
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Rere dan Jevan sudah datang. Hari ini seluruh keluarga Kusuma akan membantu Rere dalam mewujudkan mimpinya yang lain. Sejak semalam tim kerja Rere dan Jevan sudah heboh mengerjakan ini dan itu. Tim kerja Jevan lebih fokus menata kamera, menyesuaikan tempat yang akan mereka pakai untuk pemotretan sedangkan tim kerja Rere lebih fokus mengurus kostum dan make up.
Rere dan Jevan sudah ada di lokasi sejak selesai subuh. Jika Rere sebagai penanggung jawab, maka Jevan berperan sebagai seorang suami yang setia dan mendukung langkah istrinya.Begitu sampai di lokasi Jevan menuju ke studio sedangkan Rere masuk ke ruang wardrobe dan bergabung dengan yang lainnya.
"Mbak ini teknis kerja hari ini," kata Hanna sembari memberikan beberapa lembar berisi petunjuk teknis dan segala sesuatu yang harus Rere tahu karena hari ini dia dan Jevan yang akan memimpin jalannya pemotretan.
"Han, ini sarapan sudah sampai. Pastikan anak-anak dapat semua dan sarapan semua ya. Itu tim dari mas Jev juga dikasih sekalian," kata Rere.
"Baik Mbak," kata Rere.
Rere kemudian duduk di salah satu kursinya. Dia lebih dulu menarik nafas panjang beberapa kali sembari memejamkan matanya. Kedua tangannya dia pakai mengelus perutnya yang sudah sangat besar. Dia tersenyum ketika putranya di dalam sana merespon ibunya dengan memberikan tendangan halus, "nak, Mama hari ini ada pekerjaan. Anak pinter bantuin Mama ya, Mama janji besok seharian kita akan istirahat," kata Rere.
"Papa juga janji, nanti malam akan manjain kamu sama Mama," kata Jevan yang ternyata berdiri di ambang pintu.
"Mas Jev...."
Jevan lebih dulu tersenyum sebelum melangkah mendekati Rere kemudian berlutut di hadapannya. Kedua tangannya dia letakkan di perut Rere kemudian dia tidak lupa mencium perutnya seolah putranya langsung yang dia sayang, "jagoan, nanti malam Papa akan pijitin Mama biar kamu juga bisa ikut tidur dengan nyenyak tapi seharian ini kamu harus semangat ya. Percaya deh sama Papa, nikmatnya kemenangan setelah sebuah peperangan itu tiada duanya," kata Jevan.
"Mas juga semangat ya. Terima kasih udah bantu aku," kata Rere.
"Sama-sama sayang. Sudah jadi kewajibanku untuk selalu mendukungmu," kata Jevan.
__ADS_1
"Sana kamu duduk sana biar aku yang menata rambutmu," kata Rere diangguki oleh Jevan.
Rere kemudian berdiri di hadapan Jevan yang sudah duduk di depan sebuah kaca besar. Rere menyalakan lampu yang mengitari cermin itu kemudian mulai membuka box make up yang dibawa oleh timnya. Walaupun laki-laki tapi tetap saja, tanda-tanda perjuangan keras membuat wajah Jevan tidak sehalus dan selembut sebelumnya. Ada jerawat di beberapa tempat dan untuk sebuah pemotretan hal itu akan sangat menganggu jadi mereka perlu diperhalus demi mendapatkan hasil foto yang maksimal.
Ketika tatanan rambut Jevan selesai separuh, Jovan dan keluarganya sampai disusul Junius yang datang seorang diri. Kedua model itu langsung duduk dan didandani oleh Hanna dan Doni sedangkan Monika membantu Rere untuk melakukan ini dan itu.
"Mon, nanti di akhir pemotretan kita foto keluarga sekalian ya. Mumpung sudah kumpul semua kan," kata Rere.
"Terus Papa sama Mama?"
"Nanti dijemput sama Cedar. Kita belum pernah foto keluarga lagi sejak anak-anak lahir. Mumpung bisa kumpul semua kita foto keluarga dulu ya. Karena kita juga nggak tahu kan setelah ini kapan lagi kita bisa berkumpul," kata Rere diangguki oleh Monika.
