
Tak lama kemudian semua pesanan mereka sampai. Rere kembali membangunkan Nafiza agar dia bisa makan, kasihan juga Jevan kalau harus makan sambil gendong pasti sulit. Sedikit demi sedikit Nafiza makan disuapi Mamanya akhirnya habis juga dia makan, langsung lanjut tidur lagi katanya masih ngantuk. Berhubung anak-anak semua ngantuk dan kecapekan mereka memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah benar Abi Tirta Genta dan Nafiza langsung tepar.
Ketika anak-anak sedang tidur, Rere, Monik, dan Lia mengambil kesempatan untuk pergi belanja. Rencana awalnya mereka ingin belanja sekalian perjalanan pulang tapi berhubung anak-anak sudah rewel karena lelah dan mengantuk jadi kasihan kalau dipaksa hanya untuk menemani mamanya belanja. Jadi mereka tadi memulangkan anak-anak lebih dulu barulah ketiga menantu cantik Mama Tiwi itu pergi untuk belanja.
"Mas, aku belanja dulu ya," pamitRere pada Jevan yang sedang duduk bersama kedua saudaranya di depan TV sembari mengawasi anak-anak yang tidur di kamar bawah.
“Pake mobilku aja yang kecilan,” kata Junius memberikan kunci mobilnya.
“Siapa yang mau nyetir?” tanya Jevan.
“Aku aja, Rere katanya lagi sakit perut, Lia lagi hamil mana tega aku,” kata Monik sambil meraih kunci.
Apapun yang terjadi Monika tetap saja menantu pertama dan paling sulung di antara yang lain jadi dia sebisa mungkin memposisikan diri sebagai kakak yang baik sama seperti Jovan yang selalu ingin menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya. Lagipula Monika ini sangat-sangat mandiri, agak berbeda dengan dua yang lainnya. Monika kan sejak masih belia dulu sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri dan Jovan juga tidak memaksa dia untuk bergantung padanya seperti yang dilakukan Jevan pada Rere. Jovan bahkan lebih senang dan bangga jika istrinya bisa mandiri.
“Mau belanja di mana ladies?” tanya Monika ketika sedang menyesuaikan jarak kursinya pada kemudi.
“Nggak di Mirota aja? Deket,” tanya Lia.
“No no no. Mirota itu ramenya minta ampun. Kasian bayi kamu kalau diajak desak-desakan,” kata Monika.
“Dalam perut juga udah desak-desakan, biasa aja si mbak,” jawab Lia sembari mengelus perutnya.
“Nggak ah, udah di Carrefour, Hypermart, atau Superindo aja. Kalau nggak di giant tuh deket,” rekomendasi Rere diterima oleh Monik.
Dia kemudian mulai melajukan mobil menuju ke tempat yang dituju. Setelah berdiskusi selama beberapa saat, mereka akhirnya memutuskan untuk ke Hartono Mall saja, selain mereka tidak perlu masuk ke jalanan kota, di sana juga parkirannya luas, dan apa-apa ada. Jangan dibayangkan Rere Monik dan Lia adalah ibu-ibu yang suka hedon ya. Mereka juga menentukan tempat belanja begini sudah melalui banyak riset dan penelitian harga.
__ADS_1
Tipikal ibu-ibu yang hemat tapi tidak pelit pada diri sendiri. Kata Mama Tiwi mereka tidak boleh hambur-hambur uang, tapi kalau itu demi keluarga jangan pernah pikir harga. Toh suami mereka tidak kurang memberikan mereka uang dan mereka juga memiliki penghasilannya sendiri. Penghasilan itupun tidak bisa dibilang sedikit untuk ukuran seorang perempuan yang bekerja.
Lagi pula dipikir-pikir juga benar. Bayangkan mereka harus ke pasar, desak-desakan dan bahan makanan yang mereka beli belum tentu bersih. Kalau di supermarket mereka beli harga tidak jauh beda, tempatnya bersih, rapi, luas, dan terjaga kualitasnya. Lagi pula kalau beli borongan pasti dapat diskon. Cuma tambah bayar PPN 10% bukan jadi penghalang buat mereka demi memberikan yang terbaik buat suami dan anak-anak di rumah.
“Malam ini mau masak apa? Masakan Indonesia atau masakan luar?” tanya Monik.
