Ours In Another Story

Ours In Another Story
69. Bantu Aku ya


__ADS_3

Beberapa hari ketiga putra Jefrrey hanya fokus mendampingi kasus istri mereka. Sesekali mereka akan datang ke kantor secara bergiliran namun tetap saja istri mereka masih menjadi prioritas. Di antara ketiganya Monika adalah yang paling percaya diri. Dia yang paling kuat menghadapi masalahnya dan mentalnya sama sekali tidak terganggu.


Sembari dia menyelesaikan kasusnya sendiri, dia juga masih sempat menguatkan suaminya juga keempat saudaranya. Monika bahkan masih sempat untuk memikirkan cara membantu kedua iparnya, Rere dan Lia yang saat ini masih kesulitan mengurus dirinya sendiri.


"Alhamdulillah, Kresna sudah sembuh kata Lia," kata Monika pada suaminya malam itu. Keduanya sedang berada di dalam kamar. Jovan baru kembali setelah memastikan kedua jagoan kecilnya tidur.


"Oh ya? Alhamdulliah," kata Jovan ikut duduk di sebelah Monika yang sudah lebih dulu berada di atas kasur.


Jovan menempatkan dirinya di sisi kiri. Dia ikut menyandarkan satu bantal untuk sandaran punggungnya lalu tangan kanannya dia pakai untuk merangkul Monika. Dia melingkarkan tangan kanannya dan dengan isyarat meminta Monika untuk bersandar padanya. Monika langsung melakukannya.


Dia lebih dulu berpamitan pada Lia dan Rere yang sejak tadi dia ajak mengobrol melalui pesan singkat kemudian dia letakkan handphonenya di nakas agar dia bisa fokus pada suaminya. Monika langsung melingkarkan kedua lengannya ke tubuh tegap suaminya kemudian meletakkan kepala di dadanya membuat dirinya sendiri nyaman dalam pelukan sang suami.


"Bunda bagaimana dengan persidanganmu?" tanya Jovan.


"Alhamdulillah sudah menemukan titik terang. Jika semua lancar, aku akan menerima putusannya lusa. Aku dinyatakan tidak bersalah, lagi pula aku memang tidak melakukannya kan," kata Monika.


"Kalau begitu boleh aku minta tolong padamu?" tanya Jovan lagi.


"Boleh dong, kenapa tidak? Mau minta tolong apa?"


"Bantu Jevan dan Junius untuk menenangkan istri mereka. Rere dan Lia, memang benar Rere sudah dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Kresna juga sudah sehat dan Lia mulai baik-baik saja. Tapi aku yakin mereka masih dalam kondisi hati yang tidak baik. Aku bisa merasakannya lewat Jevan dan Junius yang cara berjalannya saja melambat," kata Jovan.


"Kalau untuk itu memang sedang aku usahakan. Mau bagaimanapun juga mereka berdua adalah adikku. Aku tidak akan mungkin kuat sendirian, aku pasti akan membantu mereka kok. Cuma aku belum tahu bagaimana caranya," kata Monika.

__ADS_1


"Menurutku kamu perlu membagikan sedikit keberanianmu. Bantu mereka untuk melepaskan diri dari citra mereka. Kita berdua tahu kan segalak apa Rere dan Lia waktu masih gadis dulu. Mereka berdua bahkan lebih galak dari kamu lho aslinya," kata Jovan mengingat drama jaman ketika kedua saudaranya akan menikah dulu.


"Benar juga ya. Mungkin aku harus membantu membangunkan singa di dalam hati mereka," kata Monika.


"Ayah minta tolong ya Bunda?" kata Jovan meyakinkan Monika. Monika mengangguk membuat Jovan tersenyum dan semakin menenggelamkan Monika. Dia mulai mengganti posisinya dari setengah duduk menjadi rebah. Dia biarkan Monika tidur di atas pelukannya, sudah lama juga dia dan Monika tidak begini mesranya. Kasus menyebalkan itu sudah terlalu banyak menyita waktu Jovan dan tak jarang mencuri waktu main caturnya bersama Monika.


Siang hari berikutnya, sesuai permintaan sang suami Monika bermaksud mengajak Rere dan Lia untuk makan bersama. Dia sengaja meminta Jovan untuk tetap di rumah hari itu dan menemani anak-anak bermain selagi Monika mengajak Rere dan Lia untuk makan bersama di taman belakang. Dia dengan niatnya memesan banyak makanan dari restoran langganan keluarga Kusuma lalu menatanya dengan cantik seolah akan ada pesta siang itu.


Monika menggandeng Lia, juga memapah Rere untuk berjalan ke arah taman belakang dan mendudukkan diri di meja bundar yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Taraaa~," kata Monika setelah Lia dan Rere sampai di taman belakang.


