
Siang harinya, setelah Rere memastikan Nafiza ada di rumah neneknya dia kembali ke butik. Agenda kerjanya hari ini adalah untuk melakukan final checking pada busana yang akan dia ikutkan dalam peragaan busana Indonesia Fashion Week minggu depan sekaligus lusa akan ada pemotretan. Pakaiannya sudah jadi dan hari ini Rere akan fitting. Putri dan Hanna membantu Ayu memakai pakaiannya. Di beberapa titik yang dirasa tidak pas dengan tubuh Ayu diperbaiki. Ada juga beberapa aksesoris yang ditambahkan untuk membuat detail yang lebih baik.
"Han ini yang bag...," Rere terhenti seketika karena barusan jagoannya menendang dengan begitu kerasnya.
"Mbak nggak papa?" tanya Hanna.
"Nggak papa, baru tahu aku hamil anak cowok sama cewek beda," kata Rere.
"Iya kah?"
"Makanya Vani dikasih adek biar kamu tahu rasanya," goda Rere.
"Mbak nih ada-ada aja," jawab Hanna.
"Oiya, untuk pemotretan besok sudah kamu cek semua kan? Keluarga mas Jev akan sampai di lokasi sekitar jam 8 pagi. Jadi, aku minta tim sudah siap sebelum itu," kata Rere.
"Beres mbak kalau soal pemotretan sudah beres semua. Tapi soal catering...," Hanna menggantungkan kalimatnya.
"Kan udah dikerjain sama Mama."
"Tapi masa iya kita nggak bantu sama sekali? Ibu Tiwi ngerjain semuanya sendirian?"
"Nggak lah. Kan menantu Mama ada 3 cewek-cewek semua," jawab Rere.
"Nggak papa Hanna, Mama itu memang dasarnya punya cateringan kok. Jadi ada asisten 3 orang. Kalau cuma untuk membuatkan konsumsi untuk 100 orang mah gampang," kata Rere membuat Hanna mengangguk walau di hati masih terasa mengganjal.
Rere menguatkan diri untuk menuntaskan pekerjaannya hari itu. Dia berusaha sesegera mungkin menyelesaikannya dan segera pergi ke rumah mertuanya menjemput Nafiza. Kali ini Jevan tidak seprotektif biasanya. Dia dengan senang hati memberikan kunci mobil pada Rere dan meminta cantiknya untuk nyetir sendirian. Rere sih tidak mempertanyakan kenapa, sudah jelas alasannya karena kesibukan Jevan akhir-akhir ini. Jevan pernah cerita kalau benang merahnya sudah mulai terurai. Jovan sudah memulai langkah terakhirnya sebelum dia membeberkan semuanya di sidang bersama dengan seluruh anggota dewan dan petinggi perusahaan.
__ADS_1
"Nih, kunci aku pasrahkan ke kamu. Nanti kalau sudah jam tutup langsung beres-beres terus pulang. Kostumnya kita lanjutkan besok saja kalau aku ada di sini, toh masih ada waktu," kata Rere pada Doni.
"Siap Mbak, hati-hati lho," kata Doni.
"Yuhu thank you sis," kata Rere sambil melambaikan tangan kemudian melangkah keluar dari butik.
Rere lebih dulu membetulkan letak kursi kemudinya baru menyalakan mesin, "Bismillah. Adek..., Mama mau nyetir, jangan rewel ya sayang. Kita jemput kakak dulu," kata Rere sambil mengelus perutnya.
Rere kemudian menjalankan mobil dengan kecepatan sedang membelah kota istimewa ini. Untuk menenangkan moodnya yang mudah terpancing emosi akibat pengendara-pengendara ngawur yang semaunya sendiri di jalan, Rere sengaja menyetel musik yang bisa membuatnya tenang. Sekitar 20 menit perjalanan, Rere akhirnya sampai di rumah Papa Jeff. Dia memarkir mobilnya tepat di samping mobil Haikal yang parkir di lahan kosong di depan rumah. Begitu dia turun, dia disambut oleh Monika yang sedang membantu Tirta dan Genta mengerjakan PR mereka di gazebo depan.
