
Hari berikutnya, Rere dan Lia ngide untuk kasih privasi ke Monika dan Jovan. Sejak obrolan Jevan dan Jovan semalam, akhirnya Rere tahu kalau sebenarnya Monik belum sepenuhnya memaafkan Jovan atas kejadian di hari ulang tahunnya bulan lalu. Monik juga sempat curhat pada kedua iparnya soal apa yang terjadi padanya dan Jovan. Walaupun Monik berusaha menerima dan memaklumi tapi entah kenapa dia merasa sangat sakit kemarin. Tidak seperti biasanya, dia tidak bisa menerima melihat sendiri Jovan digoda oleh perempuan yang bukan siapa-siapanya.
Mendengar penuturan Jevan membuat Rere berinisiatif. Dulu dia sering kali dibantu oleh Monika. Bahkan bisa dibilang jika bukan karena Monika dan Jovan yang memintanya pulang dan menghadiri pernikahan mereka kala itu mungkin Rere saat ini tidak menikah dengan Jevan kekasih hatinya. Setelah berunding dengan Lia, Rere memutuskan jika sore ini Rere dan Lia akan mengajak anak-anak bermain di Taman Lampion sedangkan Jevan dan Junius bertugas mengompori Jovan agar dia mau mengajak Monik kencan. Hitung-hitung biar keduanya bernostalgia jaman pacaran dulu.
Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya Jovan berhasil. Dia berhasil mengajak istrinya pergi berdua. Katanya Jovan mau mengajak Monik ke Lempuyangan. Tempat mereka berdua suka ngobrol menghabiskan waktu selepas pulang kuliah dulu. Monik sih iya iya saja, lagi pula dia tidak akan menang berdebat kalau sudah Rere dan Lia bekerja sama. Backing-nya Mama Tiwi langsung soalnya. Ya Sudahlah, buat ganti kencannya yang gagal waktu itu tidak ada salahnya juga.
Monik dan Jovan berangkat sejam setelah kepergian yang lainnya. Jujur, Monik masih sengaja menjaga jarak antara dia dan Jovan sejak hari itu. Dia selalu menghindari momen harus berdua saja dengan suaminya. Itulah kenapa selama perjalanannya Monik hanya diam saja. Padahal Jovan sudah dengan niatnya meminjam motor lama Junius agar keduanya bisa romantis berpelukan di jalan. Tapi jangankan pelukan, Monik hanya berpegangan pada ujung jaket Jovan dan tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
Sampai di sana, Monik langsung turun dari motor dan mencari tempat duduk kosong yang terdekat. Setelah memarkir motornya, Jovan melihat penjual siomay yang dulu sering dibelinya masih berjualan membuatnya memesan seporsi dan dua gelas es teh manis baru menyusul Monik untuk duduk. Awalnya mereka hanya sama-sama diam, hingga seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya datang meminta-minta. Monik dan Jovan kompak menyodorkan sejumlah uang pada ibu itu membuat ibu itu tersenyum pada keduanya.
“Terima kasih ya, kalian pasangan yang baik. Semoga langgeng,” kata ibu itu.
“Makasih bu,” kata Monika sambil tersenyum.
Jovan menyeruput es tehnya kemudian kembali diam membuat suasana keduanya jadi semakin canggung. Monik tadinya mau meraih garpu untuk menyuap kentang rebus yang sejak tadi sudah melambai-lambai minta dimakan, tapi tangan keduanya bertemu. Langsung deh Monik menarik tangannya. Jovan kembali meraih garpu lalu meyuapkan sepotong kentang ke mulut Monik. Awalnya Monik ragu mau membuka mulutnya, tapi egonya terkalahkan oleh rasa laparnya. Seketika dia menyesal kenapa tadi dia tidak makan dulu di rumah sebelum berangkat.
__ADS_1
“Bunda, kok diem?” tanya Jovan.
