
Jevan meninggalkan pembahasan itu dan lebih memilih menghampiri Rere yang sedang duduk di meja makan untuk makan malam yang kedua kalinya. Jevan memang tidak pernah melarang istrinya untuk makan larut malam. Toh dia tahu Rere tidak akan berlebihan. Dia hanya ingin melepaskan rasa laparnya. Apalagi ketika hamil Rere akan banyak makan dan ngidam ini itu.
"Cantik lagi makan apa?" tanya Jevan yang kemudian duduk di sebelahnya.
"Makan mie," kata Rere.
"Papa kok di sini, itu diskusinya diselesain dulu ah," kata Rere protes sambil melindungi mienya ketika Jevan berusaha minta.
"Udah selesai. Selanjutnya biar Jovan yang memutuskan," kata Jevan.
"Kamu harus terus di sampingnya. Jovan pasti butuh kamu Mas, Kalau mengandaikan kalian berdua adalah sebuah pistol, maka kamulah pelatuknya. Kamu yang bisa membuat pelurunya lepas dan melesat jauh. Kalian berdua itu satu. Seperti kata Junius, dia cuma punya kakak satu. Yaitu si kembar Jovan dan Jevan," kata Rere menyemangati suaminya.
Jevan mengangguk kemudian mencium kening istrinya. Baru dia akan mencium pipinya, Nafiza datang dan langsung menubruk ke Papanya, "Hayo Papa mau ngapain sama Mama. Papa mau cium Mama ya? Nafiza juga mau dicium Papa," kata Nafiza merengek minta cium. Jevan tertawa kemudian mencium kening putrinya dan menaikkannya ke atas pangkuan.
"Mama mau mie juga," kata Nafiza yang melihat Mamanya makan mie rebus.
Rere dengan jahilnya menyuapkan satu sendok pada putrinya. Nafiza tadinya masih menikmati, tapi begitu merasakan pedas dia langsung memuntahkannya lagi kemudian menangis mencari air minum. Setelah selesai minum, dia kembali mendekati ibunya dan menarik-narik lengan Rere.
__ADS_1
"Mama jangan dimakan lagi udah jangan dimakan, nanti kasian adek Mama...," Nafiza mulai menangis sambil menarik-narik lengan Rere.
Jevan berusaha menahannya, karena bahkan setelah Rere menghentikan makannya Nafiza masih menangis. Jevan kemudian menggendongnya dan membawanya keluar agar dia tidak melihat Mamanya lagi. Dengan perlahan dia memberi pengertian pada putrinya, namun setelah tenang pun Nafiza tidak mau turun dari gendongan Papa, dia bahkan sempat marah pada Mama karena dianggap jahat pada adiknya. Untung tidak bertahan lama, Nafiza sudah memaafkan Rere walaupun belum mau diturunkan dari gendongan Papanya dan akhirnya terlelap tidur.
"Jev, aku mau ngomong sama kamu berdua aja, bisa?" minta Jovan.
Jevan mengangguk. Dia lebih dulu menurunkan Nafiza dengan perlahan dari gendongannya dan memastikan putrinya itu sudah kembali tidur. Rere ada di sebelahnya sudah siap menyelimuti Nafiza. Dia juga menepuk pundak suaminya dan memberikan gestur untuk mengingatkan suaminya soal apa yang tadi dia katakan. Jevan mengangguk kemudian berjalan menemui Jovan yang sudah menunggunya.
"Kamu sama Junius mulai kapan mau ke kantor?" tanya Jovan.
"Sudah sejak kemarin. Begitu Pak Haryo bilang aku sama Junius langsung cari tahu ke kantor."
"Parah Jo, bukan hanya karena penggelapan dan sabotase, tapi sistem kerja perusahaan makin kacau. Alur komando berantakan, dan pimpinannya juga nggak jelas. Banyak kepentingan pribadi yang tumpang tindih sama kepentingan organisasi. Aku sendiri belum tahu pasti kenapa bisa seberantakan itu. Pengalamanku nggak banyak membantu. Karena di percetakan nggak pernah aku ngalami masalah sampai sehebat itu. Lagi pula tidak bisa dibandingkan juga percetakanku kecil berbeda jauh dengan Kusuma Group," kata Jevan.
