Ours In Another Story

Ours In Another Story
19. Nafiza Tidak Mau Punya Adik


__ADS_3

Tak lama setelah keluarga Jevan sampai di rumah sakit, Lia dipindahkan ke ruang bersalin. Karena Junius tidak sanggup menemani akhirnya Rere yang menemani di samping Lia dan ikut masuk ke ruang bersalin. Sekitar 1 jam lamanya mereka menunggu, tangisan pertama langsung menggema ke seluruh ruangan bahkan hingga terdengar oleh mereka yang menunggu di depan ruangan. Lalu disusul tangisan berikutnya 13 menit kemudian.


Setelah dokter memastikan ketiganya sehat dan baik-baik saja, Rere melangkah keluar dan digantikan Junius menggendong Abi masuk ke dalam. Junius meletakkan Abi di samping Ibunya sedangkan dia menerima kedua putranya untuk dia adzani. Begitu semua prosesnya selesai dan Lia sudah kembali ke ruang rawat inap, Rere dan Jevan mengajak Abi dan Nafiza untuk makan malam dulu sementara Junius menemani Lia yang sedang istirahat.


“Mama, kok tadi tante Lia teriak sih?” tanya Nafiza yang saat ini ada di pangkuan Rere.


“Ngeluarin adek bayi tuh sakit ya Ma? Kalo gitu Nafiza nggak jadi mau punya adek ahh, Nafiza nggak mau Mama sakit,” kata Nafiza.


Setelahnya dia malah menangis, di sebelahnya Abi juga masih sesenggukan karena tadi habis ketakutan mendengar tangisan adiknya. Memang bukan keputusan yang tepat mengajak anak-anak ke rumah sakit. Ya habis Jevan juga tidak akan sanggup menjaga Nafiza dan Abi hanya sendirian. Lagi pula Abi juga harus bertemu dengan adiknya kan. Dia sendiri yang tadi bilang ingin ikut dan memaksa.


“Nggak sakit kok sayang, udah nggak usah nangis ah,” kata Rere sambil menghapus air mata Nafiza yang saat ini sudah ada digendongannya.


“Papa, Nafiza nggak mau punya adek. Pokoknya nggak mau. Nafiza nggak mau Mama sakit Pa,” kata Nafiza kali ini pada ayahnya.


“Kok gitu? Katanya mau punya adek, kan Nafiza pernah bilang pengen dipanggil Kakak,” kata Jevan berusaha membujuk anak gadisnya.


“Ya habis Nafiza nggak mau Mama kesakitan. Nggak mau pokoknya nggak mau,” bukannya tenang Nafiza malah semakin keras menangis. Jevan baru tersadar jika tepat di hadapannya saat ini ada sepasang mata yang begitu mengerikan sedang menatap padanya. Siapa lagi kalau bukan Reva Aulia.


Jevan kemudian memilih untuk mengambil alih dan menggendong Nafiza untuk menenangkannya. Gagal kan rencananya, tahu gitu lebih baik tadi dia berkorban sedikit menjaga Abi dan Nafiza seorang diri maka anak ini tidak akan protes. Mana Rere bilang dia nggak mau tambah anak kalau nggak dapat restu dari Nafiza. Malam ini dia harus mendapatkan restunya kembali bagaimanapun caranya. Padahal dia sudah tidak sabar akan menggendong anak keduanya. Jevan diam-diam juga ingin bisa memiliki anak laki-laki seperti kedua saudaranya.


Setelah beristirahat selama 2 hari di rumah sakit, Lia diperbolehkan pulang. Jevan yang bertugas menjemputnya di rumah sakit sedangkan Rere dan Nafiza sudah menunggu di rumah Junius untuk setidaknya bersih-bersih dan menyiapkan tempat untuk kedatangan si kembar. Kemarin sih Junius sudah pulang dan katanya sudah menyapu dan mengepel lantainya, tapi dia lupa tidak menata kamarnya.

__ADS_1


“Mama mau masak apa Ma?” tanya Nafiza pada Mamanya yang terlihat sibuk di dapur.