“Ya ayah juga diem kok,” jawab Monik. Setelah itu keduanya sama-sama diam lagi. Monika hanya sibuk memainkan tali tas selempangnya sedangkan Jovan sudah kalang kabut mencari cara untuk membuka pembicaraan.
“Bunda, Ayah minta maaf,” kata Jovan yang gagal mencari topik basa-basi.
“Udah Bunda maafin kok,” kata Monik.
Jovan menghela nafas. Dia jadi ingat bagaimana dia mengacaukan hari ulang tahun Monik bulan lalu. Padahal seumur-umur belum pernah Monik marah hanya karena barang sepele begini. Mau ada yang berusaha memperkosa Jovan saja Monik bisa mengerti, selama kesalahan itu bukan Jovan yang melakukan.
Tangan kanan sibuk memainkan pulpen di atas kertas, mata menatap lurus ke layar komputer dengan tangan kiri yang menggenggam telepon kantor, mulutnya juga tidak berhenti bicara dan terus melontarkan kalimat-kalimat penuh ketegasan. Melihat sekretarisnya melangkah masuk, Jovan mengakhiri pembicaraannya di telepon agar bisa fokus pada apa yang akan disampaikan oleh sekretarisnya. Sekretaris Jovan itu menyerahkan satu bandel map berwarna biru dengan bertuliskan “recruitment” membuat Jovan memijat keningnya.
“Pak Jov, ini ada beberapa kandidat yang akan mengisi kursi kosong yang ditinggalkan oleh Pak Ahmad dari bagian keuangan. Bisa tolong bapak periksa?” kata Sekretaris Jovan.
“Ok, aku periksa nanti. Oiya mumpung ingat, tolong batalkan janji makan malam bersama Pak Jamal. Perasaan nggak enak kalau saya berangkat besok.”
__ADS_1
“Memangnya ada apa Pak? Apakah ada yang tidak beres?”
“Jelas. Menurutmu Pak Jamal yang terkenal sebagai tukang korup itu tiba-tiba mau ketemu dengan saya hanya untuk sekedar makan malam? Jelas tidak. Kudengar anak bungsunya baru kembali dari pendidikan S2 di Sydney. Dia pasti minta di rekrut kesini,” kata Jovan.
“Memangnya ada yang salah Pak? Bukankah bagus jika kita memiliki staf ahli? Orang Indonesia asli pula.”
“Yang nggak bagus adalah dia mengincar kursi kabag keuangan yang saat ini lagi kosong. Kalau ada apa-apa sama kantor saya yang dimintai tanggung jawab pertama kali, saya tidak mau ambil resiko,” kata Jovan. Just Jovan being Jovan dengan segala ketelitian dan kehati-hatiannya ketika bekerja.
“Baik pak kalau begitu. Lalu untuk rapat koordinasi sore ini sudah dibatalkan. Rapatnya akan dilaksanakan lusa dan saya sudah melakukan reschedule. Jadi setelah pekerjaan Bapak selesai Bapak bisa pulang. Jangan lupa Pak, besok hari ulang tahun Ibu,” kata sekretarisnya sambil berbisik di kalimat terakhirnya.
Jovando terdiam sejenak kemudian segera memeriksa desk calendar yang terletak di sudut mejanya. 18 November. Benar besok adalah ulang tahun Monik dan dia bisa-bisanya melupakan tanggal penting itu. Ya walaupun sudah bertahun-tahun mereka berhenti merayakan ulang tahun Monik, tapi dia kan sekali-kali ingin membahagiakan istri juga. Dia merasa sudah terlalu jauh dengan Monik dan anak-anak karena terlalu sibuk bekerja.
“Terima kasih sudah diingatkan,” kata Jovan sambil tersenyum pada sekretarisnya.
“Mau saya bantu belikan kadonya, pak?” tanyanya.
__ADS_1
“Nggak usah, biar saya sendiri saja. Kamu kirimkan saja schedule besok dan lusa biar saya atur sendiri,” kata Jovan.