
“Duh kok ibu sih mas, panggil mbak saja. Saya ini masih muda lho, usianya saja belum ada 30 tahun.”
“Eh iya m… mbak, iurannya berapa ya biar saya bayar sekarang saja,” kata Junius sambil bersiap mengeluarkan dompet.
“Iuran 50rb Mas, itu yang iuran rutin ya. Terus kemarin kan Cinta baru punya adik, kita mau belikan kereta bayi jadi tambah iuran lagi 50rb. Totalnya 100rb mas,” kata ibu itu lagi.
"Buset banyak amat," batin Junius.
Yah mau ngedumel seperti apa juga dia hanya bisa pasrah. Untung dia ikut saran Lia untuk mampir ke ATM tadi. Lah ada-ada saja sih. Iuran mingguan sebanyak itu buat apa coba. Bukannya kebutuhan sekolah sudah ter-cover SPP semua ya? Ya sudahlah ketimbang dicap suami pelit Junius membayar semua tagihan Lia bahkan dia membayar iurannya sekalian buat 1 bulan kedepan.
Cuma karena itu ibu-ibu ini kembali heboh. Ada yang mulai memuji dirinya, ada pula yang membandingkan dirinya dengan suami mereka. Aduh pusing, Junius pusing. Sejak kecil dia itu paling malas kalau harus terjebak di antara ibu-ibu begini. Padahal dulu Mama sangat-sangat aktif dan bisa dibilang justru Mama yang menjadi pemimpinnya tapi Junius tetap saja tidak suka. Kalau Junius boleh memilih dia lebih senang diminta mengerjakan blueprint semalaman ketimbang harus meladeni ibu-ibu ini.
Dari arah dalam gerbang instrumen lagu Maju Tak Gentar mulai menggema. Tidak lama kemudian satu per satu siswa mulai keluar dari kelasnya. Tidak butuh waktu lama, ibu-ibu yang mengerumuninya tadi mulai membubarkan diri. Kini hanya tinggal Junius celingak-celinguk mencari kedua anaknya karena dia tidak menemukan di mana Abi maupun Nafiza padahal sudah hampir semua anak keluar dari kelas.
“Mas Junius, itu kelas kecil mas. Kan Abi sudah nol besar. Itu kelasnya yang di ujung,” kata seorang ibu-ibu.
“Ohh, iya Bu. Tapi kok belum ada yang keluar ya?”
__ADS_1
“Ini hari Rabu mas, setelah bel pulang mereka mengaji dulu 15 menit-an lagi baru bubar.”
Astaga naga. Junius Candra harus bertahan di sini 15 menit lagi? Baru dia akan menghela nafasnya lagi untuk yang ke entah berapa kalinya, handphonenya bergetar. Masuk satu notifikasi dari Jevando. Raut wajahnya semakin masam saja menemukan satu emoticon yang dikirim oleh masnya.
Mas Jev tidak mengirimkan pesan apapun. Hanya satu emot berwarna kuning dengan mata terpejam dan lidah melet andalannya. Melihat emoticon itu membaut Junius bisa melihat gambaran wajah kakaknya yang sedang mengejek dirinya memeletkan lidah sembari berkata "kasihan deh lo". Kurang asem memang Jevando Kusuma. Andai dia tidak ingat kalau orang itu adalah kakaknya, dia pasti sudah mendatangi kantor percetakan Jev dan menggebrak pintunya sekuat tenaga seperti yang pernah dilakukan Viona beberapa tahun lalu.
15 menit berlalu dengan sangat-sangat lambat. Nafiza adalah yang pertama kali menampakkan diri. Rambut panjang sebahunya terurai cantik dengan bando berpita biru kesukaannya menghiasi. Setelah itu di belakangnya juga menyusul Abi yang bukannya segera menghampiri ayahnya malah memilih untuk duduk di bangku dekat pohon mangga dan mengeluarkan mainan ultraman miliknya.
“Kak, itu Abi diajakin pulang yuk,” kata Iyus pada Nafiza yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.
