Ours In Another Story

Ours In Another Story
20. Keputusan Jevan dan Rere


__ADS_3

Setelah memastikan kembar kembali tertidur, Lia dan Rere berjalan keluar dan bergabung dengan yang lainnya untuk makan bersama. Tidak lupa mereka juga menelepon Monik, kalau tidak ibu negaranya Jovando Kusuma ini bisa nekat terbang ke Jogja saat ini juga. Begitu sambungan telepon terhubung, teriakan Tirta dan Genta yang sedang berebut robot Iron Man menyapa, tapi tak lama setelah itu kedua anak itu bergabung dengan Bundanya berdesak-desakan untuk bisa melihat wajah si kembar melalui layar ponsel. Jevan juga mengajak Jovan yang masih berada di kantor untuk ikut bergabung dalam video call. Jadi lengkap sudah keluarga ini berkumpul, walau tidak secara fisik bertemu.


“Dek Lia, jaga kesehatan ya. Nggak usah takut gemuk yang penting makan. Asupanmu kan harus cukup buat 3 orang,” kata Jovan.


“Mas, jangan digituin. Bisa lebih nggak terkontrol dia makan. Nih lihat dia udah habis 2 piring dan masih mau nambah lagi bayangin,” curhat Junius.


“Ya nggak papa Yus, biar sehat. Kalau Lia sampai sakit kan kamu juga yang susah. Kuat emang momong anak-anak sendirian?” kata Monik.


“Iya mbak, siap laksanakan. Pokoknya nggak akan kubiarin permaisuriku ini sakit,” kata Junius.


“Ihh ayah gombal,” celetuk Abi membuat seisi ruangan tertawa.


“Je, sekarang giliranmu sama Rere. Jangan lupa kasih adik ke Nafiza,” kata Jovan.


“Nggak mau om. Nafiza nggak mau punya adek, Nafiza nggak mau Mama kesakitan,” kata Nafiza.


“Kesakitan kenapa? Dulu waktu lahirin Nafiza Mama Rere nggak kesakitan tuh, tante kan yang temenin jadi tante tahu. Nggak papa ya punya adik, biar Nafiza kalau main nggak sendirian,” kata Monik.


“Iya Nafiza, biar kaya Tirta bisa main terus setiap hari sama Genta,” Tirta ikut-ikutan membujuk.


“Beneran Ma?” tanya Nafiza pada Mamanya.


“Beneran. Mama nggak bohong,” jawab Rere sambil tersenyum.

__ADS_1


“Yaudah deh, Nafiza mau punya adek. Adiknya harus lucu kaya adiknya Abi ya Ma,” kata Nafiza membuat Jevan begitu lega.


“Tuh Je, udah dapet restu. Sana kasih adik buat permatamu,” kata Jovan.


“Oho jelas, nggak pake lama langsung gas,” kata Jevan berhadiah cubitan dari Rere yang mulai malu.


“Yus, kasih tahu namanya anak-anak sekarang dong. Habis ini aku meeting jadi nggak bisa lama-lama,” kata Jovan lagi.


“Okk, jadi si kembar aku kasih nama Rama Candra Putra sama Krisna Candra Putra. Dek Rama yang lahir duluan, dek Krisna yang jadi bungsunya Ayah,” kata Junius pada kedua anaknya yang masih tidur dengan tenang di gendonganya dan Lia.


Setelah obrolan dengan Monik dan Jovan diakhiri, mereka membantu membersihkan rumah Junius dan Lia. Abi sudah ikut masuk ke dalam kamar bersama Nafiza karena mereka bilang ingin melihat adik tidur. Lia di dalam memposisikan diri untuk menyusui bayi kembarnya dibantu Mama sedangkan di dapur ada Rere dan Jevan yang sedang mencuci piring.


"Siniin sponsnya, kamu yang bilas aja ya cantik," kata Jevan meraih spons cuci Rere.


Selesai mencuci piring, Jevan lebih dulu membersihkan tangannya dan mengelapnya hingga kering. Dia meraih gelas kemudian mengisinya dengan air putih hingga separuh. Dia mendekatkan bibir gelasnya ke mulut Rere lalu membantunya minum dengan perlahan. Setelahnya sisa air yang tidak habis diminum dia tandaskan dengan sekali teguk.


