
Lia sakit, dan itu adalah bencana yang sangat besar untuk seorang Junius Candra Kusuma. Dia yang biasanya baru akan bangun ketika Abi sudah bernyanyi di depan tv sekarang dari pagi buta dia sudah dipaksa melakukan ini itu. Mulai dari membuatkan susu untuk si kembar, memandikan mereka, ganti membantu Abi, membuatkan sarapan hingga mengantarnya ke sekolah. Untung saja Mas Jevan dan istrinya sedang pengertian. Mbak Rere pagi-pagi sudah datang sambil membawa satu wadah sayur bayam dan tempe goreng. Mbak Rere kemudian juga dengan senang hati membantu Junius mengantar Abi ke sekolah.
“Yus, beneran lo ini aku sama Mas Jevan nggak bisa jemput anak-anak. Kamu yang jemput ya nanti,” kata Rere yang masih menggendong Rama yang menangis agar kembali tidur.
“Ya nanti,” kata Junius tetap sibuk di depan mesin cuci.
“Junius bener loh ya, jam 11. Jangan telat. Kamu nggak ada meeting kan?” tanya Rere lagi.
“Ada jam setengah 1. Nanti aku jemput terus kuanter ke butik aja apa gimana?”
“Langsung pulang aja nggak papa biar anak-anak istirahat di rumah. Nanti selepas jam makan siang aku ke sini. Sekalian aku bantuin Lia ngurus si kembar juga,” jawab Rere.
“Beres, sini Rama sama ayah biar tante Rere nganter Mas sama kakak ke sekolah ya.”
Junius masih menggendong Rama di gendongannya dan sesekali menimang-nimang anak itu. Rama ini memang yang paling sensitif, kalau ada apa-apa dengan bundanya dia pasti akan ikut merasakan. Agak berbeda dengan Krisna yang anteng-anteng saja ikut tidur bersama Lia yang berusaha menahan rasa berdenyut di kepalanya. Setelah mengantar Rere ke pintu depan dan memastikan iparnya itu sudah berangkat, Junius melangkah masuk dan dengan perlahan menidurkan Rama di box bayinya berjejer dengan Krisna yang sejak tadi sudah tidur.
“Ayah, mandi terus siap-siap sana. Udah siang loh ini,” kata Lia yang sedang berusaha duduk.
“Bunda yakin nggak papa? Pucet banget itu mukanya. Udah Bunda istirahat aja ya, biar Ayah yang ngurus si kembar sama beres-beres rumah.”
__ADS_1
“Ayah nggak kerja?”
“Ayah sudah ijin sama Mas Reno tadi pagi. Aku berangkat siang nanti setelah jemput Abi sama Nafiza.”
“Yaudah deh syukur. Ayah bantuin Bunda mau nggak? Ke meja makan, Bunda mau makan terus minum obat,” minta Lia.
“Sini yuk.”
Junius dengan telaten memapah Lia menuju meja makan, memastikan Lia sudah duduk dengan nyaman baru dia melangkah ke sudut pantry. Dia membuka rice cookernya mengambilkan satu centong nasi untuk Lia. Kemudian seporsi lagi untuk dirinya. Lia sudah makan lebih dulu, sedangkan Junius sibuk membuat teh hangat dengan posisi membelakangi Lia. Beruntungnya Lia terlihat lahap makan dengan sayur bayam buatan Mbak Rere membuat Junius jadi ikutan lapar melihatnya makan.
“Bun, kamu udah dua hari sakit kaya gini. Kita ke dokter aja ya?” ajak Junius yang sedang mengecek suhu tubuh Lia dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi sang istri.
“Nggak usah Yah, aku nggak papa. Hari ini juga udah mendingan ketimbang kemarin. Lagian kalau aku sama kamu ke rumah sakit yang jagain si kembar di rumah siapa?” kata Lia.
“Nggak ah, terlalu ngerepotin. Ayah aja nanti sekalian jemput Abi beliin Bunda obat. Yang biasanya itu satu strip ya.”
