Ours In Another Story

Ours In Another Story
24. Aku dan Kamu Tidak Terpisahkan


__ADS_3

Rere tersenyum mendengar penuturan Jevan. Dia hanya mampu diam dan menatap lekat suaminya itu. Jevan ikut menatapnya, namun dia membaca masih ada setitik keraguan di mata istrinya. Jevan kemudian mendapatkan ide untuk meyakinkan Rere soal perasaannya yang tidak akan berubah. Karena memang dia juga menyadari jika istrinya ini memiliki insekyuriti yang tinggi. Dia selalu tidak pecaya pada apa yang dikatakan oleh orang lain.


"Cantik coba kamu satukan tanganmu seperti ini lalu tekuk jari tengahnya," kata Jevan meminta Rere menyatukan kedua telapak tangannya dan menekuk kedua jari tengahnya ke dalam.


"Sekarang kamu coba pisahkan ibu jarimu, bisa?"


"Bisa," jawab Rere.


"Jari telunjuk?"


"Bisa."


"Jari manismu?"


"Tidak."


"Kalau kelingking?"

__ADS_1


"Bisa."


"Aku pernah mendengarnya dalam sebuah pengajian. Ibu jari ini mewakili orang tua kita, sedangkan jari telunjuk adalah saudara, jari tengah melambangkan kita sendiri, jari manis pasangan, dan jari kelingking adalah anak-anak kita," kata Jevan. Dia ikut menyatukan tangannya dan mempraktekkan seperti Rere sebelumnya satu per satu.


"Lihat, kita bisa memisahkan ibu jari kita karena suatu saat orang tua kita akan pergi mendahului kita. Kita akan berpisah. Jari telunjuk, jika saudara satu dan yang lainnya sudah berkeluarga mereka akan berpisah seperti aku, Jovan, dan Junius juga sudah tidak satu rumah. Nah kelingking juga bisa berpisah kan? Suatu saat akan datang waktu dimana kita mengantar anak-anak kita ke pelaminan dan menjemput bahagianya masing-masing. Tapi jari manis, jari ini melambangkan pasangan. Tidak bisa dipisahkan sekuat apapun kamu berusaha. Inilah aku dan kamu, Reva. Kita adalah pasangan yang tidak terpisahkan," kata Jevan. Rere masih menatap jari jemarinya dan masih mencoba memisahkan jari manisnya namun selalu gagal.


"Pernah dengar, surga istri ada pada suami. Mau kemana kamu itu tergantung aku. Kalau aku bisa membimbingmu insyaallah kita akan bersama-sama ke surga. Kamu tidak akan pernah berpisah dariku. Tidak akan, entah di dunia atau di akhirat nanti. Ananda Reva Aulia akan tetap menjadi separuh nafas Prasetya Jevando Kusuma, jadi kamu tidak punya alasan untuk takut. Ikatan kita kuat Cantik tidak akan pernah bisa melemah. Selama namamu masih ada dalam doaku dan namaku ada dalam doamu, kita tidak akan terpisahkan," kata Jevan kini menggenggam tangan Rere.


“Kupikir selama ini cuma aku yang sesayang itu sama kamu, Mas. Kamu juga sama, kamu lebih dari berarti buat aku, karena cuma kamu tempat untuk aku pulang. Prasetya Jevando Kusuma, kuharap kamu tahu perasaanku.”


“Tentu saja aku tahu cantikku,” kata Jevan yang mencubit hidung Rere gemas.


“Sebutan itu dari awal hanya untuk kamu dan akan selalu jadi punya kamu. Kamu itu cantik Reva, sangat cantik,” kata Jevan membuat Rere tersenyum. Jevan memang selalu mencintainya dengan cara yang tepat. Dia selalu tahu apa yang Rere butuhkan tanpa dia harus bicara. Walaupun tidak banyak bicara tapi aksinya selalu nyata.


