Ours In Another Story

Ours In Another Story
52. Maukah Jovan Membantu?


__ADS_3

Malam itu Jevan dan Junius memutuskan untuk datang ke rumah Papa dan menanyakan apa yang terjadi. Barang kali Papa tahu tentang masalah ini. Ternyata bukan hanya Papa, Mama juga tahu. Mama juga menyebutkan jika sakit stroke yang diderita Papa saat ini salah satunya karena kaget mendengar kabar kondisi Kusuma Group. Papa hanya bisa duduk di kursi rodanya. Tubuh sebelah kiri Papa melemah, dan Papa sudah lumpuh sekarang. Papa bahkan menangis meminta bantuan kepada kedua anaknya yang datang agar membantu mengurus perusahaan.


"Papa nggak perlu khawatir, kita pasti selesaikan perkara ini," kata Jevan.


"Papa tenang aja, Iyus nggak akan diam lihat kondisi kaya begini," tambah Junius.


"Kalian berdua, kalian harus ngomong sama Jovan. Minta juga Jovan untuk bantu kalian. Dengan semua kemampuan dan pengalaman yang Jovan punya, pasti akan sangat membantu," kata Mama.


"Masalahnya nggak semudah itu Ma. Jovan masih trauma dengan apa yang terjadi di Singapura. Dia memang sudah merencanakan untuk pulang ke Indonesia, tapi Jovan tidak mau melanjutkan untuk bekerja lagi di kantor," kata Jevan.


"Jevan, cuma kamu yang bisa ngomong dan bujuk kembarmu. Kalian berdua itu tumbuh di rahim Mama bareng. Kalau Mama, Papa, atau adikmu nggak bisa ngasih tahu Jovando, tapi kamu selalu bisa. Semua kata-katamu didengar sama dia," kata Mama sudah menangis.


"Ma, jangan nangis dong. Ok, Jevan akan minta bantuan sama Jovan. Mama tenang aja ya, Mama jangan mikir yang aneh-aneh," kata Jevan nyaris ikut menangis mendengar penuturan Mamanya. Baru ini Mamanya sampai memohon padanya sembari menangis. Bukan hanya Jevan tapi juga Junius ikut sedih mendengar penuturan Mamanya.


Malam itu juga Jevan menghubungi Monika dan dengan perlahan menjelaskan semua yang terjadi. Monika bilang mereka sudah memesan tiket untuk kembali ke Indonesia minggu depan. Sembari menunggu semua barang mereka dipaketkan, Jovan juga berencana mengajak Monika dan anak-anak untuk jalan-jalan keliling Singapura sebelum kembali ke Indonesia.


"Tepatnya hari apa kamu balik ke sini?" tanya Jevan.


"Hari Selasa. Kenapa Jev, ada masalah?" tanya Monika yang curiga dengan nada suara iparnya.


"Kondisi perusahaan melemah dan sepertinya gue sama Iyus butuh bantuan lo dan Jovan," kata Jevan.

__ADS_1


Monika terdiam. Dia tidak sampai hati mengatakan apa yang baru saja dia dengar pada Jovan. Laki-laki itu baru akan menjajaki kehidupan barunya. Monika bahkan melihat sendiri bagaimana dia berusaha bangkit setelah terpuruk begitu dalam.


Nanti aku bilang sama Jovan dan anak-anak. Kalau masalah tiket sih gampang bisa di ubah jadwalnya," kata Monika.


"Jangan gegabah. Beberapa hari ini biar aku dan Junius pantau dulu kondisinya bagaimana sambil kamu bantu buat ngomong ke Jovan pelan-pelan. Aku dan Junius akan butuh bantuannya dan mungkin dia terpaksa harus pakai mahkota Kusuma Group dikepalanya. Kalian pulang saja sesuai jadwal dan temui aku dan Junius segera setelah sampai di Indonesia," kata Jevan.


"Ok, aku akan bantu ngomong sama kembaranmu," jawab Monika.


Setelah teleponnya dan Jevan terputus, Monika mendekati Jovan yang sedang membacakan dongeng untuk anak-anak di kamar. Kedua kesatria tangguhnya sudah hampir tertidur ketika Monika melangkah masuk ke dalam. Jovan duduk di pinggiran bed Genta sedangkan Tirta di bed sebelah ikut mendengarkan sambil memeluk gulingnya. Sudah banyak box di sana sini karena memang besok atau lusa kantor ekspedisi akan mengambil barang mereka untuk dipaketkan pulang ke Indonesia.