“Iya nanti ayah belikan. Itu dihabisin sarapannya terus balik tidur lagi aja istirahat. Ayah mau jemur baju dulu di belakang,” kata Junius.
Junius menjemur baju-baju yang sudah dicucinya tadi satu persatu. Ulah si kembar nih, cucian mereka jadi tidak pernah sedikit. Kalau keluarga lain yang baru punya bayi saja cuciannya bisa 2 ember, apa kabar Junius yang punya bayi kembar. Sudah jelas kan terlihat dari bagaimana saat ini Junius sudah mulai mengomeli sinar matahari pagi yang menyilaukan matanya. Katanya dia jadi tidak bisa melihat tali jemurannya karena sinar matahari tidak lugu itu.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Iyus terpaksa mandi. Walau dia mencuci menggunakan mesin tapi tetap saja seluruh bajunya bisa basah begini. Belum lagi tadi dia mencuci piring dan terkena cipratan air. Sebelum dia melepas pakaiannya dia melihat pantulan dirinya di cermin. Sungguh menyedihkan. Muka beler, rambut acak-acakan, berkeringat banyak, baju tidak karuan, ditambah tadi Rama sempat muntah dan mengotori bajunya.
Padahal jika dia mengamati Lia tidak pernah sekacau ini dalam menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dia kalau lihat Mbak Rere juga normal-normal saja. Apalagi mbak Monik, dia hampir tidak pernah melihat rambut mbak Mon acak-acakan tidak jelas. Melihatnya pakai daster saja tidak pernah sepertinya.
Junius menghela nafas untuk yang kesekian kalinya hari ini. Belum juga dia sempat berangkat kerja tapi badannya sudah lelah. Dia mandi dengan tergesa mengingat jam sudah menunjukkan pukul 10. Untung jalanan sedang tidak sepadat biasanya, jadi dia bisa sampai di sekolah si sulung tepat waktu.
Sampai di sana, Junius segera turun dari mobil dan menunggu Abi dan Nafiza di gerbang sekolah. Dalam hatinya dia enggan bergabung dengan ibu-ibu yang sedang membandingkan harga panci bila dibeli secara kredit atau cash itu tapi kalau dia tidak menampakkan diri di gerbang bagaimana kedua anaknya bisa tahu dia sudah datang.
Junius memilih menjaga jarak. Dia meraih handphonenya di saku celananya dan berniat membuka game online untuk menghapus bosan. Naasnya baru dia memasukkan tangan ke saku kanan, seorang ibu-ibu yang sedang sibuk memamerkan cincin pemberian suaminya bertemu tatap dengannya. Mau tidak mau Junius jadi melayangkan senyum. Hanya senyum simpul sebatas formalitas, tapi ibu-ibu itu menanggapinya dengan berlebihan, parahnya lagi ibu-ibu lain juga sama berlebihannya. Mereka ramai mendekati Junius yang mulai kikuk ditempatnya berdiri.
“Siapa ini? Papanya Abi ya?” tanya ibu-ibu dengan kerudung macam ibu-ibu pejabat.
“Iya bu, saja Junius Ayahnya Abi,” kata Junius terpaksa menjawab.
“Baru pertama kali jemput ya, biasanya Bundanya. Memangnya Mbak Lia kemana?” tanya ibu-ibu yang lainnya.
“Lagi nggak enak badan bu, makanya saya yang jemput.”
“Nggak usah formal-formal begitu Mas. Santai saja.”
__ADS_1
“Mas Junius, titip pesan ke Mamanya Abi sama Nafiza boleh ya. Lusa kan hari jumat, buat menu makan bersamanya mau masak bareng-bareng di rumah Mamanya Kila, nanti bilang ke Mbak Lia sama Mbak Rere buat belanjakan bahan-bahannya ya, terus buat iuran mingguannya mbak Lia masih belum bayar,” kata ibu-ibu yang sedari tadi sibuk mencatat.
“Iuran mingguan apa ya bu?”