Ours In Another Story

Ours In Another Story
73. Tertangkap


__ADS_3

Dari atas kursi rodanya Jeffrey tersenyum menatap candaan ketiga anaknya yang diam-diam dia rindukan. Dia rindu benar melihat kedua anak kembarnya menjahili sang adik. Dia juga rindu melihat Junius akan tertawa karena berhasil mengembalikan kata-kata kakaknya. Ketiga putranya ini adalah pelita hidupnya. Ketiga putranya inilah sumber kekuatannya dan bahkan ketiga putranya inilah yang membuat Jeffrey memutuskan untuk kembali bangun setelah mengalami koma beberapa hari karena stroke.


"Anak-anak Papa ternyata sudah besar. Ingat ya anak-anak, kalian adalah tiang penyangga Kusuma Family. Papa sudah tidak sanggup menyangganya lagi jadi Papa percayakan menara kita kepada kalian bertiga," kata Papa.


"Papa tenang saja, selama Prasetya Jovando Kusuma masih bernafas, Kusuma Group akan selalu aman," kata Jovan.


"Dih pede. Prasetya Jevando Kusuma juga akan selalu pasang tameng untuk melindungi," jawab Jevan.


"Haha, Mas berdua nggak akan bisa apa-apa kalau nggak ada Junius Chandra Kusuma."


"Benar. Kalian bertiga triple J kesayangan Mama dan Papa. Kalian bertiga jagoan Mama, pangerannya Mama. Janji sama Mama, kalian bertiga harus selalu bersama ya. Apapun yang terjadi kalian adalah saudara. Kalian itu satu," kata Mama.


"Doakan kami bertiga ya Ma," kata Jovan.


"Pasti."


"Ayo Papa, Mama, sudah saatnya pertunjukan dimulai," kata Junius yang mulai mendorong kursi roda Papa menuju ke ruang pertemuan.


Papa masuk sembari di dorong oleh Junius. Diikuti oleh Mama dan kedua anak kembar mereka. Semuanya langsung duduk di kursi yang sudah disediakan sedangkan Junius masih tetap berada di belakang Papa yang kini duduk di kursi yang biasa ditempati oleh seorang presiden direktur.

__ADS_1


"Saya tidak akan bertele-tele. Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin mengajukan pengunduran diri dan untuk siapa yang akan menggantikan posisi saya, saya akan mengusulkan putra sulung saya, Prasetya Jovando Kusuma. Dia yang menjadi mantan executive manager di perusahaan lamanya kini memutuskan untuk kembali pulang dan meneruskan misi saya membawa tujuan perusahaan," kata Jeffrey sembari menatap Jovan dengan lekat.


Papa sudah mengumumkan Prasetya Jovando Kusuma sebagai penggantinya. Setelah para dewan berdisuksi sekedarnya mereka memutuskan hal yang sama. Kini Jovando sudah resmi menjabat sebagai presiden direktur Kusuma Group yang baru. Bahkan berkas pengangkatannya disetujui oleh seluruh anggota dewan yang hadir. Dari sekian banyak hanya satu yang terlihat tidak senang. Ya orang itu adalah dia yang akan menjadi bintang utama dalam sidang kali ini.


"Selamat ya Pak Jovan, anda sudah sah sebagai presiden direktur. Mohon untuk memberikan sepatah dua patah kata kepada semua yang hadir," kata sekretaris Papa.


"Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan untuk memimpin anda yang sudah pasti lebih hebat dibandingkan saya. Saya mohon bimbingan dan arahannya, semoga dengan saya duduk di kursi ini saya bisa membawa Kusuma Group menuju ke puncak kejayaannya," kata Jovan dijawab oleh applause dari seluruh yang hadir.


"Dan sebagai langkah pertama saya dalam perjalanan membawa Kusuma Group saya akan memanggil Pak Bejo untuk maju ke depan dan membantu saya membacakan sesuatu untuk anda semua," kata Jovan.


Pak Bejo yang dipanggil langsung maju ke depan. Beliau menerima stopmap dari tangan Jovando kemudian berdiri di podium bersiap membaca apa yang ada di dalamnya. Pak Bejo langsung kaget begitu mengetahui jika apa yang tertulis di dalamnya adalah rekap laporan keuangan Kusuma Group selama 5 tahun terakhir. Beliau langsung bergetar begitu melihat adanya perbedaan yang begitu besar di sana padahal selama ini beliau yang bertanggung jawab dengan masalah keuangan.