"Ya ampun Monika ini kamu ngapain sih?" tanya Rere.


"Buat merayakan kesehatanmu juga Kresna, aku menyiapkan semua ini. Buat kita bertiga ibu-ibu hebat yang sudah berusaha keras melawan badai demi keluarganya," kata Monika.


"Mama di sini nak," jawab Mama yang baru datang.


"Mama dan Monika menyiapkan ini khusus untuk kita berempat. Kalau kata anak sekarang apa Mon? Self reward ya? Itulah pokoknya. Yuk kita duduk," kata Mama.


"Bentar Ma, aku panggil Nafiza dulu," kata Rere.


"Eits, anak-anak biar sama Ayah mereka dulu. Aku sudah siapkan di meja makan untuk mereka. Ada yang mau aku bicarakan sama kalian berdua Re, Li, dan aku nggak mau Jovan, Jevan dan Junius dengar, apalagi anak-anak," kata Monika.

__ADS_1


Setelah dibujuk dengan begitu keras, Rere dan Lia akhirnya mau duduk. Keempatnya kemudian mulai menyalakan kompor portable dan meletakkan daging-daging itu ke atasnya membuat bunyi desisannya terdengar ke mana-mana. Monika menyiapkan menu barbeque dan suki seperti yang pernah diidamkan Rere sebelumnya. Lia juga suka makanan yang pedas dan berkuah jadi dia memilih kedua menu ini untuk makan siang mereka.


"Sini biar aku saja. Kalian berdua cukup makan dengan banyak," kata Monika.


"Mbak Monika tadi mau bilang apa? Sekarang saja Mbak, aku nggak mau ninggalin si kembar kelamaan," kata Lia.


"Aku tahu, tapi setidaknya kalian berdua harus makan dulu."


"Tapi Mbak...."


"Nggak ada tapi Lia. Kamu itu seorang ibu, kalau kamu kacau begini gimana anak-anakmu nanti? Kamu juga Re, kamu sedang hamil, kalau kamu tidak berusaha sehat bagaimana dengan bayimu? Kamu lupa dengan apa yang terjadi ketika kamu melahirkan Nafiza dulu?" akhirnya Monika berhasil membuat Lia dan Rere menurut.


"AKu takut kehilangan kalian berdua. Rere, Lia, kalian itu kan perempuan-perempuan yang tangguh, kenapa kalian cuma masalah kaya gini melemah?" tanya Monika.


"Cuma? Monika cuma? nama baik Lia dipertaruhkan, dia terancam hukuman penjara, butikku? Kerugiannya nggak main-main," kata Rere.


"Aku apa kabar Re? Suamiku baru saja terbebas dari penjara di negeri orang, nama baikku sendiri juga dihancurkan. Tapi aku memilih bertahan. Rere, kamu pernah bilang sama aku kalau kamu bisa kuat karena kamu sedang melindungi sesuatu yang berharga untukmu. Lalu apakah kita semua tidak lagi berharga untukmu? Apakah anak-anakmu juga tidak lagi berharga untukmu?"


"Lia kamu bahkan berani memerangi stalker sekelas Ning Ning tapi kenapa masalah ini kamu jadi takut? Kamu nggak salah kan Lia? Kenapa kamu harus takut?"


Monika terus berbicara membuat Rere dan Lia terdiam, "kalian lihat kan suami kita. Mereka berjuang keras melindungi dan menjaga kita semua. Jadi sekarang aku mohon sama kalian, ayolah bangkit. Bukan demi kita sendiri tapi demi masa depan anak-anak kita nanti. Jangan sampai langkah mereka dinodai dengan penyesalan kita," kata Monika.


"Monika sudah, tenang," kata Mama karena Mama melihat Rere dan Lia sudah tidak merespon sama sekali.

__ADS_1


Tak lama kemudian, entah dikomando siapa Jovan, Jevan, Junius, dan anak-anak termasuk juga Papa mendekati mereka dan ikut bergabung bersama. Ketika Rere dan Lia melihat suami dan anak-anak mereka, ada sesuatu yang tergerak di dalam hati keduanya dan Monika menyadari itu.


"Mengamuklah jika memang kalian harus mengamuk. Ingat Reva Aulia dan Aprilia kalian adalah menantu dari tuan Jeffrey Kusuma, istri dari Jevando Kusuma dan Junius Chandra. Kalian adalah ibu untuk anak-anak kalian. Jika bukan kita yang menjadi tiang dari rumah tangga kita lalu siapa lagi yang akan membuatnya kokoh berdiri," kata Monika.


__ADS_2