Menjelang malam, Rere adalah yang pertama kali merengek lapar. Sepertinya dia benar-benar memanfaatkan kesempatan seperti yang diminta oleh Reno siang tadi. Tingkah Rere, manjanya Rere, dan rengekannya Rere sama persis seperti Nafiza. Tapi tidak masalah, justru Jevan rindu sekali dengan manjanya Rere yang ini. Sejak ada Nafiza jangankan untuk manja, merajuk saja sudah jarang. Padahal Rere itu sangat-sangat-sangat menggemaskan ketika merajuk dengan kedua pipi yang semakin menggembung dan bibir ditekuk ke bawah begini. Sungguh kelemahan seorang Jevando Kusuma.


“Nafiza udah makan belum ya?” tanya Rere.

__ADS_1


Tetap saja, semanja-manjanya Rere sekarang dia adalah seorang ibu. Jelas dalam setiap nafasnya akan selalu menyertakan nama Nafiza, putrinya. Jevan bahkan sempat cemburu dengan anaknya sendiri karena perhatian Rere jadi terbagi, tapi toh perhatian dia juga terbagi jadi mereka impas.


“Telepon aja,” saran Jevan.


Baru Rere akan membuka handphonenya, masuk satu pesan foto dari Tiara. Dia mengirimkan foto Nafiza yang sedang makan bakso, katanya dibelikan Akung. Wajah Nafiza kelihatan bahagia ketika berusaha menggigit bakso berukuran besar yang sudah ditusukkan ke garpu. Tiara dalam pesannya juga berkata jika Rere tidak perlu khawatir soal keadaan Nafiza di sini, tapi tetap saja mau seperti apapun dia tidak akan mampu lupa walau hanya untuk sesaat.


“Mas, menurutmu Nafiza sudah siap belum sih jadi kakak?” tanya Rere.


“Kalau menurutmu gimana?” tanya Jevan.


“Menurutku dia masih belum siap. Dia masih butuh perhatian penuh dari Papa Mamanya, yakin Mas kita mau kasih adik buat Nafiza sekarang?” tanya Rere.


“Kalau menurutku dia udah siap. Kalau dia belum siap, dia nggak akan ngasih kesempatan kita untuk ke sini. Coba lihat dia baik-baik aja, kan? Cantik sama kaya kamu dulu pernah ngomong, kalau mau nunggu siap terus mau sampai kapan? Sama kaya kita yang terus belajar, Nafiza juga. Mulai dari kecil, biar dia belajar berbagi dan menerima kehadiran orang lain dalam hidupnya. Kamu sendiri juga kan yang bilang nggak mau Nafiza jadi anak tunggal? Percaya sama aku, semua akan baik-baik aja,” kata Jevan sambil terus mengelus kepala Rere.


“Aku tahu kamu protektif ke Nafiza karena dia sedikit berbeda dari anak-anak yang lain, tapi Permata kita itu kuat. Kasih dia kesempatan untuk belajar dan mengeksplorasi dunianya. Biar dia berkembang sesuai dengan usianya, ya?” kata Jevan.


Rere kemudian mengangguk tanda mengiyakan. Jevan tahu seberat apa perjuangan Rere untuk belajar menjadi ibu yang baik untuk Permatanya. Dia mempelajari semuanya dari nol, tanpa pengalaman merasakan kasih sayang dari seorang ibu dia berjuang memberikan seluruh hidup dan matinya pada Permatanya. Jevan melihat sendiri bagaimana Rere berusaha menjadi baik, menjadi sempurna dan kuat di hadapan Nafiza. Bahkan Rere yang selalu melampiaskan semuanya dalam tangis mulai belajar untuk tidak lagi menangis demi bisa memberikan kekuatan pada putrinya.

__ADS_1


Sama seperti Jevan yang selalu ingin memastikan jika kedua cantiknya ini akan selalu dalam keadaan baik. Dia selalu berusaha menjaga Rere dan Nafiza. Walaupun dia sendiri sebenarnya lelah karena harus bekerja keras banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga kecilnya, tapi dia selalu memastikan dia meluangkan waktu untuk bermain dan berkumpul dengan istri dan putrinya. Itulah kenapa dia bisa begitu merasa bersalah jika sampai Nafiza menangis karena rindu padanya.


__ADS_2