“Abi ayo pulang,” teriak Nafiza.
“Mas, ayo pulang. Ayah keburu mau ke kantor lo ini,” kata Junius. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.36 dan dia akan terlambat kalau mereka tidak segera pulang sekarang.
“Ayah tuh kantor mulu yang dipikirin.”
“Abimanyu ayo pulang Mas, kasian Bunda sama dek kembar udah nunggu di rumah lo,” kata Junius lagi barulah anak itu mau berjalan menyusul Nafiza yang sudah lebih dulu duduk manis di dalam mobil.
__ADS_1
Sampai di rumah, Abi langsung berlari masuk disusul Nafiza yang kalem berjalan layaknya seorang putri. Abi melempar tasnya, melepas kaos kakinya sembarang, segera mengganti pakaiannya dan melemparnya ke keranjang pakaian kotor begitu saja langsung menyalakan televisi. Kalau Nafiza dia masih duduk tenang dengan tas yang masih ditenteng.
“Nafiza, tasnya ditaruh aja ya. Tadi Mama Rere bawain baju ganti buat Nafiza juga,” kata Junius.
“Nanti aja om. mau nonton itu dulu,” kata Nafiza sambil menunjuk tv yang menayangkan Pororo And Friends.
“Ya tapi cuci tangan cuci kaki dulu. Itu Abi aja juga udah ganti baju. Sini om bantuin biar cepet,” kata Iyus yang hanya digelengi oleh Nafiza.
Ternyata sesulit-sulitnya dia mengurus Abi, lebih sulit mengurus Nafiza. Walau terkesan diam dan tidak banyak tingkah, tapi anak manis ini menyimpan begitu banyak pemikiran. Persis seperti Papanya sepertinya, dia kalau tidak diseret oleh orang yang tepat ya tidak akan mau jalan. Nyatanya hanya dengan sekali ajakan Abi bisa membuat Nafiza mengganti pakaiannya lalu menyusul duduk di meja makan bersiap makan siang padahal sebelumnya Junius sudah mati-matian berusaha tapi Nafiza tidak bergeming.
Sesudah memastikan keduanya makan dengan tenang ditemani kartun di tv, Junius melangkah masuk ke kamar dan menemukan Lia sedang menyusui Krisna. Kalau Rama sih sudah anteng mainan selimut di sebelah Lia. Sayang dia tidak bisa berlama-lama bermain dengan si kembar karena harus segera berangkat. Malangnya nasib Junius Candra.
12 lewat 10 baru dia berangkat dari rumah. Dia sudah pasrah jika hari ini disemprot lagi sama Mas Reno karena datang terlambat. Toh dia hanya menemani, bukan yang harus presentasi. Dia cukup duduk manis mendengar penjelasan Mas Reno dan mengikuti diskusi panjang bersama client mereka.
Jam makan malam terlewat begitu saja sampai dia tidak sadar sudah duduk di balik meja hampir 8 jam lamanya. Seluruh badannya terasa pegal-pegal. Untung Mas Reno berbaik hati membagi stok koyo cabe nya ke Junius. Setidaknya pinggangnya sedikit terselamatkan.
Mas Reno sudah pulang 30 menit lalu, tapi Junius masih betah saja duduk seorang diri di sana. Ruangan saja sudah gelap, bahkan mas Dar yang bertugas bersih-bersih sudah menyelesaikan pekerjaannya dan pulang. Junius baru ingat untuk pulang setelah Lia meneleponnya. Dia bilang Mbak Rere sudah dijemput oleh Mas Jevan dan dia tidak mau hanya sendirian di rumah. Efek masih parno setelah nonton The Conjuring seminggu lalu. Junius juga curiga jika film itu juga yang membuat Lia sakit, dia sakit karena ketakutan.
__ADS_1
Sampai di rumah Junius tidak bisa langsung istirahat. Dia masih harus menemani Abi mengerjakan PR, memastikan anak itu menata tasnya untuk dibawa besok, membersihkan dapur sisa makan malam, hingga membantu Lia menidurkan Rama yang masih saja rewel.