“Mbak, Lia bikinin sayur asem dong, katanya mbak Rere sayur asem buatan mbak Monik enak. Duh ngebayanginnya enak tuh, pedes seger pake nasi anget tambah sambel,” kata Lia.
“Ok, kalau Rere mau apa? Mumpung aku di sini, aku yang masakin buat semuanya.”
“Yaudah kamu bikin sayur asem aja, katanya kan Mama udah masak rendang sama gudeg. Demi masakin anak sulung yang baru pulang dari luar negeri. Tinggal nentuin aja lauknya mau apa buat anak-anak," kata Rere.
“Seafood gimana? Udang, cumi, terus apa gitu digoreng pakai tepung pasti anak-anak suka. Sama beli sosis, tempura, ayam,” kata Lia memberi rekomendasi.
“Bisa, asal nggak udang ya Genta nggak bisa makan udang,” kata Monik.
"Iya, dan baru ketahuan belum lama ini. Aku kan memang jarang masak udang karena males kupasin satu-satu, makanya jarang masak. Nah kemarin pas diajak makan di luar sama Ayahnya anak-anak baru deh ketahuan. Pulang tuh dia udah bruntusan, gatel sebadan-badan," kata Monik.
"Uh nggak bisa bayangin Ya Allah, kasihan banget Gentala," kata Lia.
Setelah berdiskusi, mereka mulai mengambil bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan. Mulai dari sayur-sayuran, berbagai macam frozen food, seafood, ayam hingga banyak jajanan mereka beli. Rere juga membeli roti, susu, jus dan beberapa macam buah untuk sarapan besok pagi. Sudah jadi rencana mereka bersama untuk menginap di rumah Papa selama keluarga Jovan di jogja. Makanya mereka berusaha tidak merepotkan Papa dan Mama. Mereka juga akhirnya beli persediaan-persediaan lain seperti tissue, sabun cuci dan lain sebagainya. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh mereka bertiga.
“Bentar ada yang kelupaan,” kata Rere ketika mereka mulai mengantri di kasir.
“Apa?”
__ADS_1
“Oreo vanilla, kan? Beli yang bungkusan kecil-kecil aja kali mbak. Sekali buka habis, sayang kalau kececer,” kata Lia.
“Yang kecil nggak ada. Udah ini aja, nanti dimasukin toples nggak papa,” kata Rere sekembalinya dari mengambil beberapa bungkus oreo.
“Langsung pulang kan Mon? Biar Lia istirahat,” kata Rere.
“Yap. Langsung tancap gas, aku mau langsung masakin sayur asem request-nya yang lagi ngidam. Udah nggak sabar aku," kata Monik.
Sampai di rumah, Lia adalah yang pertama turun dan langsung mendudukkan dirinya di sofa tepat di sebelah Junius yang sedang mengobrol dengan Jovan dan Jevan di teras. Monik dan Rere yang bertugas membawa semua belanjaan masuk dan menatanya di dapur dan kulkas.
“Rere beneran mau buat black forest?” tanya Mama.
“Iya besok aja tapi. Hari ini masak buat makan malam aja, udah capek banget juga,” kata Rere.
“Yaudah sana pada mandi dulu, biar Mama yang nyicil motongin sayurnya.”
“Terakhiran aja Ma, anak-anak biar mandi duluan itu gantian.”
“Mas Abi mandi dulu sini cepet,” minta Lia tapi tidak digubris oleh anaknya yang sedang asik menggambar bersama Nafiza dan Genta.
“Ayo mandi dulu Mas, itu gambarnya dilanjut nanti.”
“Bentar Bubun tanggung,” jawabnya.
“Abimanyu…,” panggil Lia lagi.
__ADS_1
“Iya…,” menjawab iya tapi tidak kunjung beranjak.
“Abimanyu Candra Putra…,” baru deh dia dengan malas melangkah ke kamar mandi. Bubun serem kalau manggil orang sudah pakai nama panjang. Apalagi sambil melotot begitu, Ayah saja takut apalagi Abi? Karena melihat Abi sudah masuk ke kamar mandi, akhirnya Genta juga ikutan mau mandi. Kalau dia sih mandi bareng sama kak Tirta saja. Contoh adik yang ngekor kakak kemana-mana ya Gentala. Kalau Nafiza mandi paling akhir setelah yang cowok-cowok. Dia mandi bareng Mama, soalnya sudah main seharian jadi rambut panjangnya harus dikeramasi juga biar Nafiza tidak garuk-garuk ketika tidur nanti.