“Kamu maunya apa kak?” Rere bertanya balik pada Nafiza putrinya.


“Mau telur dadar Ma, pakai bawang bombay kaya Papa bikin kemarin,” kata Nafiza.


“Ok, kalo Abi mau apa?”


“Abi mau telur ceplok aja tante,” jawab Abi.


Setelah menerima pesanan, chef Reva langsung melaksanakan tugasnya. Dengan cekatan dia meracik bumbu, mencuci semua bahan hingga bersih, dan mulai memasaknya. Tidak pakai MSG Rere memasak, sejak jadi menantu Mama Tiwi dia jadi terbiasa memasak tanpa bantuan bumbu ajaib itu. Terima kasih juga pada Mama yang sering mengajarinya memasak ini dan itu, jadi dia bisa terampil begini. Anak-anak juga jadi tidak terbiasa memakan makanan penuh dengan micin.


Setelah selesai memasak dan menata semuanya di meja makan, Rere bergabung dengan Nafiza dan Abi yang sedang bermain di depan tv. Tadinya Abi sedang asik bermain lego, tapi langsung ditinggalkan begitu mendengar pintu rumah terbuka. Dia melihat Nenek dan Mamanya menggendong adik kembarnya masuk ke dalam rumah. Di Belakangnya mengikuti Jevan, Papa dan Junius yang membawa tas yang berisi pakaian kotor.


“Ahh kok adek nangis. Jangan nangis dek, maafin Mas,” kata Abi yang merasa bersalah karena tadi tidak sengaja mencubit adiknya terlalu keras.


“Mas kalo mau minta maaf ya nggak usah sambil nangis juga. Gimana adek mau diem mas kalo gitu caranya?” kata Junius yang saat ini ikut masuk ke dalam kamar.


"Terus gimana Ayah?" tanya si gembul sembari sesenggukan.


"Kamu elus tangan adek coba," kata Junius.

__ADS_1


Abimanyu kemudian mengelus pelan tangan adiknya yang menangis karena dia tidak sengaja mencubitnya tadi. Seperti kata Ayahnya, adiknya itu berangsur-angsur diam dan kembali tertidur dengan tenang.


"Iya Ayah bener, adek jadi diem nggak nangis lagi," kata Abi dengan bangga kemudian tos dengan ayahnya.


“Yus udah siapin nama?” tanya Mama.


“Udah Ma,” jawabnya singkat.


“Tokoh wayang yang mana yang kamu pake Yus? Kata Lia kamu sampe maraton Mahabarata dan Ramayana cuma buat nyari nama,” goda Rere.


“Ada deh, nanti juga bakal aku kasih tahu.”


Jevan ikut penasaran sepertinya, jadi dia ikut masuk dan melihat Rere sedang menenangkan salah satunya. Dia menggendong dan menimangnya persis seperti yang sering dia lakukan pada Nafiza dulu. Jevan kemudian berdiri di samping Nafiza dan berbisik pada anak itu, “Kak, dulu Mama juga gitu loh setiap Kakak nangis. Mama selalu gendong kakak sambil nyanyi gitu,” kata Jevan.


Setelah itu Jevan tidak sadar sudah masuk ke lamunannya sendiri, membayangkan jika mereka sudah memiliki anak kedua dan Jevan melihat Nafiza bermain di dekat ibunya yang sedang menimang adik laki-lakinya. Akibat lamunan itu, Jevan sampai tidak menyadari jika putrinya terus memanggil namanya. “Papaaaa….,” teriak Nafiza tepat di telinga ayahnya yang sejak tadi berjongkok di sampingnya.


“Kak, kalau teriak jangan di telinga dong,” kata Jevan.


“Habis Papa nih dipanggil nggak denger-denger,” Nafiza merajuk.


“Papa pengen gendong? Sini Pa,” kata Rere pada Jevan.

__ADS_1


“Nggak usah Ma, nanti dia nangis lagi. Kalau udah nyusul ke meja makan ya, biar bisa makan bareng,” kata Jevan.


__ADS_2