"Oiya Re, Mama minta tolong buat nyiapin tempat makan siang. Nanti makannya sampai jam 11," kata Monika.
Setelah Monika datang Rere banyak terbantu. Dia jadi bergerak lebih leluasa. Rere lebih dulu memantau stuido fotonya dan memastikan tim kerja Jevan sudah siap bekerja sekarang. Rere sedang bercengkerama dengan Cedar ketika seseorang melangkah masuk ke dalam studio dengan langkah tegap membuat semua orang yang melihatnya menganga tidak percaya.
"Nanti setelah selesai semua tolong Kusuma Family difotokan ya Dar terutama anak-anak...," kata Rere sudah tidak lagi ditanggapi oleh Cedar.
"Dar...?" tanya Rere.
Cedar terdiam karena terpukau dengan siapa yang baru saja melangkah masuk. Mereka adalah triple J, putra dari Jeffrey Kusuma dan Tiwi istrinya. Mereka bertiga berdandan dengan begitu rapi, memakai pakaian yang begitu aps di tubuh, dan melangkah tegap bak model berjalan di catwalk. Rere yang merasa heran mengikuti kemana arah pandangan Cedar dan menemukan bahwa suami serta kedua iparnya berjalan dengan begitu gagahnya. Dia diam-diam jadi ikut terpukau dibuatnya.
__ADS_1
"Hai Cantik," kata Jevan seperti seseorang yang menggoda perempuan cantik yang lewat di jalanan.
"Dih," jawab Rere. Dia sudah salah tingkah sebenarnya tapi apa iya dia mau memperlihatkannya? Gengsinya lebih tinggi jadi dia berusaha diam menutupi teriakan heboh di dalam hatinya.
"Ya Allah, suaminya lagi ganteng maksimal gini dipuji dikit kek," kata Jevan.
"Ganteng nggak, sok keren iya," kata Rere mulai mengalihkan pandangan. Tidak kuasa dia menatap mata suaminya.
"Ho masa? Satu ruangan sedang memuji dan mengagumi suamimu kamu nggak cemburu?"
"Nggak cemburu, mereka cuma kagum tapi nggak bisa miliki kamu. Tapi aku, kamu itu punyaku sepenuhnya," kata Rere.
"Oh cemburu ternyata," kata Jevan.
Rere yang sudah tertangkap basah berusaha menghindari Jevan. Dia tidak mau saja suaminya itu menjahilinya. Sikap tengil Jevan sedang kambuh dan dari pada dia sensi dia lebih memilih membiarkan Jevan penasaran apakah benar dia cemburu atau tidak.
Bukannya mengejar Rere, Jevan saat ini justru langsung memegang kamera dan melakukan uji coba dengan meminta Junius berdiri di depan kamera. Dia menjepret beberapa kali dan melihat hasilnya apakah sudah sesuai harapan atau belum.
Ketika Jevan sedang mengatur kameranya itu, beberapa kali Rere mendengar jika karyawannya, terutama Doni berjingkrak karena melihat penampakan triple J yang begitu menawan. Jelas hal itu membuat Rere semakin cemburu padahal dia juga yang membuat ide agar suaminya yang menjadi model, dia juga yang membuat design bajunya. Bukan karena tidak puas tapi karena dia terlalu puas dengan hasil kerjanya yang jauh diluar ekspektasi.
"Hey kalian, yang kalian soraki itu udah pada punya istri. Buntutnya udah banyak," kata Rere pada Doni dan Dwi yang heboh di sudut ruangan.
__ADS_1
"Tapi nggak kelihatan Mbak. Nggak kelihatan seperti kepala 3 masih kaya bujang. Haduh badannya bagus, kulitnya putih bersih, tegap, berotot, hebat banget Mbak Rere kuat hidup sama makhluk Tuhan sekeren mereka bertiga," kata Doni.
Rere hanya bisa geleng-geleng saja mendengar penuturan karyawannya yang satu ini. Mau bagaimanapun Rere memang sengaja merekrut dia dulu karena sikapnya ini. Dia begitu detail dan begitu paham dengan apa yang sedang dia kerjakan walaupun terkadang Rere dibuat tidak habis pikir karena Doni semakin hari semakin terlihat seperti perempuan.