"Hai kakak lagi pada apa sih?" tanya Rere pada kedua keponakannya.
"Lagi ngerjain PR tante," jawab Genta.
"Jemput Nafiza?" tanya Monik.
"Nafizanya nggak mau berhenti. Sudah dari tadi jam 2 padahal. Itu apa Haikal nggak ada kepentingan lain? Kasihan dia Re disetrap sama cantikmu," kata Monika.
"Ha..., ha..., yaudah biar saja," kata Rere.
Rere melangkah masuk. Di ruang tamu dia bertemu dengan Papa yang asik membaca naskah novel baru karangan Monika. Rere hanya cium tangan pada Papa kemudian melangkah mendekati Nafiza dan Abi yang sedang bermain di dekat piano bersama dengan Haikal yang sibuk mengajari Nafiza caranya bermain biola.
"Hai kakak. Kamu toh yang lagi main biola, aku kira Abi," kata Rere.
"Nggak tante. Abi kan nggak bisa," kata Abi yang duduk tenang sambil memainkan piano.
"Itu biola siapa Kal? Baru tahu aku kamu bisa main biola," tanya Rere.
__ADS_1
"Kemarin waktu di rumahku dia nggak sengaja lihat biolanya Lili, terus iseng aja aku kenalin cara mainnya ternyata dia langsung bisa. Tinggal ngolah rasa aja sama hafal kunci-kuncinya jadi waktu dia ganti nadanya nggak akan sumbang," kata Haikal melapor pada ibunya Nafiza.
"Berarti seharian ini nggak belajar piano? Terus nggak jadi pinter main piano dong kak?" tanya Rere pada putrinya.
"Ahh~ tapi Nafiza lebih suka main biola Ma," kata Nafiza.
"Nggak papa tante, biar nanti Abi sama Nafiza bisa main bareng. Kata Om Haikal kalau main biola sama piano bareng itu enak banget harmoninya," kata Abi.
"Ok, suka-suka kamu saja. Yang penting belajar yang serius ya," kata Rere.
"Anakmu bakat di musik Re. Untung ketahuan sejak awal jadi punya banyak waktu buat ngolahnya," kata Haikal pada Rere.
"Ya tapi kamu sudah berapa jam ngajarinnya? Kamu nggak ada kerjaan po?" tanya Rere.
"Pas banget hari ini aku free. Nggak papa lanjut bentar, nanti maghrib berhenti. Anaknya juga masih semangat belajar, kasihan kalau dipatahkan," kata Haikal diangguki oleh Rere begitu saja.
"Yakin?"
"Yakin, Re. Aku seneng banget kalau suatu saat nanti dia berhasil di bidang musik dia akan bilang sama seluruh dunia bahwa dia belajar dari aku, omnya," kata Haikal.
"Gitu ya...," kata Rere membuat Haikal tertawa.
"Aku sejak dulu memang senang sekali melihat ada anak-anak yang mau belajar musik. Apalagi Biola begini. Seorang anak tidak peduli menyakiti ujung jarinya demi bisa memainkan alat itu membuatku tersentuh. Jadi selagi dia masih mau dan mampu aku akan ikuti alurnya dia. Siapa tahu kan biola ini akan menjadi sahabatnya dan jadi teman curhatnya suatu saat nani," kata Haikal kali ini Rere yang tertawa. Sesayang itu Haikal pada Rere, sesayang itu pula dia pada Nafiza.
"Ya sudah. Kalau begitu Mama tinggal dulu ya. Semangat belajarnya sayang," kata Rere pada putrinya.
Rere pamit meninggalkan Haikal yang kembali fokus mengajari Nafiza cara memindahkan tangannya juga bagaimana caranya bisa menggeseknya dengan benar sehingga mampu mengeluarkan suara yang indah dan enak di dengar. Rere melangkah ke lantai atas, ke dalam kamarnya kemudian di dalam sana dia langsung melepaskan sepatu dan kaus kakinya kemudian begitu saja merebahkan dirinya, meluruskan punggung yang rasanya sudah mau putus setelah menggendong sang putra selama 24 jam penuh.
__ADS_1