"Mas...," panggil Rere.


"Hmm?"


"Soal adiknya Nafiza...," Rere menggantung kalimatnya karena takut untuk mengutarakannya pada sang suami.


"Aku nggak akan memaksa. Aku tunggu sampai kamu dan Nafiza siap," kata Jevan.

__ADS_1


"Aku bingung Mas, anak kita itu agak berbeda dengan anak kebanyakan. Dia masih manja banget, kamu juga sih manjain dia banget jadi dia belum mandiri sama sekali sedangkan kalau kita punya anak kedua, perhatianku pasti akan kebagi. Apa benar Nafiza akan baik-baik saja?" curhat Rere.


"Sebenarnya Mas juga bingung, tapi kalau mempertimbangkan apa yang pernah Jovan dan Junius bilang nggak ada salahnya juga," kata Jevan.


"Memangnya mereka bilang apa?"


"Tirta. Sebagai anak pertama dan cucu pertama dia selalu ingin menang sendiri. Wajar, dia kemana-mana selalu diutamakan dan untuk menghilangkan sifat jeleknya itu Jovan dan Monik memberi mereka Genta. Iyus, anaknya bandel banget. Cepuan dan walau kelihatannya dia nakal tapi apa-apa masih diaduin ke Ayahnya. Mereka akhirnya kasih Abi adik biar Abi bisa belajar untuk memutuskan sendiri dan bisa belajar bertanggung jawab. Kalau kita kasih Nafiza adik juga, aku ingin dia belajar mandiri dan tidak cuma nunggu dikasih sama orang tuanya. Aku nggak mau permata kita itu jadi perempuan yang lemah. Aku ingin dia bisa kuat menghadapi masa depannya nanti," kata Jevan.


"Masa depan tanpa kita...," gumam Rere.


"Perjalanannya masih panjang Cantik. Suatu saat nanti dia juga akan bertemu dengan laki-laki yang akan menjadi imam keluarga kecilnya, dia akan menjadi ibu dan suatu saat nanti. Aku ingin sekali memberikan semua yang terbaik dari sekarang karena aku sadar belum tentu kita bisa menemani dia melewati semua momen bahagia itu. Usia seseorang nggak ada yang pernah tahu," kata Jevan diangguki oleh Rere.


"Mas, kita bicarakan ini di rumah ya. Nafiza mana? Kita pulang yuk. Biar Iyus sama Lia juga bisa istirahat. Mama juga kayaknya udah capek banget," kata Rere.


"Yuk, besok pagi juga kamu harus kerja. Agendamu banyak besok. Kamu juga harus istirahat. Calon ibu hamilku nggak boleh sampai sakit pokoknya," kata Jevan sembari tersenyum. Dia menyempatkan untuk mencium kening Rere sebelum dia beranjak untuk mengajak putrinya pulang ke rumah.


Rere menyusul, dia merapihkan tas Nafiza kemudian lebih dulu pamit pada Mama, Lia, dan Junius. Jevan masuk ke dalam kamar Junius dan menemukan Nafiza ikut tidur sembari bersandar pada punggung pamannya yang sudah terlelap. Perlahan Jevan mengangkat putrinya yang sudah mulai berat itu. Junius sempat terganggu tidurnya, tapi segera kembali menutup mata begitu Jevan pamit. Jevan menggendong Nafiza dan meletakkan kepalanya di pundak kemudian tangan yang bebas dia pakai untuk mematikan lampu dan menutup pintu kamar Abimanyu agar anak itu bisa tidur dengan nyaman bersama dengan ayahnya.


Hanya Mama yang mengantar mereka sampai ke pintu gerbang, Jevan dengan perlahan mengeluarkan mobilnya, membantu Rere membetulkan posisi tidur Nafiza di deretan kursi tengah baru dia berpamitan kembali pada Mama yang menunggu untuk menutup dan mengunci pintu gerbang.


"Ma kita pulang dulu, assalamualaikum," pamit Jevan.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya," jawab Mama.

__ADS_1


__ADS_2