Monika hanya berdiri di ambang pintu mengamati Jovan yang sedang menaikkan selimut Genta dan memastikan Tirta nyaman dalam tidurnya. Dengan perlahan Jovan melangkah keluar dari kamar tanpa lupa mematikan lampu dan menutup pintu. Monika dua langkah mundur ketika Jovan sedang menutup pintu, namun langsung memeluknya ketika pintu kamar putranya sudah tertutup.


"Tumben, kangen ya?" tanya Jovan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Monik.


"Kenapa Bunda?"


"Janji dulu Ayah nggak akan marah," kata Monika sambil menyodorkan kelingkingnya.


"Iya janji," jawab Jovan menautkan kelingkingnya ke kelingking Monika.


Monika melepaskan pelukannya, lalu menariknya ke dalam kamar. Di dalam kamar Monika meminta Jovan duduk berhadapan dengannya di atas tempat tidur mereka. Monika menarik nafas lebih dulu, memastikan dirinya tenang baru dia membuka pembicaraan dengan suaminya yang terlihat bingung dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


"Bunda kenapa sih? Cerita dong," kata Jovan meraih kedua tangan istrinya.


"Ayah..., Ayah tahu kan kalau Papa sakit?" tanya Monika.


"Tahu. Ayah kan ada di sana juga waktu Papa dilarikan ke rumah sakit."


"Papa sakit, bukan karena masalah kita berdua Yah, Papa sakit ternyata karena Papa terlalu keras memaksa tubuh dan pikirannya untuk mempertahankan keutuhan Kusuma Group," jelas Monika.


"Maksud Mama?"


"Jevan telepon tadi. Dia bilang lagi banyak masalah di perusahaan sedangkan Papa sudah nggak mungkin turun tangan lagi menangani masalah yang ada. Papa memforsir tenaganya dan pada akhirnya Papa jatuh sakit. Papa jatuh di kamar mandi karena nggak konsentrasi. Pikiran Papa terus melayang dan hingga saat ini juga Papa masih sering ngalamun mikir perusahaan," kata Monika. Tangan jovan terasa mengendur, namun dengan segera Monika menggenggamnya lebih kuat.


"Aku tahu maksudmu. Tapi jawabanku akan tetap sama. Nggak. Ayah nggak mau."


"Tapi yah...," kata Monika terpotong.


"Ayah kan sudah bilang, Ayah nggak mau masalah yang sama terjadi dua kali. Sudah cukup Ayah mengalami semua itu. Ayah sudah nggak mau lagi. Apalagi dengan kondisi Kusuma Group yang dari jaman kakek masih hidup saja udah jadi rebutan sana sini. Ayah nggak akan pernah mau menenggelamkan diri lagi ke dalam kubangan kotor semacam itu," kata Jovan.


"Jovando, ini bukan masalah perebutan kekuasaan atau apa tapi memang hanya kamu yang bisa."


"Jevan ada di sana, aku yakin dia bisa menyelesaikannya bersama Junius. Aku percaya dua saudaraku itu bukan orang main-main," kata Jovan sudah buang muka.

__ADS_1


"Jovando, baik Jevan atau Junius gerakannya akan terbatas. Mereka bedua hanya akan bisa menjadi pendukungmu. Bukan pemimpinmu. Kamu yang anak tertua di sini. Sadar atau tidak kamulah yang seharusnya menjadi perisai untuk mereka berdua. Dengan semua kemampuanmu dan pengalamanmu akan sangat membantu menyelesaikan masalah ini. Jov, selama ini kamu yang bekerja di bidang ini sedangkan mereka tidak. Pun kamu tidak mau masuk dalam kubangan itu apa kamu tega melihat kedua saudaramu yang masuk?" kata Monika terus mencoba membujuk Jovan.


"Nggak Mon. Sekali nggak tetap nggak. Aku nggak mau mengorbankan kamu sama anak-anak lagi. Kalau memang ini adalah akhir Kusuma Group biarlah menjadi akhir. Buat apa kita berusaha menghidupkan lagi pohon yang sudah tua dan hampir mati? Buang-buang waktu. Menebangnya akan jadi lebih mudah," kata Jovan yang mulai bersikap keras.


__ADS_2