Ours In Another Story

Ours In Another Story
40. Rere Sakit


__ADS_3

Setelah melewati rapat dan berbagai perundingan, akhirnya Rere dan tim memutuskan untuk memperbarui brand mereka dan untuk memperkenalkannya, Rere harus membuat sebuah gebrakan baru. Dia akan meninggalkan style lamanya dan beralih ke suatu hal yang baru. Hal itu membuat Rere harus berpikir keras bagaimana cara dia menembus pasaran dengan produk barunya.


Beberapa hari Rere lembur, hingga terpaksa menitipkan Nafiza ke kakek neneknya. Mau bagaimana lagi, bukan hanya Rere yang sibuk. Karena projek baru Rere ini melibatkan tim kerja Jevan juga akhirnya mereka jadi harus lembur bersama.


"Ok, untuk tanggalnya fiks ya. Berarti kita ada persiapan sekitar 2 bulan. Tugas Cedar untuk sewa studio. Pake yang biasanya saja, booking untuk 12 jam. Haidar pastikan semua peralatan ya, kamu juga harus komunikasi terus sama timnya mbak Rere soal backround dan pencahayaan yang akan dipakai. Untuk kamera biar aku sendiri yang cari. Timnya Mbak Rere, Hanna bantu urusan design pakaian, Dwi finishing, dan Doni cutting dan make up," kata Jevan.


"Siap bos," jawab kedua pegawai Jevan.


"Maaf nih Mas Jevan, Mbak Rere, model cowok kita mendadak ada acara dalam minggu itu, kalau tanggal dimajukan minggu depan nggak mungkin, dimundurkan semua schedule kita bisa berantakan. Nah, saya punya ide bagaimana kalau kita nggak usah pakai model yang biasanya tapi biar Mas Jevan sama Mas Junius yang jadi model cowoknya?" tanya Hanna.


Seisi ruang rapat langsung heboh. Mereka menyetujui hal itu, mereka bilang sayang jika tubuh tinggi tegap dan wajah tampan Kusuma Family tidak terekspos. Semua orang harus tahu tentang triple J kebanggaan Jeffrey Kusuma itu. Hanya satu orang yang tidak tersenyum di ruangan itu adalah Jevan. Dia yang selama ini memilih untuk diam di bawah permukaan malah diminta untuk melangit. Mana mau dia melakukannya. Jika saja bukan karena istrinya ini memohon dengan memasang wajah manis nan menggemaskan, Jevan tidak akan mau melakukannya.


"Ayolah Mas, kalian bertiga kan pernah modelling dulu."


"Tahu dari mana?!"


"Dari Monik," jawab Rere.


Jevan meremat botol minum kosong yang ada di genggaman tangan kanannya dengan gemas, "Monika....."

__ADS_1


"Ok fiks Mas Jevan mau. Soal Jovan dan Junius biar aku yang atur," kata Rere.


Rere jadi bersemangat entah kenapa. Setelah ide itu terlontar dari Hanna, Rere jadi mendapatkan ide yang lainnya. Dia ingin mempersembahkan sesuatu untuk dikenang di masa depan nanti. Mengajak seluruh keluarga Kusuma dalam projek yang akan dia bawakan dalam fashion week tahun ini. Kebanyakan designer pasti lebih memilih untuk membuat design yang trendy, tapi Rere berpikir untuk membuat sesuatu yang lebih nyaman jika dipakai bersama dengan keluarga. Mungkin jika bisa, dia bukan hanya melibatkan Jovan, Jevan, dan Junius tapi juga melibatkan Monika, Lia, dan anak-anak juga.


"Hanna. Aku mau ngerombak konsep kita," kata Rere.


"Ngerombak gimana mbak?"


"Untuk sampai ke fashion week kan waktunya masih agak lumayan. Aku mau ngajak semua keluarga Kusuma dan membuat konsep yang lebih family oriented. Bagaimana menurutmu? Kita masukkan trend-trend yang baru ke dalam hangatnya kekeluargaan."


"Ide bagus mbak. Kalau boleh aku mau mengajukan beberapa saran," kata Hanna.


