Ours In Another Story

Ours In Another Story
25. Gombalan Jevan


__ADS_3

Pagi berikutnya Rere bangun pertama kali. Bahkan ketika sinar matahari belum sempurna menyapa dunia Rere sudah membuka matanya. Disampingnya Jevan masih asik bermimpi melupakan janji mereka semalam. Jevan janji kalau pagi ini mereka mau melihat sunrise di pantai yang ada di dekat hotel mereka. Toh jaraknya tidak jauh, jalan juga sampai. Tapi laki-laki anak satu ini sangat-sangat malas. Sudah diseret-seret masih juga tidak mau bangun.


“Pagi ini batal, jatah nanti malam juga batal,” kata Rere sudah tidak peduli.


Jurus pamungkasnya ini berhasil. Jevando langsung melangkah masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi lalu menyusul Rere yang memilih untuk menunggu di lobby hotel. Keduanya berjalan di tepi pantai tanpa menggunakan alas kaki. Rere masih mengenakan dress tosca dibalut sweater tipis sedangkan Jevan masih setia dengan oblong putih dan training hitamnya, pakaian tidur kesukaan mereka.


Keduanya sengaja berjalan dekat dengan tepi, membasahi kaki mereka dengan hangatnya air pinggir pantai. Suara deru ombak, angin sepoi-sepoi, dan Jevando. Wahh apalagi yang harus Rere minta? Sayangnya Nafiza tidak ada di sini. Jika ada, kebahagiaannya akan sempurna.


“Jev, balik jogja aku mau potong rambut boleh nggak?” tanya Rere setelah beberapa waktu terdiam.


“Ngapain pake tanya? Biasanya juga nggak,” kata Jevan heran.


“Aku mau potong pendek. Ubah gaya rambut, gimana menurutmu?”


“Alasannya? Ma, kamu kan pecinta rambut panjang. Kok tiba-tiba pengen rambut pendek?”


“Nggak tau, tiba-tiba pengen aja. Semalam aku mimpi ketemu Mama, rambutnya pendek sebahu gitu, lurus hitam tebal, cantik banget tahu. Aku pengen juga. Aku ingin bisa secantik Mama,” jawabnya.


“Terserah kamu aja, apapun kondisimu kamu tetap cantik kok. Mau rambut pendek, mau rambut panjang aku tetap sayang. Bahkan kalau kamu botak sekalipun cintaku nggak akan terpengaruh,” kata Jevan sembari mengelus rambut Rere.


“Kamu tuh kenapa sih mas dari kemarin gombal mulu, geli ih. Udah bukan umurnya kita gombal-gombalan gitu,” kata Rere.


“Ya nggak papa sih, sekali-kali bahagiain istri kan nggak salah, istriku sendiri ini. Kalau aku godain istri orang baru kamu boleh marah,” kata Jevan.


“Mas…,” panggil Rere.


“Hmm?” Begitu Jevan menoleh, dia langsung mendapatkan ciuman singkat dari Rere. Tepat di bibirnya. Singkat sih, tapi sukses besar membuat hatinya berdebar kencang. Jarang-jarang si cantik nan pemalu Rere mau mulai lebih dulu begini. Sepertinya ini pertanda baik untuk dirinya.

__ADS_1


Kembalinya dari pantai, jelas yang Rere lakukan adalah mengabsen putrinya tercinta. Dia memastikan Nafiza bangun pagi dan berangkat ke sekolahnya tidak kesiangan. Karena kemungkinan Mbak Tiara sibuk, Rere memilih untuk menghubungi Mas Reno.


“Mama, tadi Nafiza dikasih baju baru sama om Haikal. Nafiza pake ke sekolah boleh nggak Ma?” tanya Nafiza yang menyembul dari arah bawah.


“Om Haikal? Kok Nafiza bisa dapet baju dari om Haikal?”


Belum juga Rere bertanya lagi, seseorang merebut handphone Mas Reno dan ternyata dia adalah Haikal Surya, “kembar” beda orang tuanya. Begitu melihat wajah Haikal dari layar datarnya, Rere langsung heboh membuat Jevan yang penasaran ikut masuk dalam panggilan.


“Woy Kal, apa kabar?” tanya Jevan.


“Baik, alhamdulillah. Ciee yang lagi honeymoon, gimana semalem lancar?”