"Jo, aku nggak akan maksa. Semuanya kembali ke kamu. Tapi andai kamu nggak mau bantu secara langsung pun aku tetep akan butuh bantuanmu. Kamu bisa bantu aku sama Iyus dari belakang. Aku janji akan jaga nama kamu tetap samar," kata Jevan.
"Biar aku pikirin dulu Je, sorry. Buat aku ini nggak gampang," kata Jovan.
__ADS_1
"Kalau kamu sudah memutuskan untuk bantu, datang besok ke kantor. Aku, Junius, dan Pak Haryo akan mengusut lebih dalam lagi. Tuh, di laptopku di dalem tas buka aja. Biar kamu tahu sendiri seberapa besar masalahnya. Di folder Kusuma Group drive E kamu akan temukan semua ringkasan laporan yang sudah kubuat sama Junius sejak kemarin," kata Jevan sambil menunjuk tasnya yang tergeletak di atas kursi.
Jovan dengan langkah ragu-ragu berjalan mendekati tas merah milik Jevan. Dia mengenggamnya tapi tidak kunjung membukanya. Jevan yang tidak sabar akhirnya membuka tasnya dan memberikan laptopnya begitu saja pada Jovan, "Jovan yang kukenal nggak selemah ini. Dia kuat melawan apapun yang menghadang jalannya," kata Jevan sembari menyodorkan laptopnya pada Jovan. Dia kemudian menerimanya dan duduk membuka laptop itu, mencari file yang dimaksud oleh saudara kembarnya tadi untuk mempelajari semua yang dia harus tahu.
***
Jevan dan Junius pergi ke kantor pagi ini. Mereka akan memulai penyelidikan dari masalah yang paling riskan. Masalah sabotase gudang dan penggelapan produk. Jevan sudah melihat dan membandingkan sendiri sebesar apa perbedaan data yang dimiliki oleh perusahaan mereka dengan yang dimiliki oleh produsen penyedia barangnya. Jevan dan Junius terus berusaha mengusut masalah ini dan mencari tahu di mana akarnya. Mereka masih terus mencari siapa gerangan yang memulai masalah ini.
Jevan dan Junius terus berada di balik meja untuk mengusut semua dokumen yang ada. Ketika jam makan siang datang, Pak Haryo mengajak keduanya untuk berhenti sejenak untuk makan siang bersama. Jevan dan Junius menolak, karena mereka berdua tahu jika Rere dan Lia pasti akan mengantarkan makan siang untuk mereka berdua. Pak Haryo dipersilahkan untuk makan siang sementara Jevan dan Junius tetap berada di ruangan Papa.
Tidak lama kemudian seseorang datang. Dia masuk sambil menenteng tas berukuran sedang berisi makan siang untuk Jevan dan Junius. Dialah Jovando. Datang dengan kepercayaan dirinya. Sudah mengenakan jas dan berdasi rapi sama seperti yang selalu dikenakannya selama ini. Kharisma Jovan bahkan mengalahkan kedua adiknya yang sedang duduk di balik meja kerja Papa Jeff.
"Jo kamu beneran mau bantu?" tanya Jevan.
"Kamu bilang ini demi anak istri kan? Aku akan bantu. Demi Monika istriku dan kedua jagoan kecilku apapun akan aku lakukan," kata Jovan kemudian high five dengan Jevan dan Junius.
"Tapi masalahnya, aku curiga kenapa kita kaya diputerin gini Mas?" tanya Junius.
__ADS_1
"Itu masalahnya. Kalau masalahnya nggak bruwet ngapain juga kamu sampe dipanggil kesini. Kurang kerjaan amat minta tolong seorang arsitek untuk nyelesaiin kerjaan kantoran begini, Dek," kata Jevan.
"Kalian yakin kalian sudah berdiri di sisi yang tepat?" tanya Jovan membuat Jevan dan Junius yang hampir bedebat terdiam dan memandang Jovan yang berdiri diam di tempatnya. Keduanya berpikir apa maksud dari ucapan Jovan soal berdiri di sisi yang tepat. Apakah Jovan mencurigai seseorang atau dia sudah mengetahui suatu fakta baru.