
Selesai minum, dia meletakkan botol kosong itu begitu saja kemudian meninggalkan Monika yang sedang menyelesaikan kegiatannya. Jevan melangkah mendekati putrinya yang sudah pulas tertidur di kasur yang digelar di ruang tv. Jevan membetulkan posisi selimut kelinci kesukaan Nafiza agar dia tidak kedinginan kemudian Jevan merebahkan diri di samping putrinya yang sudah tertidur pulas, dia melihat bagaimana wajah Nafiza yang begitu damai tidur memeluk boneka kelinci hadiah dari Akung Dirga ketika usianya genap 1 tahun.
Nafiza sempat bergerak gusar namun segera tenang karena mendapat tepukan pelan dari Papanya. Melihat wajah putrinya membuat Jevan teringat dengan pesan dokter padanya tadi. Dokter bilang jika mereka ingin memiliki anak kedua mereka berdua harus siap dengan semua resikonya. Bukan hanya menyiapkan fisiknya saja tetapi juga mental. Bahkan dokter juga menyampaikan skenario terburuknya.
Jevan sebenarnya tidak ingin memaksa, dia memang menginginkannya tapi jika memang Rere tidak sanggup dia juga tidak akan meminta. Jevan pernah mengajak Nafiza ke psikolog karena khawatir dengan perkembangan mental putrinya dan psikolog itu memberikan saran agar Nafiza segera memiliki saudara kandung jadi anak itu bisa belajar bertanggung jawab dan memiliki kepercayaan diri. Jevan menghela nafasnya kasar. Tangan kanannya tidak berhenti menepuk punggung Nafiza yang agak rewel. Sepertinya efek dia tertidur tanpa melihat kedua orang tuanya pulang tadi.
Tidak lama berselang, Nafiza menangis dan membuat Jevan terpaksa menggendongnya menjauh agar tidak membangunkan yang lainnya. Dia berjalan ke teras, menimang Nafiza dengan sepenuh hati agar anak itu kembali tidur. Dia juga membuatkan susu untuk Nafiza yang sepertinya kehausan. Jevan masih memangku putrinya duduk di sofa teras sampai Jovan menyusul duduk di sana sambil membawa sepiring mie instan kuah di tangan kanan dan teh hangat di tangan kiri.
“Udah hampir tengah malem gini kamu makan mie Jo?” tanya Jevan memecah keheningan.
“Hmm, laper nih habis lembur meras otak,” kata Jovan sambil memasukkan sesendok mie ke mulutnya.
Jevan hanya tersenyum kemudian kembali fokus pada Nafiza yang mulai tertidur lagi. Dia masih setia menepuk-nepuk putrinya yang tertidur diselimuti keringat dingin. Sesekali dia mencium kening putrinya agar dia merasa nyaman. Tidak peduli Nafiza sudah besar dan berat, Jevan akan selalu siap sedia untuk menimangnya karena di mata Jevan Nafiza akan tetap menjadi gadis kecilnya sampai kapanpun itu. Jevan agak khawatir pada putrinya karena suhu tubuhnya juga agak naik, tapi beruntung tidak sampai demam.
“Nafiza sakit?” tanya Jovan yang baru saja menyelesaikan acara makannya.
“Kayanya kecapekan main,” jawab Jevan sambil mengelap keringat Nafiza.
__ADS_1
“Belum pernah aku lihat kamu bersikap sesayang ini sama seseorang Je,” kata Jovan.
“Apaan maksudnya? Wajar nggak sih aku sayang sama anak istriku?”
“Halah. Nyesel aku muji,” kata Jovan.
“Tapi beneran lo Je, sesayang itu ya kamu sama Rere sama Nafiza?” tanya Jovan iseng.
“Hmm, lebih dari nyawaku sendiri.”