"Boleh Han. Boleh banget."


Pagi ini Jevan adalah yang pertama bangun. Tidak biasanya ketika dia terbangun Rere masih tenang di tempatnya. Rere masih tidur dengan posisi memunggunginya. Namun Jevan memaklumi, Rere selalu lembur seminggu ini. Itulah kenapa dia memilih untuk membiarkan cantiknya tidur dan beristirahat lebih lama. Dia hanya berusaha membetulkan posisi selimut dan pakaian Rere yang tergulung naik. Tapi ketika dia menyentuh tubuh istrinya itu dia sadar kalau Rere tidur diselimuti keringat dingin. Dia juga tampak pucat dan tampak menahan sakit.


“Cantik kamu kenapa? Mama?” tanya Jevan yang mulai khawatir akhirnya membangunkan Rere.


Rere tidak menyahut. Dia hanya menggeliat pelan kemudian meraih tangan Jevan dan menggenggamnya.

__ADS_1


“Reva kamu kenapa? Mananya yang sakit, hmm? Kita ke dokter ya?”


“Nggak papa, cuma tiba-tiba aja pusing. Dari kemarin juga sebenernya udah gini kok, cuma ini lebih dari kemarin,” kata Rere.


“Kamu nggak usah kerja dulu ya hari ini, istirahat di rumah,” kata Jevan.


"Rencanaku begitu. Mas, sekalian Nafiza dianter ke sekolah ya. Maaf aku nggak bisa bikinin kamu sama Nafiza sarapan juga."


"Nggak papa Cantik, kamu juga lagi sakit begini. Kamu tunggu sini ya biar aku buatkan teh hangat," kata Jevan diangguki Rere.


Jevan kemudian melangkah keluar dari kamar, memberikan kesempatan untuk Rere istirahat. Jevan beralih ke kamar putrinya untuk membangunkannya. Setelah Nafiza bangun dan melangkah ke kamar mandi, Jevan pergi ke dapur. Dia membuat susu dan menyiapkan sereal untuk Nafiza dan dirinya. Tidak lupa dia juga membuatkan teh hangat untuk Rere. Karena Nafiza agak lama mandinya, dia jadi punya waktu untuk menyuapi Rere juga. Baru beberapa suap, Rere langsung tersentak bangun dan segera melangkah ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya yang sebenarnya sudah kosong.


“Bener kamu nggak papa Ma?” tanya Jevan. Dia menyusul Rere yang masih berdiri di depan wastafel karena mualnya yang tidak tertahankan. Dia membantu dengan memijat tengkuk Rere berharap gejolak diperut istrinya akan membaik.


“Insyaallah. Udah sana Mas mandi aja terus siap-siap. Udah jam berapa ini, Papa masih harus nganter kakak juga lo,” kata Rere.


“Kalau begitu, sarapanmu kutinggal di sini ya, dihabisin dikit-dikit.”


"Iya, Mas. Hati-hati ya. Diusahakan pulangnya jangan terlalu malam. Aku nggak akan sanggup ngurus Nafiza sendirian soalnya," kata Rere sembari mencium tangan Jevan dan menerima pelukan darinya.

__ADS_1


"Mas usahakan pulang sore ya. Atau nanti kalau kerjaan beres cepet setelah jemput Nafiza Mas sekalian pulang," kata Jevan diangguki oleh Rere yang merasakan nyaman di dalam pelukan suaminya.


Jevan dan Nafiza pamit pada Rere yang hanya bisa tidur tanpa mampu melakukan apapun. Dia terus memuntahkan apa yang masuk ke dalam perutnya, membuatnya sama sekali tidak bertenaga. Bahkan ketika dia hanya meminum beberapa teguk susu semuanya tetap saja dia muntahkan setelahnya. Rere berusaha merangkak menuju rak tempatnya menyimpan kotak obatpun percuma karena yang dia cari tidak dia temukan. Alhasil, Rere hanya bisa berusaha tidur agar setidaknya sakit yang dia rasakan tidak menyiksanya.


__ADS_2