesehatan anak istri. Sungguh salah satu karakter suami idaman. Andai tidak ingat dia pernah menduakan Rere, pasti Jevan sudah menyandang gelar suami idaman sungguhan.

__ADS_1


Sebenarnya Rere sudah tidak sakit, cuma mereka masih check up agar tahu perkembangan tubuh Rere sehingga mereka siap mental untuk menyambut anak kedua yang sudah dalam rencana. Awalnya Rere dan Jevan tidak memikirkan itu. Kalau mengingat ketika Rere melahirkan Nafiza dulu, Jevan tidak akan sanggup. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan selama berhari-hari begitu jadi dia tidak pernah meminta dan mencukupkan diri hanya dengan satu tuan putri saja. Tapi karena Rere meminta dan berhasil meyakinkan Jevan, akhirnya dia jadi ikut berharap juga sekarang.


Setelah dari dokter Jevan langsung pulang bersama Rere yang sudah lebih dulu tidur bersandar pintu mobil. Reva Aulia dari dulu memang selalu tertidur kalau pergi menggunakan mobil. Sudah jadi kebiasaan dia sejak kecil jadi Jevan tidak pernah berusaha menghilangkan kebiasaan lucu itu. Begitu sampai di rumah, jam makan malam sudah terlewat. Efek malam weekend, jalanan jogja jadi macet parah. Mereka sampai sekitar 21.30 malam dan Jevan sudah tidak tega harus membangunkan cantiknya yang satu ini.


Dengan perlahan Jevan menggendongnya masuk. Mama Tiwi langsung meminta Jevan membawanya ke kamar. Setidaknya dia tidak akan terganggu, biar dia malam ini tidur bersama Lia yang juga sama kelelahannya. Setelah memastikan Rere tidur dengan nyaman, tak lupa melepas sepatu dan jaketnya Jevan melangkah keluar dan memberikan keheningan agar Lia dan Rere bisa tidur.


Di dapur Jevan menemukan Monika tengah mencuci piring di wastafel, Jevan menyapanya sekilas, melewatinya kemudian mendekati kulkas mencari air dingin untuk dia teguk habis. Jevan berusaha menenangkan pikirannya yang tiba-tiba kacau mendengar penjelasan dokter yang terdengar mengerikan untuknya.


“Kamu jadi bawa Rere ke dokter tadi?” tanya Monika tanpa menghentikan pekerjaannya membersihkan dapur.


“Jadi.”


“Terus dokter bilang apa?”


“Katanya udah baik-baik aja, tapi efek pernah keguguran jadi kondisi rahimnya agak lemah makanya kalau halangan sakit. Dan kalau selama kehamilan Rere sampai sakit, tubuhnya bisa aja nggak kuat kali ini. Karena rahimnya pernah rusak jadi dia akan jadi rentan banget,” jelas Jevan.


“Tapi dia masih bisa hamil lagi kan?”


“Masih.”

__ADS_1


“Kalau kalian punya rencana kasih Nafiza adek sekarang-sekarang aja Jev. Mumpung Rere masih kuat. Saran aja sih,” kata Monik.


“Emang udah rencana kok. Tapi nanti dulu, nunggu Lia lahiran kayanya. Kasian Mama kalau harus bolak-balik jagain sana sini. Mama sudah tua, pikirannya aja yang masih muda. Kalau Mama fokus ke Rere kasihan Lia tapi kalau fokus ke dua-duanya nggak akan sanggup lagi kayanya. Apalagi Mama masih jalan kan cateringnya,” jawab Jevan sebelum melangkah meninggalkan Monik yang masih bertahan di depan wastafel mencuci piring dalam keheningan.


__ADS_2