Lamunan Jevan melayang mengingat seperti apa perjuangan Rere melahirkan dulu. Sudah 3 hari Rere demam. Dia bilang dia kembali dihantui oleh sesuatu. Tapi kali ini bukan dengan sosok ibunya. Dia dihantui oleh kematian Jevan. Dia bilang dia selalu melihat Jevan pergi. Sering terbangun di tengah malam dan menangis dalam tidurnya juga. Pagi itu juga sama, Rere terbangun karena tersentak. Dia melihat Jevan pergi, lagi-lagi. Yang membuatnya khawatir bukan hanya karena Rere mimpi buruk, tapi dia begini karena ketakutannya setelah mendengar diagnosa dokter minggu lalu.
“Mas Jev, jangan pergi…,” kata Rere sembari menangis ketika melihat Jevan akan beranjak dari sisinya.
“Aku nggak akan kemana-mana, aku di sini. Udah jangan nangis Reva,” kata Jevan sambil memeluk erat cantiknya yang masih terus menangis dengan begitu histeris. Lebih dari dua jam mereka bertahan dalam posisi itu. Rere sama sekali tidak memiliki niat untuk melepaskan pelukannya. Dia terlalu ketakutan hingga tak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri. Beruntung Mama Tiwi yang sepertinya mendapatkan firasat buruk datang menjenguk. Mama memasang infus di tangan kiri Rere dan Jevan menutupnya dengan kain, setidaknya Rere tidak akan melihat jarum itu menembus kulitnya.
Jam makan siang sudah lewat, tapi Rere belum bangun dari tidurnya. Bukan hanya Rere tapi Jevan akhirnya ikut sakit juga. Kepalanya terasa pening sejak kemarin. Sepertinya efek dari tidak tidur selama beberapa malam dan pikirannya yang begitu banyak dan mendesak membuat kepalanya berdenyut tidak karuan. Dia mencari kotak P3K yang selalu disimpan oleh Rere di rak meja namun langsung menutupnya kembali karena tidak menemukan apa yang dia cari.
__ADS_1
“Jev, sejak kapan Rere kaya gitu?” tanya Mama.
“3 hari lalu, ini hari keempat,” kata Jevan sambil menjatuhkan dirinya di kursi.
“Ma, serius tanya. Dia bener baik-baik aja atau nggak?” tanya Jevan.
“Kamu udah bawa dia ke dokter?”
“Belum sempat dan belum sanggup. Dia lihat jarum aja bisa histeris apalagi sampai ke rumah sakit Ma?”
"Duh, mana kondisinya dia lagi stres juga. Mama jadi khawatir sama istrimu," kata Mama. Mendengar kata-kata Mama juga membuat Jevan ikut terdiam dan tertunduk karena dia sendiri juga sudah tidak memiliki jalan keluar dari masalahnya ini. Ketika dia bertanya pada Mamanya dia juga tidak mendapatkan apa-apa.
“Jevan…, Jevando…,” Rere berteriak membuat Jevan langsung berlari masuk ke kamar.
Ketika dia masuk, dia menemukan Rere merintih begitu kesakitan. Rere juga ketakutan hingga seluruh tubuhnya tegang dan nafasnya pendek. Beruntung respon Mama cepat, jadi Rere bisa segera di bawa dengan ambulance. Tangan Rere terus menggenggam tangan Jevan, semakin erat dan semakin terasa menyakitkan seiring datangnya rasa sakit yang semakin menyiksanya.
Rere masih terus menggenggam tangan Jevan ketika ambulance yang membawa Rere sampai di depan UGD. Dokter berusaha memeriksanya tapi kesulitan karena Jevan masih ada di sana. Dia tidak mampu melepaskan genggaman tangan istrinya yang begitu erat dan kaku sehingga untuk melepaskannya butuh bantuan dokter yang membantunya. Begitu terlepas, jari Jevan terasa berdenyut dan sangat sakit ketika digerakkan. Tangan Jevan terkilir, akibat genggaman Rere yang terlalu erat membuat Mama Tiwi meminta seorang dokter memeriksanya juga sedangkan Mama ikut memeriksa kondisi Rere yang sempat kejang.
__ADS_1
“Bukankah anda adalah dr. Tiwi?” kata Dokter yang menangani Rere.
“Iya, yang kau periksa ini menantuku. Bagaimana kondisinya?” tanya Tiwi pada dokter yang tengah memeriksa Rere.