"Jelas. Karena anda yang bertanggung jawab," kata Jevan sambil menekan remote memperlihatkan isi dokumen itu melalui layar monitor membuat seisi ruangan gaduh.


"Bisa tolong anda jelaskan apa yang ada di dalam sana?" tanya Jovan.


"Maa..., maaf..., saya..., saya tidak tahu jika...," kata Pak Bejo tergagap.


"Jelas anda tidak tahu, karena sejak awal anda sudah dibohongi," kata Jovan membuat seisi ruangan kembali terdiam. Dia memutar posisi berdirinya kini menatap seluruh audiens yang hadir kemudian kembali menatap pak Bejo.

__ADS_1


"Anda pasti tahu jika sebelum laporan itu sampai ke anda harus melalui bagian kepala gudang dulu, setelah itu diperiksa oleh pengawas baru laporan itu masuk ke tangan anda dan anda tanda tangani. Kemudian anda hanya perlu mencocokkan dengan proposal yang sudah diajukan sebelumnya dengan invoice yang ada di tangan anda. Kesalahan anda hanya satu Pak, anda tidak mengecek kondisi lapangan apakah laporan yang anda terima benar adanya atau tidak," kata Jovan lagi.


"Maaf..., saya...."


"Tidak perlu meminta maaf pada saya Pak, Bapak perbaiki saja kinerja Bapak agar bisa lebih baik lagi. Toh bukan Bapak yang akan saya hukum hari ini tapi Pak Haryo yang merupakan dalang dari sekian banyak kasus korupsi dan penggelapan uang perusahaan bahkan selama bertahun-tahun lamanya," kata Jovan yang langsung melimpahkan kesalahan itu pada pelaku yang sebenarnya.


"Apa-apaan anda? Saya adalah pegawai yang setia pada Kusuma Group. Saya tidak terima disalahkan begitu saja," kata Pak Haryo yang kaget langsung berdiri dari tempatnya duduk.


Jovan kemudian berdiri menggantikan Pak Bejo yang sudah memucat di podium. Jovan mengalihkan monitor memperlihatkan beberapa dokumen lain hasil temuan Jevan dan Junius di lapangan setelah beberapa minggu melakukan penyelidikan, "Anda ingin tahu dari mana saya mendapatkan catatan ini kan?" tanya Jovan pada Pak Haryo yang mulai memucat ketika Jovan memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui oleh orang selain dirinya dan yang bersangkutan.


"Kepala gudang yang sudah anda beri uang tutup mulut mengakuinya pada kami kemarin. Beliau juga mengatakan jika anda terus mengancam jika sampai informasi ini bocor," lanjut Jovan.


"Bagaimana Pak? Apakah yang saya katakan benar atau mungkin jika anda merasa difitnah kita datangkan saja kepala gudang kemari?" ancam Jovan membuat pak Haryo menyeringai.


"Lalu apa? Anda akan memecat saya? Lakukan saja, maka anda akan menyesalinya seumur hidup. Saya adalah pemegang saham di Kusuma Group. Saya juga pejabat penting yang tidak mudah digantikan, akan kemana anda mencari pengganti saya apabila anda memecat saya?" kata Pak Haryo.


"Beginilah tikus kalau sudah terpojok. Bisanya mengancam saja. Perlu konspirasi anda dengan sejumlah anggota DPR saya beberkan di sini juga? Anda kenal dengan Pak Jamal? Menurut anda apakah relasi anda itu akan membantu anda? Tidak mungkin. Karena saat ini mungkin polisi sudah menggerebek ke kantornya dan menangkapnya untuk dimintai keterangan," kata Jevando yang ikut maju ke depan.


"Memotong cabang yang rusak dari sebuah pohon akan lebih baik. Toh pohon selalu mempunyai cara untuk menumbuhkan batang baru. Saya yakin Kusuma Group tidak akan hancur hanya karena kehilangan anda," kata Junius.

__ADS_1


__ADS_2