“Jelas dong. Lancar banget pokoknya,” kata Jevan lagi.


“Spill dong spill.”


“Mama, Nafiza belum dijawab tadi. Bajunya boleh Nafiza pake nggak?” Nafiza terlihat naik ke pangkuan Haikal dan memenuhi seluruh kamera dengan wajahnya.


“Boleh cantik, tapi minta tante Tiara cuci dulu bajunya ya? Nanti kalau sudah kering baru Nafiza pake.”


“Nafiza hari ini sekolah sama om mau nggak?” tanya Haikal.


“Mau.”


“Emang kamu tahu sekolahnya Nafiza dimana?”


“Tanya mbak Tiara lah, susah amat.”

__ADS_1


“Terserah, oiya kamu tumben ke Jogja. Sendirian?”


“Nggak. Sama anak-anak sama babonnya juga, lagi pada tidur kayaknya. Pada kecapekan. Aku ada kerjaan di Jogja. Ya sekitar 3-4 harian di sini habis itu balik Jakarta, tadinya mau berangkat sendirian, eh anak-anak ngekor. Agak repot juga sih tapi ya sudah lah sekalian jalan-jalan, mumpung ada waktu tengok saudara-saudara di Jogja sekalian,” jawab Haikal.


"Tidur kaya pindang dong nanti malem," goda Rere.


"Udah lama ini aku nggak tidur kaya pindang. Jaman kita sering kaya gitu kan," kata Haikal diangguki oleh Rere.


“Kalo mau tidur di rumahku juga boleh. Kuncinya di mbak Tiara Kal. Pake aja, mobil juga di garasi nganggur. Tapi gue balik bensin penuh ya,” tawar Jevan.


“Boleh nih bener?”


“Boleh kalo kamu mau,” jawab Rere.


“Serius?”


“Duarius,” Jevan dan Rere kompak menjawab.


“Nggak usah sok kompak. Ya nanti deh, coba aku tanya ke Mamanya Rendy mau di sana apa di sini aja.”


“Gue rekomendasiin lo nginep tempat gue aja Kal, asli. Biar rumah nggak kosong kelamaan.”


“Thanks ya bro. Yaudah sana lanjutin honeymoonnya, gue mau nganter anak lo ke sekolah. Bye ya..,” kata Haikal mengakhiri panggilan.


Fiks mood Rere sempurna. Asal Jevan bisa menjaga mood Rere, dia bisa menang banyak malam ini. Sudah lama juga tidak melihat senyum cerah cerianya Rere yang tanpa beban begini. Hari ini pak Purnomo membawa mereka jalan-jalan di Bedugul. Mulai dari kebun Raya, sampai ke danaunya. Sedikit berbeda dari hari yang kemarin, hari ini Jevan benar-benar memanfaatkan pak Purnomo untuk foto “pre wedding”.


Anak sudah besar tapi masih sok-sokan pre-wed, memang hanya Jevando yang bisa. Tapi ya tidak masalah, toh ketika menikah dulu mereka memang tidak foto pre wedding. Pre-wed sih, di rooftop kantor, dengan Cedar sebagai fotografernya, dan Hanna wardrobe nya. Bukan karena mereka tidak mampu ya, tapi karena pernikahan mereka yang serba dadakan waktu itu. Bisa melangsungkan pernikahan dengan sukses dan lancar saja sudah amat sangat Jevan syukuri. Dia hampir kehilangan cantiknya kala itu, namun semesta masih memberinya kesempatan itulah kenapa Jevan tidak pernah lupa untuk selalu memuliakan istrinya. Pantang untuk Jevan membuat Rere sakit. Pantang untuknya membuat Rere kecewa apalagi marah padanya.

__ADS_1


Selesai dengan pre-wedding itu, Rere dan Jevan bersantai di pinggir danau sembari menikmati pemandangan. Rere melihat ada penjual ice cream tidak jauh dari mereka dan melihat seorang anak kecil membelinya membuat Rere juga ingin makan ice cream juga. Sayangnya, ketika Rere meminta ice cream pada suaminya dia tidak memberi. Jevan justru menggodanya dan hanya tertawa ketika Rere merajuk. mau nekat beli sendiri juga bagaimana, dompet Rere ada di dalam tas yang di bawa Jevan dan laki-laki itu tidak memberikannya pada Rere.


__ADS_2