Ours In Another Story

Ours In Another Story
71. Kemarahan Menantu Kusuma (2)


__ADS_3

“Anda bisa baca tidak? Saya mengundurkan diri Pak. Saya ingin keluar dari sekolah ini dengan terhormat. Bukan dengan cara memalukan seperti ini,” kata Lia sambil merobek Surat Peringatan yang dia terima selama beberapa kali sebulan terakhir ini.


“Sudah lebih dari 7 tahun saya mengabdikan diri untuk sekolah ini. Saya selalu berusaha menjadi pengajar yang baik dan pendidik yang bisa diteladani tapi anda bukannya memberikan apresiasi yang lebih pada saya justru malah berniat merusak reputasi saya karena iming-iming uang pembangunan? Yang saya pikir anda akan dengan baik meminta maaf nyatanya tidak anda lakukan. Bahkan pesan yang anda kirim pada saya semalam tidak lebih dari tiga baris tanpa ada penyesalan sama sekali,” kata Lia.


“Bu Lia, anda jangan salah paham. Saya meminta anda datang dan bermaksud untuk meminta maaf pada anda secara langsung pagi ini. Saya menyesal Bu, saya amat sangat menyesal telah melakukan itu pada Ibu,” kata kepala sekolah lagi.


“Maaf Pak, saya tidak terima permintaan maaf yang tidak tulus seperti itu. Harga diri saya terlalu tinggi untuk bisa Bapak rendahkan. Asal Bapak tahu ya, saya ini adalah menantu dari Jeffrey Kusuma. Saya istri dari Junius Chandra, dan saya adalah putri kebanggaan Bapak Susanto. Saya bukanlah wanita yang bisa anda kendalikan dengan mudah. Bahkan jika saya mau saya bisa membuat anda turun dari jabatan kebangaan anda itu sekarang juga,” kata Lia.


“Pak Junius…,” kini kepala sekolah itu mencoba mencari bantuan dari Junius.


“Maaf Pak, keputusan istri saya sudah bulat. Lagi pula saya tidak mau istri saya bekerja dilingkungan yang tidak baik. Jika anda menyesal silahkan anda membuat surat permohonan maaf secara tertulis dan bermaterai. Jika tidak jangan salahkan saya kalau tiba-tiba anda mendapatkan surat peringatan dari dinas pendidikan,” kata Junius yang kemudian melenggang pergi bersama Lia meninggalkan sekolah itu dengan kebanggaan.


Di lain tempat, Monika juga tengah melakukan hal yang sama. Dia tengah mencoba memperbaiki nama baiknya setelah ternodai dengan kabar tak pasti yang tidak pernah dia lakukan. Dia benar-benar melakukan apa yang sudah dia niatkan. Dia datang ke penerbit hanya dengan membawa dua pilihan, maju ke meja hijau atau membatalkan kontrak kerjanya dengan Monika dan menanggung kerugian akibat buku baru yang akan diterbitkan Monika tarik seluruhnya.


“Mbak Monika, saya tidak bermaksud begitu,” kata editor yang selama ini selalu mengerjakan editing novel Monika.


“Tidak bermaksud bagaimana? Jika anda tidak bermaksud surat panggilan pengadilan ini tidak akan sampai di tangan saya. Enak saja kamu mau memenjarakan saya? Anda lupa saya siapa?” kata Monika.

__ADS_1


“Duh itu pasti asisten saya. Maaf saya benar-benar tidak bermaksud.”


“Tidak semua perkara bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf. Lebih baik anda datang saja ke pengadilan lusa untuk menjawab tuntutan saya dan anda juga harus mempersiapkan diri untuk membayar ganti rugi. Saya sarankan anda menyiapkannya dari sekarang. Karena saya tidak akan segan.”


“Oh ya, seluruh novel saya akan saya tarik dan di masa depan nanti tidak akan ada lagi kerja sama antara saya dengan penerbitan ini.” kata Monika. “Hah…, bodoh juga ya aku, sudah punya ipar pemilik percetakan malah memilih anda yang tidak becus bekerja. Lebih baik saya terbitkan sendiri novel-novel saya,” kata Monika yang terang-terangan menyindir.


“Oh ya tunggu, royalti saya dalam interview terakhir belum masuk ke dalam rekening. Tolong anda kirimkan ke saya full tanpa potongan. Karena anda menahannya tanpa crosscheck dulu apa yang sebenarnya terjadi. Saya tegaskan, novel ini adalah masterpiece yang saya buat untuk mengenang seseorang bagaimana mungkin bisa ada novel yang sama. Bodoh,” kata Monika yang langsung menarik naskahnya dan keluar begitu saja.


***


Rere juga melakukan hal yang sama. Bedanya karena dia sedang berbadan dua dia masih menahan diri. Dia tidak setega kedua iparnya karena dia tidak ingin mengajarkan hal-hal yang buruk pada putranya.


“Maafmu saya terima…,” kata Rere.


“... tapi anda tetap harus memberikan keterangan dan menjalani kurungan dalam penjara sesuai putusan hakim di pengadilan nanti. Katakan juga pada orang yang sudah memintamu untuk membayarkan ganti rugi sebesar 150 juta pada saya dan melunaskan hutang anda padanya,” kata Rere membuat si pelaku terbelalak.


“Kenapa saya juga?”

__ADS_1


“Anda dipaksa. Anda dipengaruhi dan anda tidak benar-benar ingin melakukannya. Jika anda bisa membuktikan jika Pak Haryo mengancam anda, saya yakin hukuman anda akan ditangguhkan,” kata Rere.


“Bu Reva, jangan membuat saya semakin merasa bersalah,” kata si pelaku yang nyaris menangis.


“Anda kan memang salah. Dari pada anda hanya berlutut di hadapan saya mengharap pengampunan yang tidak mungkin saya berikan lebih baik anda sekarang berusaha sebaik mungkin memperbaiki diri,” kata Rere.


Berhubung pelakunya menyebut nama seseorang yang dia tahu sedang dicurigai oleh suaminya, Rere mengubah drastis strateginya. Dia diam-diam meminta dua orang polisi untuk mengikuti gerak gerik pelaku yang pasti akan menemui Pak Haryo meminta bantuan. Rere meminta bantuan pula pada polisi untuk memberi kabar pada Rere dan suaminya nanti. Rere yakin kasusnya ini akan mampu menjadi pemberat hukuman ketika nanti suaminya menangkap dalang dari semua kasus yang terjadi.


Malam harinya, Rere, Monika, dan Lia menyampaikan apa saja yang sudah mereka dapatkan dari masing-masing kasus mereka dan satu nama yang mereka sebut benar-benar mampu menguatkan argumen triple J besok di sidang dewan direksi.


"Berarti kita tidak perlu ragu lagi," kata Jevan.


"Habisi saja langsung, aku sudah muak melihat wajah sok baiknya," kali ini Junius yang bicara.


"Rere, Monika, Lia, boleh kupinjam berkas-berkas kasus kalian? Akan kubawa untuk memenjarakan orang yang sudah berani bermain-main dengan permatanya keluarga Kusuma. Berusaha mencerai berai kedua saudaraku saja sudah tidak termaafkan apalagi ini sampai berani menyakiti istri dan iparku. Tidak akan ada ampun," kata Jovan.


Kalimat ketiga putranya justru membuat Mama dan Papa merasa khawatir. Bukan khawatir pada anak-anaknya, melainkan pada orang yang akan mereka lawan. Papa dan Mama kenal betul seperti apa putra mereka. Mereka masih akan diam jika ada yang menyakiti mereka tapi jika ada yang berani mengusik keluarga mereka. Jangan harap mereka akan tenang saja. Bisa habis orang itu bahkan sampai ke akar-akarnya.

__ADS_1


"Besok kalian harus tetap berhati-hati. Redam emosi kalian atau itu bisa menjadi bumerang untuk menjatuhkan kalian, paham?" kata Mama diangguki oleh anak-anaknya.


"Papa bangga sama kalian."


__ADS_2